Selama berabad­abad Getap melahirkan alat pertanian, transportasi, sampai senjata tempur. Tapi, tak satu pun yang pernah dipatenkan.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

KAMPUNG itu bernama Getap. Bukan Getape, eh maaf Getafe, klub sepak bola di Spanyol. Di situ tak ada lapangan sepak bo­ la. Dan, itu bukan masalah se­ rius bagi warga setempat. Sebab, sehari­hari hampir semua sibuk bergelut dengan besi. Mulai pagi hingga sore. Bahkan sampai larut malam. 

Dari kampung yang terletak di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, tersebut, dari dekade ke dekade, berbagai karya inova­ si dari besi pun dilahirkan. Tak heran kalau kemudian Getap dijuluki ’’Kampung Jepang’’. Merujuk pada daya kreasi yang adi ciri khas warga Negeri Ma­ tahari Terbit tersebut.

’’Hanya pesawat dan kapal laut yang belum pernah kami buat,’’ kata Muhammad Aiko Zulhimam kepada Lombok Post (Jawa Pos Group).

Aiko adalah satu di antara sekian banyak inovator yang ada di Getap. Hanya dengan modal kemauan keras dan ke­ beranian mencoba, dia dan warga Getap yang lain bisa menciptakan banyak karya.

’’Kreativitas warga Getap ini bermula sejak pemerintahan Anak Agung (Gede Ngurah dari Kerajaan Karangasem),’’ kisah Aiko.

Sejarah mencatat, Pulau Lom­ bok, tempat Mataram berada, dulu pernah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Karang­ asem dari Bali. Sekitar abad ke­17. Persisnya pada 1740.

’’Mereka pun membuat tata letak dan wilayah­wilayah bagian dari Kerajaan Karang­ asem di Lombok. Salah satunya dengan menjadikan Getap sebagai pusat pengolahan besi,’’ tutur alumnus IAIN Mataram tersebut.

Dan, itu bertahan hingga kini. Tanpa ada yang benar­be­ nar menonjol yang menjadi tokoh di balik lahirnya Getap sebagai wilayah kerajian peng­ olahan besi.

Sampai akhirnya, terjadi congah atau pemberontakan dari masyarakat suku Sasak yang menjadi penduduk asli Lombok. Meletuslah pertem­ puran sengit melawan pasukan Karangasem di mana­mana. Meski demikian, Getap tetap menjadi pusat pandai besi.

’’Bahkan, sampai akhirnya Jepang masuk dan memulai penjajahannya di Lombok,’’ jelasnya.

Abdul Muin, ayah Aiko, me­ nambahkan, Jepang melihat potensi Getap menjadi pusat untuk memperkuat cengke­ raman pengaruhnya. Peme­ rintahan kolonial Jepang kemudian banyak meminta masyarakat Getap membuat berbagai jenis alat pertanian. Guna mendukung penguatan dan peningkatan logistik pe­ merintahannya.

’’Termasuk pembuatan alat bajak sawah bergerigi dari besi,’’ tuturnya.

Sebelumnya, masyarakat menggunakan kayu untuk membajak sawah. Tetapi, pe­ merintahan kolonial Jepang meminta masyarakat Getap merancang sebuah alat yang lebih kukuh dari besi untuk membajak sawah.

’’Adalah Papuk (kakek, Red) Samsudin yang akhirnya ber­ hasil menciptakan alat bajak sawah itu,’’ tutur Muin.

Sayang, meski sudah dipa­ tenkan sebagai hasil karya Papuk Samsudin, anak cucunya di kemudian hari tak bisa me­ nunjukkan bukti hak cipta itu. Mereka hanya mewarisi ceri­ta secara turun­temurun. Pemerintah kolonial Jepang juga memobilisasi warga Ge­ tap membuat roda cikar atau cidomo. Kereta kuda yang masih bertahan sampai kini di Mataram.

Dalam kurun waktu bera­tus­ratus tahun sejak masa kerajaan Anak Agung, sudah tak terhitung berbagai pera­ latan yang telah lahir dari tangan­tangan terampil di Getap. Bentuknya pun bera­ gam. Mulai alat pertanian, alat­alat dapur, alat transpor­ tasi, hingga senjata tempur.

Dari masa ke masa, Getap terus menjawab segala kebu­ tuhan yang diinginkan masy­ arakat dari bahan baku besi. ’’Termasuk alat penggelondong emas. Bahkan, sekelas peru­ sahaan (tambang emas) se­ perti Newmont pernah me­ mesan alat di sini,’’ timpal Aiko.

Ya, semua hal yang pernah dibuat dari besi, sepertinya, pernah dibuat di Getap. Ke­ cuali, sebagaimana yang di­ bilang Aiko tadi, pesawat dan kapal laut. Itu pun untuk se­ kelas tangga pesawat sudah pernah pula dibikin di Getap.

’’Namanya H. Awardi, orang yang pernah buat tangga pe­ sawat di sini,’’ tuturnya.

Getap terletak hanya sekitar 5 kilometer dari pusat peme­ rintahan Kota Mataram. Bisa dibilang masih jadi bagian dari jantung ibu kota NTB tersebut. Sebab, Cakranegara, kecamatan tempat Getap be­ rada, menjadi pusat ekonomi Mataram.

