JAKARTA – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menjawab tegas peringatan Tentara Pembebasan Nasional – Papua Barat (TPN – PB). Mantan kepala staf angkatan darat (KSAD) itu menyampaikan bahwa Indonesia siap memerangi setiap kelompok yang berniat mengganggu kedaulatan NKRI. 

Keterangan tersebut disampaikan Ryamizard di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rabu (28/3). ”Pokoknya kalau keselamatan bangsa, kemudian kedaulatan rakyat, dan keutuhan terganggu itu (urusan) tentara,” kata dia ketika ditanyai soal peringatan dari TPN – PB. Lebih dari itu, dia menyatakan, Indonesia tidak segan meladeni tantangan perang dari mereka.

Belakangan, Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang lebih dikenal dengan sebutan Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu memang kembali berulah. Mereka menyerang aparat keamanan yang tengah bertugas. Terakhir mereka membakar sejumlah fasilitas umum di Desa Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua.

Aksi tersebut dilakukan Sabtu (24/3). Berdasar data yang diperoleh Kodam XVII/Cendrawasih, fasilitas umum yang dibakar di antaranya rumah sakit, sekolah, dan asrama. Selain itu, beberapa rumah juga dibakar OPM. Aksi itu bukan satu-satunya peringatan dari kelompok tersebut, mereka juga menyebar video yang berisi tantangan kepada TNI maupun Polri. 

Tidak heran, Ryamizard merespons tegas. ”Ya perang aja, perang aja. Malu saya kalau nggak berani,” ucap dia. Senada dengan keterangan tersebut, Kodam XVII/Cendrawasih pun menyatakan bahwa mereka siap jika diperintahkan untuk perang melawan OPM. Namun, sampai saat ini mereka masih mengedepankan pendekatan melalui program yang mereka jalankan. 

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri M. Aidi mencontohkan pendekatan teritorial lewat pembangunan jalan, rumah honai, dan sejumlah fasilitas umum lainnya. ”Dengan pendekatan itu banyak (OPM) yang tergerak hatinya untuk bergabung kembali dengan NKRI,” terang pria yang akrab dipanggil Aidi itu.

Perwira menengah TNI AD dengan tiga melati di pundak itu pun menuturkan, memerangi OPM bukanlah pilihan pertama bagi Kodam XVII/Cendrawasih. ”Perang itu jalan terakhir,” imbuhnya. Selama upaya pendekatan masih bisa dilakukan, instansinya tidak akan melakukan kontak senjata dengan kelompok tersebut. 

Sebab, mereka tidak bisa serta merta menanggapi peringatan yang disampaikan OPM. Apalagi jika tidak ada perintah dari Mabes TNI. ”Tapi, kalau negara memerintahkan TNI, kami siap bergerak kapan saja,” terang Aidi. Dengan kekuatan yang dimiliki oleh Kodam XVII/Cendrawasih saat ini, dia yakin pihaknya bisa menggulingkan OPM. 

Namun demikian, Aidi kembali menegaskan bahwa perang melawan OPM adalah jalan terakhir. Sebab, pendekatan masih bisa dilakukan. ”Karena mereka juga saudara-saudara kita,” imbuhnya. Untuk saat ini, itu upaya yang yang terus dilakukan Kodam XVII/Cendrawasih sebagai salah satu kepanjangan tangan Mabes TNI di Papua. 

Bekerja sama dengan Polda Papua, mereka juga terus berupaya agar serangan yang dilakukan OPM beberapa waktu lalu tidak terulang. Meski serangan itu tidak mengakibatkan korban jiwa, namun fasilitas umum yang sudah dibangun dengan susah payah hancur. ”Penjagaan di sana dilakukan Satgas Amole dari Polri,” ungkap dia. 

Lokasi pembakaran di Desa Banti, sambung Aidi, merupakan lokasi yang sama dengan tempat penyanderaan ribuan masyarakat oleh OPM akhir tahun lalu. Beruntung, sampai saat ini lokasi tersebut sudah tidak ditinggali oleh masyarakat. Sebab, banyak di antara mereka memilih mengungsi. ”Yang menyerang juga kelompok yang sama,” tutur dia. 

Berdasar keterangan Aidi, kondisi terakhir di sana sudah kondusif. ”Masih seperti biasa,” ujarnya. Tapi, pasca penyerangan yang dilakukan OPM, aparat keamanan semakin siaga. Mereka tidak ingin memberi celah kepada kelompok tersebut untuk melancarkan aksi yang bisa mengakibatkan munculnya korban jiwa. (syn/)


Kategori : Nasional

Komentar