AIMAS – Wakil Bupati Sorong, Suka Harjono S.Sos,.M.Si mengharapkan sinergitas seluruh pihak dalam mensukseskan pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) secara nasional di Kabupaten Sorong, pada tanggal 3 Oktober 2018 mendatang. Hal tersebut, dimulai dengan Sosialisasi dan persiapan yang dilakukan di Kantor Bappeda Kabupaten Sorong (Kabsor), kemarin (3/8). 
  Pencanangan Belkaga secara Nasional di tahun 2018 merupakan yang ke empat kalinya sejak tahun 2015 lalu. Dimana, nantinya akan dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, Gubernur Provinsi Papua Barat dan seluruh bupati dan walikota di Provinsi Papua Barat, yang dengan serentak bersama dengan masyarakat melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) bersama dengan masyarakat yang hadir. 
  Seperti yang disampaikan Kasubdit Filariasis dan Kecacingan, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian. Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (Dit.P2PTVZ) Dirjen P2P Kemenkes RI, Lita Renata Sianipar, upaya yang dilakukan guna menghentikan penebaran Filariasis telah dilakukan sejak tahun 1975, hanya saja belum difokuskan, sehingga masih ditemui beberapa kasus Filariasis hingga sekarang. 
  Di Indonesia sendiri, tercatat masih ada sebanyak 12.000 kasus per tahun 2017. Untuk itu, Kemenkes sejak tahun 2015 telah membuat program POPM yang dilaksanakan selama 5 tahun, hingga tahun 2020. Hal tersebut dilakukan karena dampak yang ditimbulkan dari Filariasis tersebut, dimana, dapat menimbulkan cacat permanen bagi orang yang terkena. “Filariasis ini dapat menimbulkan cacat permanen, untuk itu kita perlu mencegah dengan menjalankan program POPM hingga 5 tahun,” ucapnya. 
  Kabupaten Sorong sendiri terpilih menjadi wilayah pencanangan Belkaga secara Nasional, dikarenakan Wilayah Papua Barat yang masih terdapat 12 daerah dari 13 kabupaten/kota yang endemis kaki gajah, salah satunya Kabupaten Sorong. Kabsor sendiri memiliki prestasi yang diraih cukup baik saat menjalankan program-program sebelumnya, seperti penanganan malaria serta berhasil meraih cakupan 65 persen keatas untuk Filariasis tersebut. 
  Untuk itu, Wakil Bupati Sorong menghimbau agar seluruh pihak dapat bersinergi secara baik dan mempersiapkan secara matang pencanangan yang secara Nasional akan dilakukan di Kabupaten Sorong. Hal tersebut, salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah dalam menjalankan program dari pemerintah pusat, guna membebaskan Kabupaten Sorong pada Filariasis. “Program Nasional ini mempunyai nilai positif, karena masih ada beberapa warga yang belum diantisipasi dengan baik,” ucapnya. 
  Untuk diketahui, data Filariasis yang terjadi di Kabupaten Sorong, berada dibeberapa wilayah, seperti di Mega dengan 5 orang kasus, Maudus 2 orang, Malawili 4 orang, Sailolof 2 orang, Klafdalim 1 orang, Klayili 3 orang dan Klabot 1 orang. (nam)


Kategori : Nasional

Komentar