ISMAIL Magar, pria kelahiran 45 tahun silam ini awalnya hanya hobby dalam menggeluti seni ukir dengan memahat sepotong papan atau potongan kayu, yang disulap menjadi berbagai hasil kreasi yang bernilai seni tinggi seperti patung berbentuk manusia, hewan dan ornament khas Papua lainnya. Hobby yang digelutinya sejak kecil, kini menjadi mata pencaharian untuk menghidupi keluarga.

Norma Fauzia Muhammad, Sorong

KARYA seninya sangat mengagumkan. Patung, ukiran dan ornament khas Papua lainnya, dihasilkan dari keahliannya menggunakan pahat. Ya, peralatan utama yang digunakannya adalah pahat, plus palu alias martil. Hasil kerajinannya dihaluskan dengan menggunakan ampelas. Kerajinan ukiran, salah satunya Seni Patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud 3 dimensi seperti bentuk nyata yang dibuat dengan cara memahat.

Ismail Magar, pria asli Papua dari suku Emeyodere ini, telah menggeluti seni memahat puluhan tahun lamanya. Bahan dasar potongan kayu, disulapnya menjadi benda seni yang bernilai tinggi, baik itu berupa patung manusia, hewan dan lainnya. Keahliannya memahat kini menjadi sumber penghasilan utamanya.

“Saya mulai memahat membuat patung-patung manusia, hewan, asbak, ukiran timbul, ornament khas Papua ini semenjak tahun 1990, awalnya karena hobby. Per hari biasanya laku 2 hingga 3 patung. Kalau bicara dari tahun 90-an hingga sekarang mungkin bapak sudah mendapatkan ratusan juta,” katanya saat ditemui pada Pameran Kerajinan Khas Papua di Taman DEO, Minggu (1/4).

Siapa yang menyangka, kayu besi bahan dasar yang digunakannya untuk dipahat atau diukir, merupakan sisa-sisa bahan bangunan yang tak  terpakai lagi. Meski hanya potongan kecil kayu besi yang bagi sebagian besar warga tak lagi bernilai, tapi bagi Ismail Magar bisa disulap menjadi karya seni bernilai tinggi.   “Ini dari kayu besi dapat di hutan, ada kalanya sisa dari bekas-bekas pembangunan yang tidak dimanfaatkan, daripada jadi kayu bakar,” kata bapak 6 anak yang murah senyum ini.

Bagi Ismail, membuat patung atau ukiran tak perlu sketsa, cukup berimajinasi dan semuanya mengalir begitu saja. Membuat patung atau ukiran butuh ketelitian dan focus, sehingga dihasilkan karya seni yang eksekotik. Biasanya, satu patung atau ukiran, dikerjakannya dalam waktu 3 hari atau seminggu, tergantung ukuran dan kerumitan. “Kalau buat berbentuk Patung seperti ini yaitu bicara tentang silsilah dari leluhur. Waktu pembuatannya tergantung kerumitannya,” kata Ismail sambil menunjuk patung berbentuk manusia yang sudah selesai dikerjakannya.

Setelah patung selesai dipahat, ia melanjutkan pekerjaan untuk menyempurnakan hasil kerajiannya, dengan cara digosok menggunakan ampelas hingga mulus, selanjutnya pekerjaan finishing dengan cara dicat menggunakan cat akrilik atau melamin.

Usai membuat ukiran kayu, Ismail pun menyimpannya di gudang rumahnya. Sebagian dimanfaatkan sebagai hiasan pemanis di dalam rumah, sebagian lainnya dipasarkan di salah satu toko kerajinan khas Papua di Kota Sorong. “Bapak simpan di rumah sudah satu gudang. Sebagian dijual, kerjasama dengan salah satu toko khas Papua di Kota Sorong,” kata Ismail.

Mata pencaharian sebagai pengrajin seni, bagi Ismail hanya sampingan, meski hasilnya juga menjanjikan. Sehari-hari ia menjalani profesi nelayan, dan seni memahat dilakukannya di waktu-waktu senggang tidak melaut, atau juga ‘membunuh kebosanan’ saat terlalu lama di rumah menunggu waktu mencari ikan yang tepat. “Ini hanya sampingan, saya kerjanya sebagai nelayan,” ujarnya.

Harga jual hasil karya buah tanggannya, dipasarkan dari kisaran harga Rp 100.000 sampai Rp 500.000. Jika dipasarkan di toko bisa sampai jutaan. Misalnya patung manusia Rp 500.000, sedangkan asbak model ikan dijualnya Rp 150.000. “Kalau dari saya misalnya Rp 100.000, kalau di toko sudah urusan mereka mau dijual dengan harga berapa,” katanya.

Salah satu pengunjung pameran kerajinan khas Papua, Dinda mengatakan bahwa ukiran atau kayu yang disulap oleh Ismail Magar sangatlah bagus, karena seperti asli dimana kayu menjadi sebuah patung yang memiliki makna. “Patungnya bagus, macam orang sungguhan. Harganya juga terjangkau untuk koleksi di rumah,” ujarnya. (***)


Kategori : Features

Komentar