JAKARTA - Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) membantah kabar yang menyebutkan, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu menerima dana sebesar Rp 2 triliun dari Pemerintah Amerika Serikat. Dana sebesar itu disebut-sebut sebagai dana kerjasama antara Amerika dengan PBNU dalam program pemberantasan paham radikal dan terorisme di Indonesia.

Pertemuan antara PBNU dengan Wakil Presiden Amerika Mike Pence, Kamis (17/5) sore, hanyalah pertemuan biasa. "Wapres Mike Pence menyatakan turut berduka untuk para korban. Dan saya bertemu dengan Wapres, (kebetulan) saat saya sedang ada di Amerika," kata Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, kepada INDOPOS, Minggu (20/5) malam.

Menurut KH Yahya Cholil, dalam pertemuan itu, Wakil Presiden  Amerika Serikat Mike Pence menyatakan bela sungkawa atas sejumlah kejadian aksi bom bunuh diri di Indonesia. Tidak ada membahas soal dana Rp2 triliun sebagaimana yang ramai dibahas di media sosial.

Walau demikian, KH Yahya Cholil mengakui, saat pertemuan, Wapres Mike Pence sempat menyampaikan keinginan Pemerintah Amerika ikut dalam upaya Indonesia memerangi terorisme. "Beliau (Wapres Mike Pence) berterimakasih kepada NU dan Indonesia, yang terus berupaya melawan ideologi teror dan radikalisme. Serta keinginan Pemerintah Amerika untuk menggalang kerjasama dengan Indonesia dalam upaya-upaya tersebut (berantas terorisme)," ungkap KH Yahya Cholil. 

Ditambahkan, pertemuan itu berlangsung di Gedung Putih, Kamis (17/5) sekitar pukul 17.00 waktu setempat.  “Pertemuan itu benar adanya, tapi tidak benar kalau soal PBNU terima uang Rp 2 triliun untuk memberantas terorisme  di tanah air. Tidak ada itu," tegas KH Yahya Cholil.  (dil) 


Kategori : Berita Utama

Komentar