Nanam Ali Mochtar Ngabalin kini tenar dan menjadi sosok yang sering diperbincangkan di media dan kalangan elit politik, karena diangkat jadi staf khusus Presiden RI ke-7 Joko Widodo selaku juru bicara pemerintah. Bagaimana kisah perjalanan mubaligh kelahiran Fakfak ini, berikut tulisannya.

Enrico R. Letsoin - Fakfak

SOSOK Ali Mochtar Ngabalin kini menjadi tranding topik di berbagai media nasional maupun lokal di Papua dan Papua Barat. Namun pastinya lelaki bersorban ini tidak banyak warga masyarakat di Papua dan Pa­pua Barat khususnya di Fakfak yang mengenalnya secara dekat. Padahal sesungguhnya Ali Mochtar Ngabalin, pernah menghabiskan masa kecilnya di Kelurahan Wagom Kabupaten Fakfak.

Ali panggilan akrabnya, lahir di Fakfak pada 25 Desember 1968 dari keluarga sederhana pasangan suami istri H. Hasan Basri Ngabalin (almarhum) dari Danar Kei Maluku Tenggara, dan ibu Hj. Siti Maimunah Paus Paus, wanita asal Arguni Kokas Fakfak.

Hidup di dalam keluarga sederhana dengan bimbingan orang tua H. Hasan Basri Ngabalin yang pegawai di Bangdes (kini BPM) Fakfak, lelaki bersorban yang merupakan anak ke 3 (tiga) dari 8 (delapan) bersaudara,  menyelesaikan pendidikan SD tahun 1980 di SD Inpres Fakfak dan melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Fakfak hingga menyelesaikan studinya pada tahun 1986.

Menyelesaikan sekolah di MTsN Fakfak, Ali melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Fakfak namun sempat patah pena alias tidak selesai, hingga kemudian ia melanjutkan pendidikan di tingkat SMTA di Mualimin Muhammadiyah Makasar.

Semasa mengenyam pendidikan di MTsN dan Madrasah Aliyah Fakfak dibawah asuhan orang tuanya, Ali Mohtar Ngabalin sempat menjadi loper koran dan pengantar kaset video rental kepada pelanggannya.  Sebagai karyawan di toko Andalas Fakfak, Ali Mochtar yang berdarah Kei dari Kampung Danar (Ohoi Danar) Maluku Tenggara, pada masa pendidikannya lihai untuk mencari tambahan uang saku dengan bekerja sebagai loper koran dan pengantar kaset video rental, hingga akhirnya ia hijrah ke Makasar tanpa pengetahuaan orang tuanya.

Adik kandungnya, Amin Ngabalin melihat sosok abangnya sebagai orang yang tegas, humoris, jujur dan humoris,  Amin Ngabalin mengatakan, abangnya hijrah ke Makassar tanpa sepengetahuan orang tua dan saudara-saudaranya pada tahun 1986 ketika mengikuti kegiatan Jambore Nasional, hingga akhirnya menetap di Makasar untuk melanjutkan pendidikan di Mualimin Muhammadiyah Makasar. Setelah itu, melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Alauddin Makasar.

Mantan Politisi PBB yang pernah duduk di senayan sebagai anggota DPR RI periode 2004 – 2019, dan kini hijrah ke Partai Golkar, mempersunting wanita dari suku Bugis bernama Hj. Henny Muis Bakkidu yang telah memberikannya 5 orang putra.

Tak puas dengan sarjana S1-nya, mantan penyiar radio komunitas “Cation Rose” Jakarta itu melanjutkan pendidikan S2 di PPS Ilmu Komunikasi UI, dilanjutkan dengan mengambil program doktor di Universitas Negeri Jakarta.

Ali Mochtar Ngabalin, lelaki berdarah Kei dan Arguni Kokas yang secara lantang meneriakkan kepentingan pembangunan Papua dan Papua Barat, kini harus lebih banyak mengkaunter isu miring yang menyerang kepemimpinan Presiden Joko Widodo karena arah politiknya sekarang sudah berada di lingkaran Presiden Jokowi.

Di mata keluarga, Ali Mochtar merupakan sosok yang berwatak keras namun sangat humoris dan jujur. Menurut Ali Mochtar, politik itu harus dinamis karena politik itu seni dalam mengelola, menata sistem kekuasaan sehingga apapun bisa terjadi dalam politik seperti yang terjadi saat ini ketika pemerintah membutuhkan dirinya masuk dalam lingkaran istana.

Keberadaan Ali Mochtar Ngabalin, di bidang komunikasi politik dibawah kordinasi Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP), tentunya membawa nama baik Fakfak di lingkaran Istana. Menurut Kepala Bappeda dan Litbang Fakfak, Drs. Ali Baham Temongmere,MTP, terkait dengan berbagai tudingan dan analisis kritis berbagai pihak terhadap Ali Mochtar Ngabalin patut diapresiasi, namun apapun kedudukan dan apapun nama jabatan yang diberikan pemerintah kepada Ali Mochtar Ngabalin tidaklah terlalu penting.  Yang terpenting adalah ini merupakan kepercayaan pemerintah yang harus diemban, dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Atas kepercayaan pemerintah yang diberikan kepada Ali Mochtar Ngabalin, sebagai orang Fakfak Papua Barat merasa bangga karena ada putera terbaik Fakfak yang diberikan amanah untuk mengemban tugas mulia ini. “Sukses untuk saudaraku Ali Mochtar Ngabalin, berikanlah yang terbaik ketika ada orang yang meragukan integritasmu,” pesan Kepala Bappeda dan Litbang Fakfak, Drs. Ali Baham Temongmere,MTP. (***)


Kategori : Features

Komentar