KAIMANA-Badan Pengawasan Pemilu kabupaten Kaimana memberikan sorotan dan himbauan kepada KPUD Kabupaten Kaimana, agar tidak lagi menayangkan video mars pemilu, dengan pertimbangan keadilan diantara seluruh partai politik peserta pemilu.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Kaimana, Karolus Kopong Sabon, SE, setelah melihat video mars pemilu yang hanya menayangkan partai-partai lama, pada saat acara sosialisasi dapil yang digelar oleh KPUD Kaimana di Kaimana Beach Hotel beberapa waktu yang lalu.

“Tidak mengurangi rasa hormat kami kepada KPUD Kaimana yang sudah menyiapkan mars pemilu untuk seluruh peserta dalam setiap kegiatan KPU. Tapi kami hanya pertimbangkan dari sisi keadilan saja. Pemilu kali ini juga ada beberapa partai baru, dan partai mereka belum masuk dalam video tersebut. Sehingga kalau bisa, lain waktu, jangan videonya juga ditampilkan. Cukup audionya saja. Sehingga jangan sampai hal-hal kecil seperti ini juga akan berujung ke bawaslu kabupaten Kaimana, karena dilaporkan sebagai pelanggaran. Kami beri himbauan ini, dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada seluruh komisioner KPUD Kaimana,” katanya.

Selain itu, lanjut Sabon, saat ini seluruh partai politik belum diperbolehkan untuk mensosialisasikan partainya, sehingga jangan ada partai yang kemudian menggunakan kesempatan ini untuk mulai bermanuver poilitik untuk memenangkan partai dan calonnya yang akan bertarung pada pileg 2019 mendatang.

“Kita sesuaikan dan ikuti prosedur atau mekanismenya. Hal ini kami maksudkan supaya kita bisa menghindari persoalan-persoalan yang nantinya mungkin akan bisa terjadi, dan bahkan bisa menuju tindakan-tindakan anarkis. Karena sekarang ini sedang panas-panasnya isu pileg dan pilpres 2019,” tegasnya.

Terkait dengan calon yang nanti akan diusung oleh partai politik, Sabon meminta kepada seluruh partai politik untuk tidak lupa dengan variable terkait keterwakilan perempuan. “Ini juga merupakan salah satu hal penting, karena keterwakilan perempuan ini juga bisa menjadi penghambat saat pencalonan. Sehingga dari sekarang sudah mulai dipikirkan keterwakilan perempuan sebanyak 30 persen. Jangan sampai nanti pada saat-saat in juri time, baru kandas gara-gara keterwakilan perempuannya belum mencapai ketentuan,” ujarnya.(nic)


Kategori : Kaimana

Komentar