SORONG – SMP Negeri 5 Kota Sorong yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Km 12 saat ini sedang melakukan renovasi beberapa kelas. Ketua Komite SMP Negeri 5 Kota Sorong, Susana Iwanggi Kafiar mengatakan bahwa sebagai ketua komite maupun orang tua yang anaknya sekolah di SMP 5 merasa takut jika tiba-tiba dalam proses belajar mengajar atap yang sudah rusak terjatuh menimpa anak-anak tersebut.

“Akhirnya kami orang tua pun dengan swadaya sendiri merenovasi gedung-gedung kelas khususnya 3 kelas di kelas VII ini agar ketika anak-anak kami masuk sekolah sudah bisa menempati ruangan yang bagus dan higienis  karena kalau mau menunggu dana BOS lagi lama,” jelasnya.

  Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Kota Sorong, Drs. Andarias Kanan Lallo mengatakan bahwa selama kuramg lebih tujuh tahun ini difokuskan untuk pembangunan di luar gedung yaitu jalan, lapangan-lapangan yang sudah dibangun menggunakan uang dari dana BOS dan dana dari orang tua murid setiap 3 tahun sekali.

  “Sesungguhnya kita memiliki payung hukum yang melibatkan orang tua baik dari UU Pendidikan maupun peraturan pemerintah dan Peraturan Menteri Pendidikan, intinya bahwa sumber dana pendidikan berasal dari pemerintah, masyarakat dan orang yang berkepentingan,” jelasnya kepada Radar Sorong, Kamis (21/6).

  Lanjutnya, ruang-ruang kelas yang ada saat ini memang sudah sangat banyak yang tidak layak digunakan untuk proses belajar mengajar. Sementara ini untuk perenovasian ruang kelas khususnya 3 ruang kelas VII itu dana tersebut bersumber dana yang akan dimintakan sumbangan dari peserta didik yang baru ini.

  “Sedangkan untuk kelas VIII ini dananya bersumber dari Pemerintah Kota Sorong melalui Dinas Pendidikan, saya belum tahu jelas betul sumber dananya apakah dari DAK atau dari Otsus karena belum muncul anggarannya jadi kami menunggu saja,” jelasnya.

  Lallo mengatakan bahwa untuk pendaftaran di SMP Negeri 5 ini hanya menerima 288 peserta didik sesuai dengan aturan dari Menteri Pendidikan kemudian aturan yang diterbitkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan SMP Negeri 5 menggunakan sistem zona sesuai dengan radius dari sekolah tersebut.

  “Jadi kita utamakan yang paling dekat dengan sekolah, seperti zona 1 itu radiusnya/jaraknya 1 Km, zona 2 itu radiusnya 2 Km dari sekolah, tetapi kalau zona 1 peserta didiknya sudah mencukupi yah itu saja,” katanya.

  Lanjutnya, kemudian SMP Negeri 5 menerapkan Otonomi Khusus (Otsus) bagi anak-anak asli Papua, dalam zona selalu diutamakan putra-putri daerah. Kriteria-kriteria tersebut tidak dicantumkan dalam pengumuman hanya saja sudah diterapkan selama ini di SMP Negeri 5.“Kita selalu terapkan 50%-50% untuk putra-putri daerah dan dari luar daerah hanya saja terkadang kami terapkan 60% untuk putra-putri Papua dan 40% untuk putra-putri yang non Papua,”pungkasnya.(cr-50)


Kategori : Metro

Komentar