WAISAI - Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Raja Ampat, menggelar aksi demo damai di halaman kantor DPRD Kabupaten Raja Ampat, Senin (6/8). Aksi mahasiswa yang tergabung Forum Solidaritas Mahasiswa Peduli Raja Ampat, mempertanyakan pelaksanaan pembangunan kantor DPRD Raja Ampat yang sampai saat ini belum terealisasi pembangunannya. Aksi demo yang berlangsung mulai pukul 9.30 WIT, mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian Polres Raja Ampat dan Satpol PP.

Pantauan Radar Sorong, belasan massa mahasiswa dalam orasinya mempertanyakan kantor DPRD Raja Ampat yang sampai sudah 3 periode ini tak kunjung terwujud   pembangunannya. Dalam orasinya, mahasiswa meminta penjelasan dari anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat untuk menjelaskan mengapa sampai dengan saat ini proses pembangunan kantor tersebut tak selesai juga dliaksanakan.

Massa juga sangat menyayangkan karena sampai saat ini anggota DPRD Raja Ampat masih menggunakan kantor Distrik Waisai Kota. Akibatnya, dalam melaksanakan tugas-tugasnya harus berbagai ruangan dengan pegawai Distrik Waisai Kota.

Padahal menurut mahasiswa, di tahun 2016 lalu mereka sudah pernah mempertanyakan persoalan ini dengan melakukan dialog dengan para anggota DPRD Raja Ampat. Pada saat itu, para anggota DPRD mengakui bahwa pembangunan kantor DPRD sudah dianggarkan dalam APBD namun pada kenyataannya sampai dengan 2 tahun berjalan ini tidak juga dilakukan pembangunannya.  “Katanya sudah dilakukan pematangan lahan, pematangan dimana, masa sampai saat ini bangunannya juga tidak ada,” tukas orator aksi demo.

Massa mahasiswa juga mempertanyakan realisasi visi dan misi pemerintah daerah, salah satunya berkaitan dengan pergantian PLTD yang saat ini telah dikelola  PLN, namun realita yang terjadi masih tetap saja terjadi mati lampu di Waisai. Selain itu, juga mempertanyakan pembangunan asrama mahasiswa Raja Ampat yang  menurut massa, belum dilaksanakan secara maksimal sampai saat ini.

Aksi demo berlangsung sampai pukul 13.00 WIT, sempat diwarnai aksi protes warga terhadap para mahasiswa yang menggelar demo. Namun aksi  keributan tersebut tidak berlangsung lama karena dicegah aparat pengamanan dari Polres Raja Ampat yang melerai kedua kubu dan mempersilahkan para mahasiswa untuk kembali berorasi.

Salah satu peserta aksi sempat diamankan oleh petugas kepolisian namun setelah beberapa saat dilepas kembali. Massa yang meminta untuk menghadirkan pimpinan DPRD Raja Ampat guna menjawab aspirasi tersebut tidak mau membubarkan diri sebelum bertemu dengan unsur pimpinan dewan.

Koordinator aksi, Jack Mambrasar kepada wartawan mengatakan, aksi yang dilakukan ini dikarenakan sampai dengan saat ini juga tidak penjelasan yang resmi dari pimpinan DPRD terkait persoalan yang dipertanyakan yaitu berkaitan dengan proses pembangunan kantor DPRD Raja Ampat,. Ia sangat menyayangkan tidak  ada unsur pimpinan dewan yang hadir untuk mendengar dan menerima aspirasi yang disampaikkan. “Hari ini pimpinan dewan tidak ada, dan aksi ini akan kami lakukan terus menerus sampai pimpinan dewan bisa memberikan penjelasan terkait apa yang kami pertanyakan, karena sampai dengan saat ini kantor DPRD itu tidak ada pembangunannya padahal katanya sudah dianggarkan. Aksi ini akan kami lakukan setiap hari sampai kami mendapatkan jawaban atas apa yang kami pertanyakan,” tegas Jack Mambrasar.

Sekertaris aksi, Muhammad Lubis menambahkan, aksi yang dilakukan pihaknya ini bukan hanya mempertanyakan kantor DPRD Raja Ampat namun juga mempertanyakan pembangunan beberapa asrama mahasiswa Raja Ampat di beberapa daerah yang tidak jelas statusnya. Seperti halnya asrama mahasiswa Raja Ampat yang ada di Manado, asrama mahasiswa Raja Ampat di Sorong. Dalam aksinya, massa mahasiswa juga membawa pamphlet bertuliskan pembangunan kantor DPRD  yang tidak jelas, serta mempertanyakan tentang kinerja para wakil rakyat tersebut. Aksi demo damai ini berakhir sekitar pukul 13.00 WIT setelah massa menyerahkan aspirasi kepada anggota dewan yang hadir yakni  H. Abbas Umlati, Ismail Saraka dan Sem Sauyai. (riz)


Kategori : Berita Utama

Komentar