Marvel Gracia telah menciptakan empat tarian di usia yang masih sebelas tahun berdasar inspirasi dari kegiatan sehari­hari. Setelah berkolaborasi dengan sang ayah di Korsel dan Thailand, Juli nanti diundang sendiri ke Malaysia.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Jakarta

DUA tangan bocah laki­laki itu membentang panjang seperti sayap. Jemarinya seolah siap­siap menceng­ keram mangsa. Kakinya berjing­ kat­jingkat. Dengan mata melotot, dia lalu den­ gan lincah berputar­putar. Melenggok ke kiri dan kanan. Lantas, mengang­ kat salah satu kaki dengan tangan kiri tetap membentang dan tangan kanan ditekuk. Jemari kirinya lalu bergerak ritmis mirip penari Bali.

”Ini bagian dari tari garuda ciptaan saya sendiri,” kata Marvel Gracia, bocah lelaki itu, saat ditemui di Istana Wakil Presiden, Jakarta, kemarin pagi (26/4) . Tari itulah yang jadi salah satu pe­ nyebab bocah kelahiran Solo, Jawa Tengah, 5 November 2006, tersebut 

diundang ke istana. Dia ter­ pilih sebagai penerima Anu­ gerah Nasional Kekayaan Intelektual untuk kategori siswa inovatif dan kreatif di bidang hak cipta dan hak ter­ kait. Wakil Presiden Jusuf Kalla­lah yang langsung me­ nyerahkannya.

Selain tari garuda, di usia yang masih sebelas tahun, Marvel telah pula mencipta­ kan tiga tarian lain. Yang sang­ at khas dan dekat dengan dunianya. Yakni, tari sepeda santai, persahabatan, dan ingin berhujan­hujanan Un­ dangan pentas pun terus mengalir. Mulai Thailand sampai Korea Selatan. Dan, Juli nanti siswa kelas V SD itu ke Malaysia.

Marvel mulai menciptakan tari di usia sembilan tahun. Atau empat tahun setelah dia pentas untuk kali pertama.

Karya pertamanya pada 2015 itu adalah tari persahabatan. Putra bungsu Mugiyono Ka­ sido dan Nuri Aryati tersebut mendapat inspirasi dari per­ temanan dengan sahabat sekelasnya di SD Negeri Pu­ cangan II, Kartasura, Suko­ harjo, yang bernama Jidan.

Gerakannya berupa rang­ kulan, mengajak bermain bersama, hingga pinjam uang. Saat memperagakan bebera­ pa gerakan tari persahabatan itu, Marvel tampak mengom­ binasikannya dengan gerakan seperti tari Bali.

”Karena saya sudah belajar dasar­dasar tari Bali,” ungkap dia. Tarian selama tujuh menit yang bisa dibawakan tiga orang itu pernah dipentaskan saat Internasional Rain Festival di Solo. Selain dari Indonesia, saat itu hadir seniman dari berbagai negara. Di antaranya, Jepang dan Korea Selatan.

Bakat menari Marvel menu­ run dari ayahnya, Mugiyono. Pria kelahiran Klaten, 3 De­ sember 1967, itu juga mewa­ risi darah seni dari orang tu­ anya yang merupakan dalang. Mugiyono sudah malang melintang di dunia seni per­ tunjukan tari. Karya­karyanya dipentaskan di sejumlah fes­ tival internasional. Misalnya, Lincoln Center Festival (Ame­ rika Serikat), Kunsten Festival des Arts (Belgia), Goteborg Festival (Swedia), dan Ade­ laide Festival (Australia).

Juga, di Hong Kong Arts Fes­ tival, In Transit Festival (Jerman), Dancas na Cidade (Portugal), serta Asian Contemporary Dance Now (Jepang). Namanya juga tercetak di Museum Re­ kor­Dunia Indonesia (Muri) sebagai penari Bima Suci ter­ lama selama 36 jam nonstop di TMII Jakarta pada 2011. ”Tapi, yang saya kagum da­ ri Marvel, dia itu berani me­ minta,” ujar Mugi.

Marvel meminta dilibatkan saat Mugi sedang menggarap kolaborasi untuk sebuah per­ tunjukan di Korea Selatan pada 2011. Ketika usianya masih lima tahun.

”Saya akhirnya tanya te­ man­teman dulu karena pe­ nampilan itu tidak boleh sembarangan. Marvel akhir­ nya boleh ikut, tapi harus latihan,” ungkap dia.

