MANOKWARI-Polisi telah menetapkan 1 tersangka berinisial JK (19 tahun) kasus pengrusakan kantor gubernur Papua Barat dan BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) yang terjadi Jumat pekan lalu. Kapolres Manokwari AKBP. Adam Erwindi mengatakan, tersangka tersebut saat ini ditahan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Tersangka  diamankan bersama 9 lainnya di tempat kejadian, Jumat (6/4). Polisi masih terus mengembangkan sehingga tak menutup kemungkinan ada tersangka lain.“Sudah ada satu tersangka yang sudah kita amankan,”tandasnya kepada Radar Sorong di Kantor Gubernur di sela-sela pengamanan aksi demo mahasiswa, Kamis (12/4).

 Yang mengejutkan, lanjut Kapolres, ternyata JK ini hanya mengaku mahasiswa. Saat ditanyai penyidikan asal perguruan tinggi mana, JK tak bisa menjawab.“Akhirnya kami curiga dan ternyata dia bukan mahasiswa,”tutur Kapolres.

JK mengaku mahasiswa hanya berdasarkan surat pernyataan yang dibuat di suatu tempat untuk melengkapi syarat pengajuan proposal.  Kernyataannya, tersangka tak tamat SD. “Tersangka mengaku mahasiswa padahal tamat SD pun tidak. Dia memalsukan data untuk mengajukan  proposal bantuan pendidikan,”ujar Kapolres.

 JK ikut termonitor di rekaman CCTV yang diperoleh di kantor gubernur.“Dari 10 orang yang kami amankan saat kejadian, 8 di antaranya mengaku mahasiswa dan 2 lainnya masyarakat,”ujar Kapolres.

 Sementara itu pada aksi unjuk rasa menuntut pembayaran proposal bantuan di kantor gubernur, kemarin, mahasiswa mendesak agar satu tersangka yang ditahan polisi segera dibebaskan. Menurut perwakiln massa, kejadian pelemparan kantor gubernur dan BPKAD dilakukan secara spontan setelah dipimpong.“Kami minta  yang ditahan polisi segera dibebaskan,”ujar koordinator aksi.

Sekda Prov Papua Barat Drs Nathaniel Mandacan yang menemui massa menyatakan, dirinya tak bisa mencampuri tugas polisi untuk melepas tersangka.“Kami tidak bisa campuri tugas orang lain,” ujar Sekda singkat.

Seperti diketahui, Jumat (6/4) lalu, ratusan massa melakukan pengrusakan, melempari kantor megah terlokasi di perbukitan Arfai. Puluhan kaca jendela bernilai jutaan rupiah terlihat bolong, hancur terkena lemparan batu. Dua ruangan di Biro Umum juga diobrak-abrik massa yang sudah dipengaruhi emosi. Beberapa peralatan elektronik dirusak. Tampak beberapa batu besar yang dipakai melempar kaca masih tertinggal di dalam ruangan Biro Umum.

Puluhan kursi plastik dibanting dan mengalami kerusakan. Pot bunga yang diletakkan di sudut ruangan kantor gubernur pun tak luput dari kebrutalan massa.(lm)


Kategori : Manokwari

Komentar