INDIHOME
 

PANTAI merupakan salah satu destinasi yang pas untuk mengisi akhir pekan. Wilayah Kabupaten Sorong memiliki banyak pilihan pantai untuk dikunjungi, salah satunya pantai Batu Lubang Distrik Makbon.

NAMIRAH HASMIR, Sorong

AKHIR pekan merupakan waktu yang tepat untuk berekreasi guna bersantai sejenak dari penatnya rutinitas pekerjaan. Rekreasi dan bersantai. Ya, itulah yang saya dan beberapa rekan lakoni di akhir pekan kemarin. Pilihan destinasi wisata tempat rekreasi di Kabupaten Sorong sendiri cukup banyak, termasuk juga destinasi wisata pantainya. Salah satunya, Pantai Batu Payung yang terletak di wilayah Distrik Makbon.

Akhir pekan kemarin merupakan kedua kalinya yang saya mengunjungi objek wisata Batu Lubang Makbon. Ya, tahun 2015 lalu, saya juga pernah datang, meskipun saat itu jalan menuju lokasi wisata ini rusak berat, sangat tak layak, sehingga warga setempat lebih memilih melalui jalur laut menuju Kota Sorong dan sebaliknya yang memakan waktu lebih kurang 2 jam lamanya.

Kini, kondisi jalan ke Batu Lubang Makbon, telah berubah banyak. Jalan menanjak dari pertigaan Makbon, telah di cor beton. Sepanjang jalan menuju Kampung Batu Lubang, juga telah diperkeras, sehingga lebih memudahkan kendaraan melintas. Jangannya mobil, motor juga sudah mudah melintasi jalan menuju objek wisata Batu Lubang.

Menuju Kampung Batu lubang, saya dan 4 rekan lainnya, memacu kendaraan roda dua melintasi tanjakan, turunan dan sesekali tikungan tajam. Hingga akhirnya di tanjakan terakhir, keindahan pantai dan laut Batu Lubang mulai terlihat, dengan gugusan batu yang terhampar di sepanjang pantai.

Sesampai di Kampung Batu Lubang, kami disambut baik oleh masyarakat setempat. Musim buah mangga membuat kami yang datang dipuaskan dengan sajian mangga yang dibawa masyarakat. Masyarakat di Batu Lubang sangat kompak, mereka bergotong royong menjaga kampung tetap bersih dan terus berkembang dengan memanfaatkan alam yang ada.

Pantai Batu Lubang sangat bersih. Hamparan pasir lembut dengan beragam warna, hitam, coklat dan putih. Jejeran bebatuan di pinggir pantai yang dihempas ombak, serta percikan air yang terhempas di bebatuan, menambah keindahan pantai Batu Lubang. Ombak yang tinggi tidak menyurutkan nyali anak-anak setempat bermain-main di pantai.

Sembari menikmati alunan merdu suara ombak terhempas, kami disajikan cerita rakyat setempat yang diceritakan oleh Frans Osok, salah satu orang tua yang ada di Kampung Batu Lubang. Darinya, kami tahu bahwa Batu Lubang dulunya bernama Bainggit yang berarti Tanah Hitam. “Dulu namanya bukan Batu Lubang, tapi Bainggit, Tanah Hitam. Karena pasir di sekitaran pantai dulunya berwarna hitam, sekarang masih ada pasir hitamnya, cuma jarang muncul,” kata Frans Osok.

Batu Lubang, nama yang belakangan disematkan padanya, didasarkan pada kondisi batu di pulau seberangnya yang di tengahnya berlubang. Untuk mencapai lokasi batu berlubang tersebut, harus menggunakan perahu. Demi keselamatan, ya menunggu kondisi laut bersahabat, tidak begitu berombak. “Dulu namanya Bainggit, tapi namanya diganti Batu Lubang karena di dekat pulau ada batu yang lubang. Kita bisa kesana, cuma tunggu tidak ada ombak, biasanya pagi kesana boleh,” kata Frans sembari menunjuk arah lokasi batu berlubang yang menjadi dasar pemberian nama Batu Lubang yang terkenal hingga kini.

Selain nama lokasinya, Batu Lubang juga memiliki beberapa cerita mistis yang sudah terkenal di masyarakat. Salah satunya, cerita seorang perempuan yang baru saja melahirkan, namun terkena kutukan sehingga berubah menjadi batu yang menempel di pulau yang terpisah dengan kampung Batu Lubang.

Frans mengatakan, berdasarkan cerita leluhur yang dikisahkan turun temurun, batu perempuan tersebut awalnya seorang perempuan yang baru saja melahirkan. Perempuan tersebut berasal dari Tambrauw yang datang ke Batu Lubang. Karena ketidaktahuannya, ia menuju ke pulau tersebut bersama dengan anaknya, sembari membawa kepiting atau yang dalam bahasa lokal disebut Karaka, yang dibungkusnya dengan daun sejenis pakis.

Setelah tiba di tempat ia duduk, muncul petir di langit, berbarengan dengan ombak yang besar di lautan. Akhinya, petir menyambar si-ibu yang sedang menggendong anaknya, mengakibatkan keduanya menempel di batu dan lama kelamaan si-ibu dan anaknya tersebut berubah menjadi batu. “Tidak boleh bungkus karaka dengan daun, mungkin mereka tidak tahu, makanya pas kesana terkena petir dan jadi batu,” kata Frans Osok. (***)


Kategori : Features

Komentar