PROSES pernikahan di setiap daerah pasti berbeda-beda dan masing-masing memiliki kelebihan, kekurangan dan keunikan tersendiri. Apalagi, jika dua hati yang bersatu berasal dari daerah berbeda, pernikahan adat tentunya melibatkan budaya berbeda yang dipadukan. Seperti halnya terlihat saat pernikahan Dessy Debora Fina yang Johanes Paul Fredy Wambrauw yang memadukan budaya Timor dan Biak.

Namirah Hasmir, Sorong

REKAN kami, Dessy Debora Fina,S.Pd, selangkah lagi melepas masa lajangnya. Tentunya, dengan sang pujaan hati, Johanes Paul Fredy Wambrauw,SE. Persiapan pernikahan telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Kamis (8/2) lalu, keduanya melangsungkan pernikahan secara adat. Pernikahan adat dilangsungkan di kediaman calon mempelai perempuan yang berlokasi di Jln Kenanga Kelurahan Mariyai Distrik Mariat SP 2 Kabupaten Sorong, terlihat sangat sakral. Bagaimana tidak, perpaduan dua budaya dihadirkan dalam prosesi pernikahan adat ini, budaya khas Timor dan Biak, asal keduanya.

Sekitar pukul 13.00 WIT, kehadiran calon mempelai pria, Fredy yang diiringi keluarga besarnya, terlihat dari arah masuk gang menuju rumah mempelai perempuan. Rombongan keluarga besar mempelai pria, menarik perhatian warga sekitar. Selain jumlahnya yang terbilang banyak, rombongan juga berjalan tanpa alas kaki. Langkah kaki sambaing bergoyang diiring alunan musik dari alat music yang dimainkan keluarga pria, sembari membawa mahar berupa piring gantung yang berjumlah 60 piring.

Sebelum sampai di rumah mempelai perempuan, rombongan mempelai pria, disambut Kepala Suku Besar NTT Sorong, Syafruddin Sabonnama Riantoby,SH. Sambil membawa parang asli Timor yang berukuran panjang, Syafruddin menanyakan maksud kedatangan keluarga Fredy ke rumah keluarga Desy, yang dijawab dengan tegas oleh Kepala Suku Wambrauw dari Pulau Numfor, Yohanis Wambrauw.

Menerima maksud yang disampaikan, rombongan keluarga Fredy kemudian dipersilahkan meneruskan perjalanan menuju depan rumah sang perempuan, sambil diiringi tari-tarian khas Timor, Tarian Rebeka yang meberikan suka cita dan memberikan nyanyian semangat. “Tarian yang mengiringi calon pengantin pria, tarian Rebeka dari Timor yang memberikan semangat,” kata Daniel, Bapa Tua (Paman) Desy kepada Radar Sorong.

Menjumpai sang wanita pujaan hatinya, tap semudah yang dibayangkan. Fredy dan rombongan keluarga besarnya, harus menunggu di depan rumah yang sudah dipagari dengan daun kelapa muda. Sang kepala suku, Yohanis Wambrauw kembali menyampaikan maksud kedatangannya sambil menyerahkan sebuah piring gantung kepada keluarga Desy yang menunggu di depan pagar daun kelapa.

Prosesi adat berlanjut, Fredy diiringi keluarga besarnya, masuk menuju depan pintu. Tari-tarian mengiringi langkahnya. Sesampainya di depan pintu rumah calon mempelai perempuan, seluruh bawaan piring gantung yang dibawa keluarga mempelai pria, diletakkan di teras rumah depan pintu masuk. