PACITAN–Pengusaha tahu dan tempe di Pacitan, Jawa Timur dibayangi ancaman gulung tikar. Itu seiring fluktuasi harga kedelai sejak beberapa bulan terakhir. Untuk menyiasati membengkaknya biaya produksi, sebagian ter- paksa memangkas ukuran produk yang dijual.

Wulan, kepala administrasi salah satu pe- rusahaan tahu di Arjowinangun, mengatakan harga kedelai di Pacitan dari hari ke hari cenderung naik. Tak terkecuali jenis impor, saat ini harganya mencapai Rp. 7.650 per kilogram. Padahal, bulan lalu masih di kisa- ran Rp. 6.000. ‘’Kalau di sini kebutuhannya sampai puluhan sak sehari,’’ tuturnya.

Tak ingin merugi, kata dia, ketebalan tahu terpaksa dikurangi agar biaya produksi dapat ditekan. ‘’Kalau biasanya dijadikan enam, sekarang tujuh,’’ katanya sembari menyebut langkah itu sempat mengundang protes pelanggan dan pengecer.

Ditanya permintaan tahu di bulan puasa, Wulan menyebut justru mengalami penurunan. Tak tanggung-tanggung, penurunannya mencapai 45 persen. ‘’Sangat sepi. Mungkin banyak yang beralih ke menu lain,’’ ujarnya kepada Radar Pacitan.

Meski harga kedelai cenderung naik, kata dia, sejauh ini belum masuk kategori lampu merah bagi keuangan perusahaan. Pun pihak manajemen belum berpikir melakukan pengurangan karyawan. ‘’Mudah-mudahan akhir Ramadan nanti penjualan kembali normal,’’ harapnya.

Langkah mengurangi ukuran juga ditempuh Heruwati, salah seorang perajin tempe. Dia menyebut harga kedelai yang terus melam- bung naik sejak bulan lalu membuat omzet penjualan turun drastis. Di sisi lain, dia enggan menggunakan kedelai lokal lantaran hasilnya tak sebagus jenis impor. (mg6/c1/isd)


Kategori : Nasional

Komentar