Tanpa plang penanda di mulut jalan. Siapapun yang datang tak akan pernah tahu bahwa terdapat pemukiman penduduk di atas sana, apalagi menduga bagaimana kehidupan warganya.

FATIH KUDUS JAELANI, Giri Menang

MEMASUKI mulut jalan, pendatang baru pasti dihantui rasa ragu. Jalan se­ lebar kurang lebih satu meter itu meng­ ajak kita seratus persen mendaki. Ter­ jal. Di atas tebing. Juga rimbun pepo­ honan. Pada plang di mulut gang, tertulis petunjuk ke Dusun Kedondong. Lengkap dengan tanda panahnya. Di plang itu juga, tertulis nama desanya, Pusuk Lestari. Dan kecamatannya, Ba­ tu Layar, Lobar. Terakhir adalah keterangan jarak 1.500 meter. Satu setengah kilo dari jalan raya provinsi NTB yang menghubungkan dua kabupaten Lom­ bok Barat dan Lombok Utara.

Warga Dusun Kedondong tak boleh membeli mobil dan memarkir kenda­ raan roda empatnya di halaman rumah mereka. Sebenarnya bukan tidak boleh. Tapi lebih tepatnya tidak bisa. Bagai­ mana bisa. Jalan setapak yang menan­ jak dengan kemiringan super ekstrem sepertinya lebih menyarankan kita untuk berjalan kaki dari pada menan­ cap gas kendaraan roda dua. Belum lagi lebarnya, dan tanpa pembatas pula. “Jangan berkunjung ke sini kalau musim hujan. Bisa celaka!” kata Kadus Kedondong H Abdul Qadir.

Di sepanjang jalan, aroma gula me­ nyeruak. Pohon­pohon aren tumbuh sehat dan setiap hari dipanen. Tapi bila hujan tiba, jalan yang dirabat be­ton seadanyanya akan licin. Qadir mengatakan, jangan datang jika tak mau tergelin­cir. Dusun Kedondong terdi­ ri dari tiga RT, 144 kepala keluarga, dan sebuah masjid. Sehari­hari, warganya hidup dari berkebun dan beternak.

”Seratus persen penduduk merupakan kelahiran Dusun Kedondong,” kata Qadir.

Fakta itu menegaskan beta­ pa ogahnya orang­orang un­ tuk bermukim di atas sana. Satu­satunya alasan adalah jalannya. ”Kita berharap ada pelebaran,” harap Qadir de­ ngan nada yang kecil. Tapi persoalan warga di dusun Kedondong tak hanya jalan. Qadir mengatakan, di dusun­ nya, nyamuk malaria entah kenapa begitu suka beranak pinak di sana. Sampai­sampai, beberapa peneliti dari Jepang pernah datang ke Dusun Ke­ dondong untuk menangkap nyamuk mematikan itu. Di­ tangkap untuk diteliti.

”Makanya, bila malam tiba, mana ada dari kita yang bera­ ni tidur di luar rumah,” kata Qadir. Untuk persoalan itu, pemerintah sudah dua kali melakukan penyemprotan dan juga membagikan warga sebuah kelambu. Tapi tetap saja, han­ tu malaria dianggap belum pergi. Qadir mengatakan, gigi­ tan malaria seperti efek santet mematikan bila mengenai salah seorang warganya.

Meskipun dihantui malaria dan jalan yang terjal, jumlah penduduk di dusun ini sema­ kin hari semakin bertambah. Bukan karena pendatang, tapi pertumbuhan. Karena itu, Qadir berharap, pemerin­ tah bisa memberikan bantu­ an berupa pelebaran jalan. ”Karena mobil tidak bisa ma­ suk, harga bahan bangunan jadi melonjak. Untuk satu sak semen, biaya angkutnya Rp 10 ribu. Hitung saja kalau 50 sak,” kata Qadir. (***)


Kategori : Features

Komentar