Latihan pun digelar dua pe­ kan di Indonesia dan dua pekan di Korea. Mereka ber­ kolaborasi dengan penari Thailand bernama Thitipol Kanteewong dan penari Korea Woo Min­young.

”Saya jadi anak bapak yang dikejar­kejar Buto Ijo, raksa­ sa. Lalu, saya keliling lari,” kata Marvel tentang pentas pertamanya tersebut.

Pada 2016 dia menciptakan karya kedua, ingin berhu­jan­hujanan. Tarian itu diin­ spirasi dari aktivitasnya ber­ sama dua kakak laki­lakinya yang sering main hujan.

Gerakannya riang gembira. Menggambarkan kegembiraan anak kecil yang bermain hujan. ”Saya bikinnya sepekan. Tarian­ nya itu sembilan menit,” katanya.

Sementara itu, tari sepeda santai diciptakan tahun lalu. Sebagaimana dua tarian se­ belumnya, sepeda santai tak lepas dari keseharian Marvel yang doyan main sepeda den­ gan teman­teman sebaya.

”Ada (gerakan) naik sepeda, turun dari sepeda, lalu minum, dan kipas­kipas dengan topi,” ujar Marvel tentang tari yang bisa dimainkan lima orang itu.

Menurut Nuri, sang ibu, bakat menari Marvel sudah terlihat jauh sebelum dia ikut pentas ayahnya di Korsel itu. Suatu hari, di usia yang masih dua tahun, Marvel menari sekitar 15 menit di gang dekat rumah mereka.

Para tetangga pun kagum dengan penampilan itu. ”Pa­ da akhir tarianya itu dia tak lupa memberikan hormat,” kata Nuri.

Marvel yang menyukai tari­ an kontemporer itu juga ikut latihan menari di sekolah. Namun, berkali­kali mengeluh. ”Katanya capek. Tapi, kalau latihan sendiri, sejam dua jam happy aja,” ujar Nuri yang me­ rangkap jadi manajer di Mu­ gidance, sanggar tari yang didirikan sang suami, itu.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan dan daya imaji­ nasi Marvel semakin terasah. Itu tergambar dari tari garuda, karyanya paling mutakhir, yang lebih kompleks secara gerakan dan pesan yang terkandung.

Inspirasinya datang dari pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) tentang kebine­ kaan. Tarianya memadukan gerakan split, kayang, dan handstand.

”Saya melihat gambar burung garuda yang menempel di dinding kelas. Lalu, gambar itu seolah mengajak saya bi­ cara dan dia ingin hidup da­ lam diri saya,” katanya.

Tarian itu dimulai dari pui­ si yang dia ciptakan sendiri dengan judul sama: Garuda. ”Garuda. Impian garuda ter­ bang tinggi di langit Indone­ sia gagah perkasa/sayapmu yang membentang dari Sabang sampai Merauke/Kaulah yang memeluk Bhinneka Tunggal Ika,” katanya membacakan nukilan puisinya.

Gerakan­gerakan tari garu­ da memvisualisasikan puisi itu. Seperti tangan yang mem­ bentang untuk melambangkan terbang. Dan, jemari yang seolah mencengkeram adalah representasi garuda yang me­ meluk Bhinneka Tunggal Ika.

Puisi dengan tarian itu pun mejadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Belum lagi kostum yang serasi den­ gan tema tarian tersebut. ”Saya seperti menari bareng garuda,” ujar Marvel berfilosofi.

Menurut Mugi, Marvel ber­ hasil meraih capaian sejauh ini karena melakukannya dengan sepenuh hati. Karena dia menyukai puisi. Sebagai ayah, Mugi hanya memupuk bakat menari Marvel yang telah muncul. Tanpa paksaan.

”Kalau sebelumnya Marvel saya ajak berkolaborasi, Juli nanti dia diundang sendiri ke Malaysia. Jadi pengajar dan menari garuda,” ungkap Mugi.

Marvel pun sudah bertekad untuk terus meniti jalan tari. Seperti ayahnya. ”Saya ingin pentas keliling dunia, ke Bra­ sil, Amerika, Argentina. Biar kesenian dan budaya Indo­ nesia makin dikenal luas,” katanya. (*/c10/ttg)


Kategori : Features

Komentar