Kekalahan koalisi Barisan Nasional (BN) yang dipimpin mantan Perdana Menteri (PM) Najib Razak di Malaysia diprediksi akan menjalar ke Indonesia. Hal tersebut ditegaskan pengamat politik Universitas Paramadina Jakarta Hendri Satrio. ”Ya bisa saja hal ini merembet ke Indonesia. Karena RI selaku negara tetangga terdekat yang akan menghadapi Pilpres 2019,” ujarnya kepada INDOPOS di Jakarta, Jumat (11/5).

HENDRI menyatakan, dam- pak kemenangan Mahathir Mohamad akan bisa berpeng- aruh jika media massa, baik mainstream maupun media sosial (medsos) terus ‘meng- goreng’ kemenangan Mahathir melawan Najib, selaku petahana, seperti halnya di Indonesia yang akan melawan Jokowi. Terlebih, kemenangan Maha- thir karena program kampa- nyenya yang akan mengurangi budaya korupsi dan keberadaan tenaga kerja asing, khususnya  dari Tiongkok. ”Ini kan bagi sebagian kalangan dianggap mirip dengan perlawanan partai oposisi (Gerindra dan PKS, Red) terhadap pemerin- tahan Jokowi yang juga dini- lai membiarkan keberadaan TKA Tiongkok,” ujarnya.

Selain itu, kemenangan Ma- hathir yang saat ini berusia 92 tahun itu juga dianggap menjadi sinyal bahwa tokoh gaek tidak kalah dengan tokoh muda. ”Ini kan seperti the power of nostalgia. Orang tua ternyata masih bisa merebut hati mayoritas rakyat Malaysia. Jika hal ini terus digoreng oleh publik Indonesia, bisa jadi tokoh-tokoh lama masih memiliki peluang memimpin negeri ini,” selorohnya me- nambahkan.

Sementara, Politisi PKS yang juga penggagas #2019Ganti- Presiden, Mardani Ali Sera pun mengakui akan menja- dikan kemenangan Mahathir sebagai pembelajaran para partai oposisi untuk meraih kemenangan di Pilpres 2019 nanti untuk menumbangkan petahana Jokowi. ”Ya pastinya banyak hal yang bisa dipetik dari kemenangan Mahathir itu untuk sejumlah partai yang  ingin di Pilpres 2019 ganti presiden baru,” ujarnya ke- pada INDOPOS, Jumat (11/5).

Pembelajaran utama, lanjut Mardani, bagaimana kemen- angan Pakatan Harapan yang merupakan konfederasi atau gabungan (koalisi) dari empat partai di antaranya Democra- tic Action Party (DAP), Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Amanah Negara (PAN), dan Partai Pribumi Bersatu Ma- laysia (PPBM) yang mampu mengedepankan kepenting- an yang lebih besar ketimbang kepentingan suara per partai. ”Yang bisa kita petik, bagai- mana koalisi barisan oposisi di Malaysia itu bisa ditiru koalisi oposisi yang ada di negeri ini. Yakni teorinya se- perti sapu lidi yang jika disa- tukan dapat membawa gelom- bang besar ketimbang jalan sendiri-sendiri,” ucapnya.

Dirinya pun mengibaratkan untuk di Indonesia adalah bersatunya empat partai yak- ni, Gerindra, PKS, Partai Ama- nat Nasional (PAN), dan Par- tai Bulan Bintang (PBB). ”Bagi empat partai, wacana ini sangat layak dilakukan karena ada banyak kesamaan dalam langkah perjuangannya,” ungkap dia.

Kedua, pelajaran pentingnya adalah mahalnya harga se- buah tokoh sentral. Dimana pada PRU (Pilihan Raya Umum) ke-14 pada 2018 ini  muncul tokoh besar bernama Mahathir Mohamad. ”Dan magnetnya adalah Mahathir Mohamad atas tiga alasan yakni, pertama, Mahathir bukanlah salah satu ketua umum partai yang berkoalisi,” ucapnya.

Partai Bersatu yang dididir- kan Mahathir, Ketuanya, Muhyind Yasin. ”Jadi pilihan Mahathir membuat keempat partai nyaman,” ujarnya. Ke- dua, ketokohan Mahathir sebagai Bapak Pembangunan Malaysia tetap kuat. Bagi pen- duduk luar bandar (pedesaan) khususnya, Mahathir meru- pakan Bapak Pembangunan Malaysia. ”Suara pedesaan (rural area, Red) yang selama ini jadi basis BN bisa diambil koalisi PH,” tuturnya.

Lalu, Mahathir selalu ber- suara lugas dan jelas dalam menentang adanya serbuan TKA Tiongkok di Malaysia. ”Serbuan pengusaha Tiongkok yang membawa sentimen ketersinggungan lokal diang- kat dengan lugas dan jelas oleh Mahathir. Dampaknya suara Melayu yang jadi basis BN banyak diambil Pakatan Harapan. Inilah pelajaran yang mahal harganya dari sebuah ketokohan. Dan itu tidak di- bangun dengan wacana, den- gan pencitraan ataupun po- liticking, tapi dengan naiknya secara signifikan kesejahte- raan dan martabat bangsa,” terangnya.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari kemenangan koalisi Pakatan Harapan adalah ke- cerdasan menggunakan me- dia sosial (medsos). Dikarena- kan, koalisi partai oposisi di Malaysia itu tidak mendapat saluran resmi di berbagai media mainstream, maka digunakanlah Facebook live dan seluruh lini medsos baik twitter, instagram dan seba- gainya untuk kanal kampanye. ”Dengan infrastruktur jaring- an internet yang baik strategi ini berjalan dengan sukses. Dan itulah yang juga harus dicontoh oleh kami yang melakukan gerakan #2019GantiPresiden,” tukasnya.

Bahkan, lanjutnya, banyak pengamat mengatakan tagar ini menjadi trend setter dan pendukung Pak Jokowi malah terjebak menjadi follower. ”Karena itu, kemenangan Tun Dr Mahathir mengalahkan petahana dapat menjadi salah satu pelajaran bagi semua relawan Gerakan #2109Ganti- Presiden. So, let’s work as smart and as ikhlas as possible. In- sya Allah, kita bisa lakukan #2019GantiPresiden,” pung- kasnya.

Anggota Komisi III DPR RI mengatakan, Gerindra tidak akan menggunakan isu-isu ekonomi, hutang, dan TKA untuk mengalahkan Jokowi pada Pilpres 2019. Tetapi isu tersebut diyakini akan terus bergulir di masyarakat sampai 2019 nanti. ”Sekarang sembako mahal, gas susah, banyak TKA. Tidak perlu kita kapitalisasi, karena sudah fakta di lapang- an. Partai Gerindra hanya menyerap aspirasi dari masy- arakat,” tutur Riza. 

(dil)


Kategori : Features

Komentar