KAIMANA-Berdasarkan LKPJ Bupati beberapa waktu lalu, disebutkan masih ada murid lulusan SD yang belum lancar menulis dan membaca, walau siswa bersangkutan sudah dinyatakan lulus Sekolah Dasar (SD). Itu artinya selama mengikuti pendidikan enam tahun di Sekolah Dasar, siswa tersebut tidak bisa menulis dan membaca.
Dalam menaggapi persoalan ini, Ketua DPRD Kaimana, Frans Amerbay, SE, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya pada beberapa waktu lalu mengatakan, proses itu menentukan kualitas. 
“Proses yang baik akan berpengaruh kepada hasil. Tidak mungkin hasil bisa dicapai kalau prosesnya berjalan kurang bagus. Jadi, sebenarnya dari sisi kualitas, itu harus berproses sesuai dengan standar. Untuk bisa mencapai standar, perlu adanya kontribusi dari berbagai pihak, yang salah satunya pihak sekolah. Kita perlu mengetahui proses belajar mengajar di sekolah seperti apa, fasilitas yang tersedia di sekolah seperti apa, kebutuhan guru terpanuhi atau tidak, gurunya mengajar tepat waktu atau tidak dan dalam proses belajar mengajar tersebut gurunya mampu membentuk karakter anak didik atau tidak. Namun semuanya ini tidak terlepas juga dengan peran dan dukungan dari orangtua. Para orangtua juga perlu memberikan kontribusi kepada anak-anaknya,” terangnya.
Lanjut dia, ada tradisi di Tanah Papua, khususnya di Kaimana, kabanyakan orangtua masih acuh terhadap pendidikan anaknya. “Saat orangtua turun mencari ikan atau pergi ke kebun, anak-anaknya juga ikut. Dan orangtuanya tidak memperbolehkan itu. Padahal itu merupakan jam yang seharusnya anaknya tersebut berada di sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Jika ini tetap dibiarkan, bagaimana dengan mutu pendidikan ke depan?” paparnya.
Untuk mengatasi persoalan ini, kata Frans, mestinya harus ada pola yang dibangun, termasuk menyiapkan sarana. Dari sisi jumlah penduduk, proses penyebarannya sangat luas, namun dengan jumlah penduduk yang sedikit. Karena itu perlu berpikir tentang konsep pembangunan manusianya. Tidak mungkin kita membangun sekolah yang lengkap sampai kelas enam, tetapi muridnya hanya sedikit. 
“Langkah tepat yang perlu kita ambil yakni untuk di kampung-kampung yang jumlah anak usia sekolah hanya sedikit, cukup dibangun tiga kelas saja, yakni kelas 1, 2 dan 3. Untuk kelas 4, 5 dan 6, dikonsolidasikan di satu titik, dengan membangun asrama dan akan dibiayai dari dana Otsus. Jika itu sudah dilakukan, maka dibangun SMP di titik tersebut,” tandasnya.
Dikatakan, selama ini penyebaran guru belum merata, sehingga di beberapa sekolah, ada terdapat satu guru yang mengajar di beberapa kelas. Sementara di sekolah lain, ada yang memiliki kelebihan tenaga guru. Karena itu proses penyebaran guru ini perlu diperbaiki.
“Hingga saat ini banyak anak yang lulusan SD tapi tidak tahu baca, ini mungkin disebabkan oleh anak tersebut sering bolos atau juga kemungkinan gurunya tidak pernah mengajar dan karena usia anak tersebut sudah lewat, maka disepakati untuk dinaikan ke kelas berikutnya. Untuk dinas terkait, perlu memperhatikan hal ini. Karena jika ingin meningkatkan kualitas, maka proses ini perlu diperbaiki,” harapnya.(nic)

 


Kategori : Kaimana

Komentar