MASJID Nurul Huda dikenal juga sebagai masjid tiban. Karena seolah-olah tiba-tiba ada di RT 2, RW 3 Dusun Tanjung, Desa Tanjung Puro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, Jatim. Cerita keberadaan Masjid Nurul Huda itu terus terjaga sampai kini. Konon, masjid itu telah ditemukan sejak abad 17.

SUGENG DWI NURCAHYO, Pacitan

MEGAH, Masjid itu kokoh berdiri di perempatan desa setempat. Tiang-tiang beton dengan atap persegi teguh menyangga rumah peribadatan itu sampai sekarang. Di balik kemegahan masjid Nurul Huda, terselip cerita yang dituturkan turun temurun.

Setelah dicermati, ruangan masjid tidak seperti biasanya. Ada empat tiang penyangga dengan jarak masing-masing dua meter, yang dibiarkan terpasang di tengah-tengah ruangan. ‘’Memang dibiarkan sebagaimana aslinya. Tak boleh dipindah-pindah,’’ tutur Suratno, takmir masjid setempat.

Ada bukti kuat yang menegaskan bahwa masjid itu telah berdiri sedari dahulu tanpa diketahui siapa pembuatnya. Yakni, sebuah naskah kuno bertuliskan aksara Jawa kuno. Kendati, entah di mana rimba naskah itu sejak beberapa tahun lalu. ‘’Tak banyak yang bisa membacanya. Dulu, ada yang bisa tetapi hanya sepenggal dan sekarang telah meninggal dunia.’’

Serat kuno yang kali pertama ditemukan 1628 itu ditulis Sunan Geseng (murid Sunan Kalijaga). Dialah ulama yang babat alas di Ngadirojo. Di masa itu, bangunan masjid berukuran 25x1 meter persegi ini masih berplafon anyaman bambu.

Sedangkan atapnya dari ilalang dan berlantai batu bata merah. ‘’Kono, di dalam surat itu menjelaskan bila Sunan Geseng-lah yang membangun masjid sebagai tempat belajar agama,’’ terangnya.

Sejak ditemukan 1628 silam, masjid tiban sudah melewati tiga kali renovasi. Mulai 1976, 1982, serta 2016. Bagian yang masih terjaga keasliannya hanya empat tiang penyangga di tengah ruangan serta bedug.

Keempat tiang penyangga itu berbahan kayu jati. Sedangkan bedugnya menggunakan bahan kayu senggani. Di samping itu juga ada peralatan untuk membuat masjid seperti serut, tatah, siku pengukur serta alat tukang lainya yang kini masih tersimpan aman.

Tak ada satupun yang berani ngutak-ngatik benda-benda bersejarah itu. ‘’Disimpan di peti lalu diletakkan diplafon. Ada dua peti, satu berisi buku tapi gak bisa dibuka,” jelasnya.

Sejarah unik masjid tiban cukup mengundang penasaran banyak orang. Banyak jemaah dari berbagai daerah di tanah air yang telah iktikaf di masjid kuno ini. Tak sedikit pula sejarawan tergelitik meneliti awal pendirian masjid ini.

‘’Kemarin baru saja ada jamaah dari Sumatera. Dia penasaran setelah mendengar penuturan dari ayahnya yang lebih dulu pernah berkunjung ke sini,’’ urainya. ***(fin)


Kategori : Features

Komentar