INDIHOME
 

Sebelum menjalani hipnoterapi, Jahrani sampai minta dipasung agar dapat berhenti mengonsumsi sendok, engsel, paku, dan pengupas buah. Dia ingin bisa kembali bekerja, menikah, dan punya keluarga.

YUDI A.-DINA A.-M. RIDHUAN, Samarinda

BEGITU selesai ditanya, ma­ ta Jahrani langsung melirik ke bagian atas ruang terapi itu. Ada AC atau pendingin ruang­ an yang terpasang di sana. ”Saya tanya ke dia apa ben­ da di dalam ruangan yang paling membuatnya tertarik dan dia bilang AC,” ujar End­ ro S. Efendi, hipnoterapis di klinik di Samarinda, Kaliman­ tan Timur (Kaltim), itu. ”Tapi, kan tidak mungkin, masak mau makan AC?” lanjutnya kepada

Kaltim Post (Jawa Pos Group). Memang tidak mungkin. Ba­ gi orang lain. Kalau buat Jahra­ ni, AC itu bisa jadi sama meng­ giurkannya dengan sendok, garpu, pisau, engsel pintu, dan berbagai benda logam lainnya. ”Perasaan merasa tertarik itu mudah muncul begitu saja,” kata Jahrani. 

Selama bertahun­tahun, pria 24 tahun asal Desa Loa Duri Ilir, Kutai Kartanegara (Kukar), Kaltim, tersebut telah meng­ ganyang berbagai benda tak lazim itu. Tentu saja dia ingin berhenti dari kebiasaan tak lazim tersebut. ”Saya ingin kembali bekerja, bisa menikah, dan punya keluarga,” ujar Jahrani dengan yakin.

Untuk itulah, Jahrani dibawa mengikuti hipnoterapi. Meng­ utip Wikipedia, hipnoterapi adalah terapi yang digunakan pada subjek dalam kondisi hipnosis. Kata hipnosis ke­ pendekan dari istilah James Braid’s (1843) ”neuro­hypno­  tism”. Yang berarti ”tidurnya sistem saraf”.

Hipnoterapi sering diguna­ kan untuk memodifikasi pe­ rilaku subjek. Dan, mengutip situs Alodokter, dapat pula digunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan. Hipno­ terapi, kembali mengutip Alodokter, disebut mungkin dapat menciptakan relaksasi serta menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Juga mengu­rangi rasa sakit sekaligus me­ ningkatkan daya tahan tubuh. Sebagai tahap awal, saat di ruang tamu, Jahrani diminta mengisi formulir untuk meng­ gambarkan kondisi dirinya. Dari formulir yang diisi, ter­ gambar ada beberapa emosi yang sangat intens yang dia rasakan.

Setelah itu, Jahrani, ibunya, maupun tim pendamping di­ beri penjelasan mengenai pro­ ses hipnoterapi yang akan di­ jalani, oleh hipnoterapis klinis di klinik itu, Endro S. Efendi. Pengisian formulir maupun penjelasan yang diberikan merupakan prosedur yang ha­ rus diberikan kepada siapa saja yang akan menjalani hip­ noterapi. Itu diperlukan agar pikiran bawah sadar klien sudah mempersiapkan diri untuk bisa menyelesaikan masalah. Setelah diberi penjelasan, barulah Jahrani diarahkan ke ruang terapi. Sedangkan ibunya, Jumrah, dan tim pendamping dari Dinas Sosial Kukar me­ nunggu di ruang tamu.

Di ruang terapi, kembali dilakukan verifikasi atas jawa­ ban yang sudah dituliskan Jahrani di kertas formulir. Dia pun menegaskan ingin mem­ bereskan beberapa hal. Sela­ in ingin menghentikan kebi­ asaan memakan benda yang tidak lazim, Jahrani ingin kembali bersemangat mena­tap masa depan. Agar tidak terjadi kejutan dan semua proses dipahami, kembali Jahrani diberi penjelasan apa saja yang akan dilakukan selama proses te­ rapi berlangsung. Dengan mudah semua dipahami pria bergolongan darah B itu.

Sejurus kemudian, klien akhirnya dibimbing untuk masuk ke kondisi kedalaman pikiran bawah sadar yang dalam dan menyenangkan. Kepasrahan Jahrani yang sang­ at maksimal menjadikan piki­ ran bawah sadarnya dengan mudah dibimbing masuk ke kedalaman pikiran profound somnambulism. Itu adalah kedalaman pikiran bawah sadar yang sangat tepat dan presisi untuk terapi.

Ketidaklaziman pada Jahra­ ni mulai diketahui ketika dia mengeluh sakit di saluran pencernaan pada pengujung 2015. Oleh keluarga, Jahrani dibawa ke rumah sakit dan dirontgen. Dari situlah dike­ tahui ada benda asing di da­ lam perut pemuda tersebut. Bentuknya sangat mirip den­ gan sendok. Dokter kemudian memberikan obat pencahar agar benda asing itu keluar lewat buang air besar. Namun, sampai beberapa hari kemu­ dian, perut Jahrani tetap sakit. Dia dirontgen lagi.

