MANOKWARI-Asisten 2 Bidang Ekonomi Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Papua Barat, Drs. Jack Sawaki mengkritik pasokan listrik di Manokwari. Sawaki yang saat ini juga menjabat sebagai Plh (Pelaksana Harian) Sekda Prov Papua Barat menilai, listrik di Manokwari “tidak sehat”.

Pernyataan ini disampaikan pada Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Pdelaksanaan Subsidi Listrik Tepat Sasaran yang dihadiri pejabat dari Direktorat Jenderal Bina  Pembangunan Daerah Kemendagri, Kementerian ESDM serta pejabat PLN Pusat dan Kepala PLN Area Manokwari, Sulisiyo.

Sebelum menyampaikan kritik, Asisten 2 menyampaikan permohonaan maaf. “Maaf ya Pak Direktur (PLN). Listrik di Manokwari ini tidak sehat karena sering terjadi pemadaman,” tandasnya pada rapat yang juga dihadiri Kadis ESDM (Energi Sumber Daya Mineral) Prov Papua Barat, John Tulus, kepala Bappeda dan beberapa kepala distrik  Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak.

Sawaki mencontohkan listrik di rumahnya di Kelurahan Amban sering terjadi pemadaman listrik dalam sehari. Akibatnya, ada alat-alat elektronik mengalami kerusakan. “Kalau begini  terus bisa-bisa peralatan elektronik bisa rusak semua,” tandasnya.

Dia meminta kepada PLN untuk melakukan perbaikan. “Ini kondisi terjadi di dalam kita (Manokwari), bagaimana dengan di distrik yang masyarakatnya juga membutuhkan penerangan listrik,” tuturnya.

Kepala PLN Area Manokwari, Sulisiyo, tak membantah kritik Asisten 2 bahwa listrik di Manokwari sempat tidak sehat. Menurut Sulisiyo, pemadaman listrik sering terjadi selama April 2018 sebagai dampak dari terhentinya suplai listrik dari PLTG milik pabrik semen PT SDIC Cement Papua.

“Pernyataan Pak Asisten 2 soal listrik kurang sehat, itu memang benar. Pada bulan April penuh kami melakukan pemadaman bergilir karena ada penghentian sementara suplai listrik dari pabrik semen,” tutur Sulisiyo.

Dikatakan, Sulisiyo, PLN Area Manokwari melakukan kerjasama dengan PT SDIC yang menyuplai 10 Megawatt listrik ke PLN. Namun pada 30 Maret 2018 kontrak dengan PT SIDC berakhir sehingga suplai listrik dihentikan. PT SDIC meminta negosiasi ulang harga listriknya. “Selama satu bulan tidak ada kesepakatan sehingga terjadi pemadaman listrik,” jelasnya.

Listik di Manokwari baru normal kembali pada 30 April setelah ada kesempatan harga antara PT PLN dengan PT SDIC. Dan saat ini listrik sudah normal kembali. “Kami terus berupaya  untuk meningkatkan kapasitas pembangkit sehingga surplus. Walaupun nanti suplai di pabrik semen off, kami sudah punya siap dengan pembangkit sendiri,” ujarnya.(lm)

 


Kategori : Lintas Papua

Komentar