SEJUMLAH individu, pegiat Hak Asasi Manusia (HAM), akademisi serta profesi menggelar jumpa pers, di Cafe De Pana, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/4) pekan lalu. Mereka meluncurkan ‘Maklumat Akal Sehat', sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap aksi saling lapor yang semakin marak terjadi di negeri ini.

SUMARNI, Jakarta

Sebelum maklumat dibacakan, aktivis dan advokat Kantor Hukum dan HAM Lokataru Haris Azhar menyesalkan pelaporan Rocky Gerung ke polisi terkait kasus dugaan penodaan agama. Laporan itu mempermasalahkan ucapan Rocky bahwa “kitab suci adalah fiksi” dalam diskusi di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang disiarkan tvOne.  “Kami disini bukan mau main pingpong dengan pelapor tersebut. Malah berterima kasih dengan adanya laporan itu,” ujar Haris saat jumpa pers.

Menurut Haris, pelaporan itu membuka ruang untuk Rocky menjelaskan lebih jauh rangka berfikir bagaimana seharusnya yang diterapkan dalam kehidupan berdiskursus di dunia poliitik. “Munculnya sejumlah orang (pelapor) itu menurut kami gagal paham pada hukum, gagal paham statement, sehingga mencoba untuk melaporkan Rocky Gerung ke polisi,” terang Haris.

Menurut Haris, Rocky Gerung semestinya tidak perlu diadukan ke polisi karena sudah menjelaskan maksud pernyataannya dengan rasional dan memakai argumen akademis.  "Pernyataan Rocky Gerung dalam acara talkshow ILC di TV One terkait makna fiksi itu muncul ketika terjadi perdebatan politik, sehingga Rocky mengeluarkan statement tersebut, dan Rocky menjelaskan itu secara rasional," kata Haris.

Maklumat Akal Sehat sempat dibacakan oleh Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Robertus Robet. Isi maklumat mengkritik tren kriminalisasi terhadap pemikiran dan pendapat di Indonesia yang merupakan negara demokrasi. "Sungguh merupakan keganjilan bila pikiran publik justru dikriminalisasi dan diadili bukan di muka perdebatan publik dan dunia keilmuan, melainkan di muka umum atas tuduhan penyebaran kebencian dan penghinaan terhadap penguasa dan penodaan agama," demikian penggalan isi maklumat tersebut. 

Maklumat yang dibacakan oleh Robet juga menyatakan bahwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, hanya bisa dimulai dengan penghargaan atas pikiran, kritik dan gagasan.  "Kecerdasan adalah habitat terbaik bagi demokrasi dan hanya melalui kecerdasan demokrasi akan bertahan panjang dan lestari," kata Robet saat membacakan maklumat. 

Di sela acara pembacaan maklumat tersebut, Rocky Gerung menegaskan bahwa Indonesia dibangun untuk menumbuhkan intelektualitas dan akal sehat.  "Negeri ini didirikan untuk menumbuhkan intelektualitas. Mendirikan bangsa artinya memperbanyak intelektualitas dan mengembalikan akal sehat," kata Pendiri Setara Institute tersebut. 

Selain Rocky Gerung dan Robertus Robet, di pembacaan maklumat itu juga hadir aktivis HAM Haris Azhar, Sandyawan Sumardi dari komunitas Ciliwung Merdeka, JJ Rizal dari Komunitas Bambu, Algihiffari Aqsa dari LBH Jakarta serta sejumlah aktivis dan akademikus lainnya. 

Rocky Gerung menyebut kasus yang kini menimpanya terkesan norak dan lucu.  “Jika nanti kasus ini tampil di pengadilan, kemudian argumentasinya apa nanti oleh saksi kepada saya? Masa iya terangkan satu kitab tebal soal logika dan fiksi menurut psikologi? Kan ajaib namanya,” ujar Rocky.

Rocky mengaku, maklumat itu diluncurkan sebagai bentuk antisipasi dia bersama rekan-rekannya, agar  dapat memberikan pemahaman dan pengertian kepada para pelapor maupun penyidik. “Jadi fungsi dari maklumat ini memberikan latarbelakang mengapa kasus semacam ini kasus yang norak,” tegasnya.

Bahkan Rocky mengingatkan kepada penegak hukum untuk tidak buang- buang waktu dan tenaga untuk kasus yang menurutnya fiktif. “Agar pelapor, penyidik, maupun penyelidik mengerti bahwa ini adalah kasus yang ajaib. Kan orang mesti hitung apa yang saya asumsikan,” terangnya. (***)


Kategori : Features

Komentar