JAKARTA – Pemerintah mendukung pelaku usaha untuk membagikan premi atau insentif kepada petani sawit. Seluruh perusahaan sawit diharapkan terus mengem- bangkan dan selalu melibatkan skema pemberian premi tersebut pada bisnis model masing-masing.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang menuturkan, Indonesia perlu memastikan semua kegiatan produksi kelapa sawit dapat dilakukan secara berkesinambungan. ’’Bisa saya bilang bahwa kelapa sawit Indonesia berada dalam bahaya.  Banyak di antara mereka yang nggak mau kelapa sawit kita berkembang. Mereka mungkin ingin harga murah sehingga melontarkan isu negatif,’’ ujar Bambang dalam pemberian premi kepada petani sawit oleh Asian Agri di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Selasa (10/4).

Karena itu, Bambang mendorong pelaku usaha membina kemitraan dengan petani sawit. Salah satunya melalui sharing premi. ’’Secara nasional, 40 persen perkebunan sawit adalah perkebunan rakyat,’’ katanya.

Asian Agri kemarin membagikan premi Rp 3,6 miliar kepada 12 perwakilan dari 72 KUD petani plasma yang telah memperoleh sertifikasi RSPO (roundtable on sustainable palm oil). ’’Premi diberikan sejak 2013. Diharapkan, melalui pemberian premi ini, akan makin banyak petani yang mendapatkan sertifikasi RSPO,’’ tutur Direktur Corporate Affairs Asian Agri Fadhil Hasan.

Menurut Fadhil, Asian Agri juga melakukan program kemitraan untuk mewujudkan pengelolaan kebun kelapa sawit petani plasma yang luasnya sama dengan kebun inti Asian Agri. Yaitu, seluas 100 ribu hektare (ha) pada 2018. Saat ini, secara total, perkebunan sawit di Indonesia seluas 14,03 juta hektare (ha). Total produksi minyak sawit pada 2017 mencapai 41,8 juta ton. (agf/c14/sof)


Kategori : Ekonomi

Komentar