DIREKTUR Eksekutif Indonesia Neuroscience Institute dr Adhi Wibowo Nurhidayat SpKj mengatakan, candu nikotin, zat yang terkandung di dalam rokok, berada setelah heroin dan kokain. Itu yang tidak banyak diketahui masyarakat sehingga tidak dianggap berbahaya.

Menurut ahli dokter jiwa di RSJ Soeharto Heerdjan tersebut, nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki tingkat kecanduan nomor tiga setelah putau dan kokain. “Karena memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi, perlu niat yang tinggi bagi seseorang pecandu rokok untuk berhenti merokok, dan puasa dapat menjadi momentum spiritual setiap individu untuk menghentikan ketergantungan terhadap rokok,” jelas dr Adhi di Jakarta, Rabu (30/5).

Menurut dia, narkoba terdiri atas dua jenis, yaitu yang legal dan ilegal. Meskipun legal, tetap saja disebut narkoba, termasuk rokok. ’’Masalahnya banyak masyarakat yang tidak tahu kalau rokok termasuk narkoba sehingga perilaku merokok dianggap normal,’’ tuturnya.

Karena memiliki tingkat kecanduan yang tinggi, Adhi mengatakan perlu niat yang tinggi bagi seorang pecandu rokok untuk berhenti merokok. ’’Puasa dapat menjadi momentum spiritual setiap pribadi untuk menghentikan ketergantungan terhadap rokok,’’ katanya.

Dia mengungkapkan, sudah sering kita mendengar bahwa betapa pun sulitnya berhenti, para perokok terbukti mampu berhenti merokok selama puasa dijalankan. Namun sayangnya, puasa tanpa rokok tidak berlanjut sampai setelah puasa. ’’Dengan demikian, niat saja tidak dapat menjamin akan membantu perokok berhenti merokok, meskipun niat adalah kunci awal proses tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas penduduk di Indonesia melakukan ibadah puasa, tetapi upaya berhenti merokok membutuhkan intervensi kebijakan sehingga perilaku masyarakat ini memperoleh dukungan,’’ tukasnya.

Sementara itu, Dr. Anwar Abbas, Pengurus Pusat Muhammadiyah juga menegaskan, merokok bertentangan dengan dalil-dalil dalam Islam, di antaranya mengharamkan segala yang buruk, larangan menjatuhkan diri pada kebinasaan dan perbuatan bunuh diri, larangan berbuat mubazir, dan larangan menimbulkan mudarat atau bahaya pada diri sendiri dan orang lain. ’’Itulah kenapa PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram pada rokok agar umat Islam menjauhkan diri dari rokok,’’ tandasnya.

Konsumsi rokok yang tinggi ini sudah tidak bisa diremehkan lagi. Konsumsi rokok yang sangat tinggi menjadi beban ekonomi, baik secara perseorangan maupun secara kumulatif kerugian ekonomi makro negara. Kerugian ekonomi secara perorangan pada perokok sendiri biasanya tidak terlalu disadari, padahal biaya untuk beli rokok jika ditotal setiap tahun pada seorang perokok aktif bisa sangat besar, yaitu sekitar Rp6.339.320 per tahun untuk harga rokok rata-rata di Indonesia 17.368 (Centers for Disease Control and Prevention). Sementara itu, secara total, kerugian makro ekonomi akibat konsumsi rokok di Indonesia pada 2015 mencapai hampir Rp 600 triliun atau empat kali lipat lebih dari jumlah cukai rokok pada tahun yang sama. Kerugian ini meningkat 63 persen dibanding kerugian dua tahun sebelumnya.

Data dari BPS (2018) mendukung pernyataan ini dengan ditemukannya rokok sebagai komoditas kedua yang berkontribusi terhadap kemiskinan baik di perkotaan maupun pedesaan.

Salah satu perokok yang berhasil berhenti merokok adalah aktor Fuad Baradja. Pemeran ajah dalam sinetron Jin dan Jun ini juga membuka klinik berhenti merokok yang sudah ia lakoni sejak tahun 1998 lalu. Dalam klinik tersebut ia melakukan terapi yang disebut dengan SEFT atau Spiritual Emotional Freedom Technique. ’’Metodenya dari Amerika. Satu metode untuk menyelesaikan begitu banyak masalah, fisik maupun psikis. Jadi nggak hanya untuk rokok, rokok itu hanya satu dari sekian ratus hal yang bisa diselesaikan, misal dari mulai fobia, trauma,’’ kata Fuad.

Fuad menjelaskan metode SEFT yang ia lakukan adalah dengan ditotok-totok menggunakan tangan di wajah dalam waktu 5-10 menit. Ia mengklaim setelah itu para perokok akan merasakan rasa pahit yang amat sangat saat mencoba merokok. (dew)

 

DAMPAK EKONOMI ROKOK :

 

1. Jika Anda tidak merokok bisa berhemat hingga Rp 6.339.320,- dengan asumsi harga rokok rata-rata Rp 17. 368,-

2. Kerugian makro ekonomi akibat konsumsi rokok di Indonesia pada 2015 mencapai hampir Rp 600 triliun atau empat kali lipat lebih dari jumlah cukai rokok pada tahun yang sama.

3. Kerugian meningkat 63 persen dibanding kerugian dua tahun sebelumnya.

4. Data dari BPS (2018) ditemukannya rokok sebagai komoditas kedua yang berkontribusi terhadap kemiskinan baik di perkotaan maupun pedesaan.

 

CARA TERBEBAS DARI KECANDUAN ROKOK :

 

1. Melakukan terapi yang disebut dengan SEFT atau Spiritual Emotional Freedom Technique (ditotok-totok menggunakan tangan di wajah dalam waktu 5-10 menit).

2. Para perokok akan merasakan rasa pahit yang amat sangat saat mencoba merokok kembali.

3.  Memperhatikan kesehatan diri dan keluarga (anak-anak) di sekeliling kita.


Kategori : Features

Komentar