MANOKWARI-Rencana penambangan emas secara besar-besaran di tiga distrik di wilayah Kabupaten Teluk Wondama ikut menjadi perhatian WWF World Wide Fund (WWF) Indonesia. Pasalnya sebagian wilayah Teluk Wondama merupakan kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dan menjadi daerah kerja WWF.

Aktivis lingkungan WWF Indonesia, Fero Manohas, menyarankan pemetaan partisipatif menjadi instrumen dalam penyusunan dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) pertambahan emas. Dikhawatirkan, keberadaan perusahaan dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.

Dikhawatirkan, setelah 15 tahun di lokasi perusahaan terjadi perubahan lingkungan. ‘’Di tempat ini tidak ada lagi rusa, tidak ada lagi babi, di pesisir yang merupakan tempat mencari masyarakat juga sudah tidak ada lagi ikan. Jadi perlu dipikirkan kondisi setelah 15 tahun perusahaan ini ada," tuturnya kepada wartawan.

Dikatakannya, masyarakat adat menghadapi risiko kehilangan sumber penghidupan manakala kawasan-kawasan penting seperti sumber air, tempat berburu maupun Dusun Sagu yang merupakan  makanan pokok warga setempat menjadi hilang karena terdampak kegiatan pertambangan. Juga tempat-tempat khusus yang dikeramatkan warga secara turun temurun hanya tinggal kenangan.

Fero mengusulkan agar pemetaan partisipatif dimasukkan sebagai salah satu tahapan dalam proses penyusunan AMDAL PT ABP.

Secara terpisah, Kepala Distrik Kuri Wamesa George Ramar mendukung perlunya dilakukan pemetaan kawasan-kawasan khusus yang memiliki arti penting bagi masyarakat adat setempat. Dibuat koordinat yang jelas. “Misalnya ada dusun sagu tapi di bawahnya ada emas, silakan, masyarakat mau digusur atau tidak," ucapnya.

Investor PT Abisha Bumi Persada (ABP) sedang menjajaki pembukaan pertambangan emas dalam skala besar di wilayah Kabupaten Teluk Wondama. Kawasan penambangan seluas 23.324 hektare di wilayah Distrik Kuri Wamesa, Distrik Rasiei dan Distrik Naikere.

Perusahaan asal Jakarta itu telah memaparkan rencananya di hadapan Bupati Teluk Wondama, Bernadus Imburi, Kapolres AKBP Mathias Krey bersama Danramil Wasior Mayor Inf Andri Risnawan. Juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Rudolf E.Rumbino serta Direktur Utama PT ABP  Nolius Matahelumual.

Berencana melakukan eksploitasi selama 15 tahun dengan target produksi 800 ribu ton biji emas per tahun. Biji emas tersebut diperkirakan menghasilkan 40 ribu ton konsentrat dan emas murni sebanyak 200 kg/tahun.(lm)


Kategori : Manokwari

Komentar