INDIHOME
 

Bali beberapa waktu lalu sempat menjadi perbincangan dunia lantaran penuh sampah. Tak ingin nama ikon pariwisata Indonesia itu tercemar, dua bersaudara Melati dan Isabel Wijsen pun berinisiatif menggalang bersih-bersih sampah di Bali.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Badung

WAJAH Melati Wijsen tampak lelah. Sesekali dia merapikan rambut pirangnya yang terurai. Gadis 17 tahun itu masih bisa tetap tersenyum sambil memu- nguti sampah bersama ratusan  orang di Pantai Pererenan, Ba- dung, Bali.

Melati memasukkan sedotan, tutup botol, dan potongan plas- tik yang ditemukan sedikit ter- timbun pasir hitam ke dalam sak yang dibawa adiknya, Isabel Wijsen. Deburan ombak di pantai dengan ciri khas patung Dewa Baruna yang menunggangi Gajah Mina setinggi 12 meter itu menjadi lokasi terakhir pem- bersihan Minggu sore (25/2) itu. Sejak sekitar pukul 16.00 Wita, tak kurang dari 600 war- ga bergotong royong memungu- ti sampah dari masing-masing banjar di Desa Pererenan, Ke- camatan Mengwi, Badung. Tua, muda, anak kecil, laki-laki, dan perempuan bersama-sama membersihkan lingkungan dari sampah. 

Menjelang petang, mereka bergerak ke pantai. Turis asi- ng dan lokal yang kebetulan sedang menunggu sunset ikut serta memunguti sampah. Sore itu semua bersatu me- nyusuri garis Pantai Pererenan sepanjang 3 km yang biasa digunakan berselancar sam- bil memburu sampah plastik.

Itu bukan bersih-bersih bi- asa. Tapi, aksi tersebut mer- upakan bagian dari One Island One Voice yang digagas kakak beradik Melati dan Isabel Wijsen. Lebih dari 100 lokasi dibersihkan dari sampah plas- tik. Melibatkan hampir 25 ribu relawan. ’’Ya, saya memang lelah, tapi senang,’’ kata Me- lati, lantas tersenyum kecil.

Sore itu terkumpul sampah yang ditempatkan di empat sak besar yang hampir penuh. Mereka memang hanya mengambil sampah plastik atau nonorganik, sedangkan lim- bah kayu yang terbawa di pantai hanya dikumpulkan. ’’Karena itu bisa terurai oleh alam,’’ ungkap Melati.

Isabel yang lebih muda dua tahun dari Melati menjelaskan bagaimana mereka memulai aksi bersih-bersih sampah itu. Lima tahun lalu saat Isabel berusia 10 tahun dan Melati 12 tahun, keduanya sudah membuat gerakan Bye Bye Plastic Bags (BBPB).

Mereka terinspirasi pelajaran sekolah tentang tokoh-tokoh dunia berpengaruh. Misalnya, Nelson Mandela, Lady Diana, Mahatma Gandhi, dan Karti- ni. ”Mereka bisa bikin sesua- tu yang bagus untuk dunia. So, saya dan Melati bisa bikin ini di Bali,’’ ujar Isabel.

Nah, mereka pun melihat banyak sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka di dekat Pantai Seseh, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung. Selain itu, mereka mendapati fakta, se- kitar 40 negara telah melarang penggunaan kantong plastik. ’’Kalau mereka bisa bikin, kenapa kita tidak bisa?’’ tam- bah Isabel.

Gerakan BBPB itu kini telah tersebar di berbagai negara. Berdasar data di website resmi, mereka sudah punya tim di Spanyol, Australia, Tiongkok, Meksiko, Malta, Myanmar, Nepal, Amerika Serikat, Se- landia Baru, Filipina, Singa- pura, dan Tanzania. Di Indo- nesia, ada tim BBPB di Jakar- ta dan Batam. Fokus utama adalah kampanye tidak menggunakan kantong plastik. Melati dan Isabel juga sudah berbicara di forum-forum internasional untuk kampanye tentang lingkungan. Di anta- ranya, Our Ocean Summit di Malta pada 2017, World Oce- an Summit di Bali (2017), TEDGlobal di London (2015), Sustainable Innovations Forum di Paris (2015), dan Confe- rence of Youth (COY) 11 ser- ta Conference of the Parties (COP) 21 di Paris (2015).

Sementara itu, gerakan One Island One Voice alias Satu Pulau Satu Suara itu diinisia- tori setahun lalu. Pada Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati pada 21 Februari tersebut, mereka membuat gerakan pembersihan sampah di Bali. Kegiatan itu dilakukan pada 19 Februari 2017 dengan melibatkan tak kurang dari 11 ribu orang. Lokasi yang dijang- kau mencapai 55 tempat. ’’Dalam enam pekan, kami bekerja sama dengan 21 or- ganisasi di Bali,’’ ujar Melati. Kegiatan serentak tersebut ditujukan untuk semakin me- nyadarkan publik untuk menghindarkan penggunaan kan- tong plastik.

Nah, setahun berlalu, ter- nyata banyak orang yang ke- tagihan untuk mengikuti bersih-bersih serentak di Pulau Dewata. Banyak yang bertanya kepada Isabel dan Melati ka- pan lagi ada acara bersih-ber- sih terebut.

Akhirnya diputuskan, pembersihan sampah itu dilakukan pada 24-25 Februari. ’’Karena itu hari libur sekolah. Jadi, anak-anak seperti kami ini bisa ikut,’’ ungkap Melati yang duduk di kelas III Green School Bali, sedangkan Isabel di ke- las I di sekolah yang sama. Ide utamanya, aksi ber- sih-bersih bertajuk One Island One Voice itu harus lebih besar daripada sebelumnya agar yang turut serta lebih banyak. Saat tersiar kabar aksi tersebut akan kembali digelar, banyak sekali yang menghubugi mereka berdua dan tim. ’’Ada yang menelepon dan siap menjadi koordinator di satu titik lokasi. Semua vol- unter. Bukan hanya warga lokal, turis mancanegara juga ikut serta,’’ ungkapnya.

Bahkan, artis Hamish Daud dan drumer Superman Is Dead (SID) Jerinx pun turut serta dalam aksi itu di Bali pada Sabtu (24/2). (*/c5/oki)


Kategori : Features

Komentar