Sendok sudah tidak ada. Ta­ pi, benda asing yang ditemu­ kan malah lebih banyak. Ada yang berbentuk stik es krim, sedotan, hingga tas plastik. Tim dokter RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda memutuskan untuk membawa Jahrani ke meja operasi setelah 18 hari dirawat. Hasilnya sungguh mengejutkan. Jumrah, sang ibu, melihat benda­ben­ da tadi dikeluarkan dari perut anaknya. ”Semua benda itu masih utuh,” kenang Jumrah.

Pada April 2016 Jahrani ak­ hirnya dirujuk ke RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda karena diduga mengalami gangguan kejiwaan. Dirawat 15 hari, Jahrani terus­menerus mengeluhkan sakit di perut. Lagi­lagi Jahrani dirontgen dan tim medis menemukan paku di saluran pencernaannya. Jahrani pun dioperasi lagi di RSUD AWS. Dan diketahui di perutnya ada engsel, paku, baut, serta pengupas buah. Kejadian itu terus­menerus berlangsung sampai Januari 2018. Tim dokter sampai tiga kali mengambil tindakan en­ doskopi, mengeluarkan ben­ da asing di tubuh Jahrani melalui mulut. Meski sangat langka, keja­ dian serupa terjadi pada Hen­ dro Wijatmiko. Dari hasil rontgen, di perut pria 37 tahun asal Situbondo, Jawa Timur, itu ditemukan sejumlah paku payung ukuran besar, pinset, sendok, bahkan korek api (Jawa Pos, 17 Juli 2017).

Menurut keluarga, pria lajang yang masih tinggal serumah dengan sang ibu itu memang sering menunjukkan gelagat aneh. Kerap menyendiri, tan­ pa komunikasi sama sekali dengan siapa pun.

Seperti Hendro, Jahrani ting­ gal bersama kedua orang tua dan satu adik laki­laki. Kelu­ arga kecil tersebut menetap di rumah kayu berukuran 5 x 5 meter, tak jauh dari Pasar Loa Duri. Jahrani menyadari, kebiasaannya sungguh tak biasa. Karena itu, sejak enam bulan terakhir, dia meminta kamarnya dibuat seperti pen­ jara. Dia memilih dipasung. ”Orang tua mana yang tega melihat anaknya seperti itu,” ujar ibunya.

Namun, demi kebaikan anak keduanya itu pula, Jumrah akhirnya terpaksa menuruti. Jadilah enam bulan terakhir Jahrani melewati hidup di dalam pasungan. Dia makan disuapi ibunya. Buang air kecil di botol dan mandi se­ lalu diawasi. 

Menurut Endro, dari hasil hipnoanalisis di pikiran bawah  sadarnya, ternyata ditemukan beberapa kejadian ketika Jahrani masih berusia 10–15 tahun. Setidaknya ada enam kejadian masa lalu yang men­ jadikan dia semakin tertarik dengan benda­benda yang tidak lazim untuk dimakan.

Rentetan kejadian itulah yang mengakibatkan Jahrani di­ landa trauma dan akhirnya terbawa sampai dewasa. ”Ta­ pi, mohon maaf, sesuai kode etik, saya tidak boleh meny­ ampaikan kejadian apa yang mengakibatkan klien menga­ lamitrauma,”sebutpriayang juga pengurus pusat Asosiasi Hipnoterapis Klinis Indonesia (AHKI) tersebut.

Seusai terapi, Jahrani (se­ perti disebutkan Endro) meng­ aku sudah nyaman. Sudah ada dorongan dari dirinya sendi­ ri untuk tidak lagi mengon­ sumsi benda­benda aneh. Dia juga semakin bersemangat dan ingin segera bersekolah serta bisa bekerja lagi.

Namun, untuk saat ini, yang akan dilakukan Jahrani ialah menjalani masa pemulihan setelah operasi yang dilakukan sebelumnya. Untuk terapi berikutnya, semua bergantung dia. Kalau sudah merasa ny­ aman dan merasa tidak perlu lagi, kata Endro, tidak usah terapi lagi. ”Tapi, kalau suatu saat masih ada yang meng­ ganjal, nanti bisa atur jadwal kembali. Saya sudah berko­ mitmen membantu Mas Jahra­ ni sampai tuntas secara cuma­ cuma,” tegas Endro.

Nonon Amalia, tim pendam­ ping dari Dinas Sosial Kukar, menambahkan, setelah Jahra­ ni benar­benar sembuh kelak, pihaknya akan memfasilitasi dia agar bisa ikut ujian paket B dan paket C. Jahrani juga akan dibekali keterampilan sesuai minatnya. ”Insya Allah, untuk pendanaan, akan di­ bantu pihak desa,” sebutnya. (eff/riz/far/k8/JPG/c9/ttg)


Kategori : Features

Komentar