Warga penduduk asli Getap, konon, masih memiliki perta­ lian dari Kerajaan Majapahit. Saat beberapa masyarakat Ma­ japahit bermigrasi ke berbagai penjuru negeri, ada yang ber­ gerak ke arah Buleleng, Bali.

Lalu, mereka memilih kem­ bali menyeberang hingga tiba di wilayah Getap. ’’Nenek Moyang kami namanya Arya Pudak,’’ ujar Aiko.

Berbagai karya atau inovasi yang lahir di Getap tidak di­ dasarkan pada proses perhi­ tungan matematika atau eksakta yang rumit. Mereka lebih suka menalar saja alat­ nya seperti apa. Kemudian mulai bekerja.

’’Kalau keliru buat bagiannya, ya ganti lagi. Begitu beru­ lang­ulang sampai akhirnya ketemu bentuk yang pas,’’ tuturnya.

Aiko mencontohkan karya terbarunya berupa insinera­ tor ramah lingkungan. Idenya bermula ketika dia merokok di belakang kipas angin sele­ pas makan siang.

’’Saya kok tiba­tiba tertarik melihat asap rokok yang ter­ tarik oleh kipas angin itu,’’ ujarnya.

Kebetulan, sebelumnya Ba­ litbang Kota Mataram baru saja menantang warga Getap untuk membuat alat yang bisa menangkap sisa pemba­ karan sampah.

’’Tapi, pikiran saya kembali buntu. Sebab, kalau asap itu sudah berhasil ditangkap, berikutnya mau diapain? Saya bingung,’’ ungkap sarjana strata satu lulusan IKIP Ma­ taram itu.

Di waktu lain, Aiko kemba­ li asyik merokok di dekat aku­ arium miliknya. Entah baga­ imana, asap rokoknya terlihat merayap di permukaan air. Matanya lantas tercenung menatap sistem filter air di akuarium.

’’Untungnya balitbang mau mem­back up proyek saya itu. Basic pengetahuan saya eko­ nomi. Saya tidak mengerti hi­ tung­hitungan teknik,’’ katanya.

Jadilah, dalam pembuatan insinerator itu, Aiko beberapa kali membuat bagian dengan ukuran yang salah. Alhasil, dia sampai mengulang 3–4 kali. Memotong pelat berka­ li­kali. Begadang siang malam untuk menalar seperti apa bentuk komponen lainnya agar insinerator itu bisa be­ kerja seperti yang tergambar dalam imajinasinya.

Ada sekitar Rp 30 juta yang dikeluarkan balitbang untuk mendukung riset Aiko itu. ’’Syukurnya, mereka mau sa­ bar dan percaya saya bisa menyelesaikan ini. Dan has­ ilnya, insinerator ramah ling­ kungan itu berhasil saya buat,’’ ujarnya.

Daya kreasi di Getap tak mengenal batas usia. Anak­ anak SMA di sana, misalnya. Getap pernah membuat mi­niatur masjid hidrolik. Ku­ bahnya bisa buka tutup. Men­ aranya pun bisa naik turun jika ada kabel yang harus dilewati. Misalnya, saat diarak pawai dalam takbiran.

Di pojok ’’Kampung Jepang’’ yang lain, ada Zuhdi, seniman pembuat senjata tajam tu­ run­temurun. Kepada Lombok Post (Jawa Pos Group), dia memperlihatkan kreasi ter­ barunya yang terbuat dari baja putih.

Tampak mengkilap meski diterpa cahaya remang­re­ mang. Papuk Zuhdi menama­ kannya ’’Allahu Rabbi’’. Din­ amakan begitu karena di tubuh pedang terdapat ukiran indah bertulisan Allahu Rabbi, Wamuhammadun Nabiyyi.

’’Pedang ini belum jadi,’’ kata Papuk Zuhdi.

Sayang, dari berbagai krea­ si yang pernah dibuat masy­ arakat Getap, tak ada satu pun yang pernah berniat mema­ tenkan karyanya. Itu terjadi karena mereka berprinsip Getap adalah laboratorium besar.

Tempat semua hal bisa di­ coba untuk dibuat. Tapi, saat hasilnya memuaskan, bukan untuk diri sendiri. ’’Termasuk saya saat membuat insinera­ tor yang bebas asap itu, tidak pernah berniat mematenkan­ nya,’’ tegas Aiko.

Menurut dia, dirinya bersama warga Getap lainnya bisa in­ ovatif karena darah ’’kreativi­ tas’’ itu mengalir dari para leluhur. Yang telah mengab­ dikan dirinya bersama lem­ peng­lempeng besi sejak dahulu kala.

Jadilah sedari kecil anak­anak Getap sangat akrab dengan suara desing besi bertalu­talu yang dipukul. ’’Melihat baga­ imana para orang tua mem­ buat berbagai karya dari besi, itu yang akhirnya mendidik kami untuk lebih kreatif meng­ olah berbagai besi,’’ ujarnya.

Prinsip dasar kreativitas mereka adalah bagaimana membuat alat yang bisa ber­ manfaat bagi banyak orang. ’’Asal yang meminta siap da­ na dan bersabar dalam proses, kami siap berkutat secara kreatif. Tanpa batas,’’ tandas Aiko. (*/r5/oni/JPG/c5/tg)


Kategori : Features

Komentar