INDIHOME
 

FILSUF, pujangga dan sosiolog berbeda pendapat dalam menafsirkan Sa’adah (kebahagiaan) dan dalam menentukan kriteria yang sesuai dengan tata pikir, budaya, lingkungan dan pandangan hidupnya. Namun Al Qur'an mempunyai gambaran tersendiri tentang yang disebut dengan orang yang berbahagia

Dalam Islam ada dua kelompok manusia, yaitu kelompok orang-orang yang bahagia dan kelompok orang-orang yang celaka. Orang-orang yang berbahagia akan dimuliakan Allah dengan dimasukkan ke dalam surga dan mereka kekal di dalamnya. Sedangkan orang-orang yang celaka akan dimasukkan ke dalam neraka dalam keadaan kekal abadi.

Mengapa begitu? Ya, karena kelompok pertama telah melakukan amalan. Oleh karena itu, atas rahmat Allah mereka memperoleh surga. Sedangkan kelompok kedua masuk neraka karena kemurkaan Allah kepada mereka. Dalam ayat lain juga digambarkan tentang orang yang celaka.

Mereka keras kepala sehingga terjauh dari kebahagiaan. Adapun orang yang mendapatkan kebahagiaan adalah orang yang jiwanya tenang dalam menerima dan mengikuti kebenaran. Dengan mengingat Allah hatinya menjadi tentram. "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS. Ar Ra'd: 28-29)

Puasa sebagai sebuah jalan untuk percepatan mendesain kebahagian, sebab disitu semua energi terkumpul untuk mengarahkan manusia mendapatkan kebahagian hidup yang paripurna. Itulah  aspek syariah dan tuntunannya. Bahagia adalah keadaan dan perasaan dalam hati yang penuh keridhaan dan ketenangan. Ini karena perbuatannya terhadap manusia dan pandangannya terhadap segala sesuatu sehingga ia selalu berbuat baik dan menyenangkan dirinya dan orang lain.

Segala amal shaleh dilakukannya dengan penuh keridhaan dan keyakinan. Ini dapat terlihat dalam segala perbuatan dan perkataannya sehingga hatinya selalu merasa senang dan iapun disenangi orang lain. Inilah yang dimaksudkan dengan keridhaan dunia dan akhirat, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW : "Barang siapa mencari ridha Allah, meskipun dibenci orang, niscaya Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia senang kepadanya,”. Dalam satu riwayat dikatakan : dan simpati orang kepadanya mengalir bagaikan air mengalir.  Dan barang siapa mencari keridhaan orang dengan cara yang dibenci Allah, maka Allah akan membencinya dan menjadikan orang lain membencinya

Sedangkan kelompok kedua adalah orang yang celaka, yang dibenci Allah dan dibenci orang lain. Jika sudah begini, adakah kecelakaan yang lebih besar daripada dibenci Allah dan dibenci orang lain? Jika ia dibenci Allah dan manusia, niscaya manusia akan merasa takut (tidak aman) dan berusaha menjauhinya.

Orang yang bahagia hatinya senantiasa tenang dan dadanya lapang. Ia tidak mempunyai rasa dendam dan hal ini sangat mempengaruhi tubuhnya karena rasa gembira dan duka cita itu mempunyai dampak terhadap tubuh. Demikian pula halnya dengan perasaan takut yang mencekam maka akan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi tubuh.

Adapun orang yang bahagia, yang memperoleh ridha Allah karena keimanan kepada-Nya maka hatinya akan merasa tenang dan jiwanya merasa tentram. Malam bagaikan diliputi cahaya dan siang diliputi kegembiraan. Sedangkan bagi orang yang celaka, siang tampak hitam dan malam tampak merah karena sedih dan sakit serta dipenuhi rasa penyesalan. Orang yang demikian akan senantiasa merasa takut dan mencari-cari kesempatan. Jiwanya bergoncang dan hatinya sedih bagaikan api yang saling memakan antara sebagian terhadap sebagiannya karena ia tidak memperoleh cahaya Allah.

Karenanya, carilah sebab-sebab kebahagiaan itu dan berambisilah untuk memperolehnya dengan mengingat nikmat Allah kepadamu dan selalu engkau syukuri dengan melakukan amal saleh. Tunaikanlah kewajiban dan jauhilah hal-hal yang haram, serta berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi dan bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Berambisilah untuk mati sebagai muslim, maka niscaya orang-orang Islam yang lain akan selamat dari lisan dan tanganmu. Jika engkau melewati batas dan bertindak sewenang-wenang, berpaling dari kebenaran, meninggalkan kewajiban dan menempuh jalan kemaksiatan hingga terperdaya dan sombong, maka berarti engkau telah menganiaya diri dan kehidupanmu sendiri, engkau penuhi hatimu dengan penyakit. Na’udzubillahi tsumma Na’udzubillah. (***)


Kategori : Berita Utama

Komentar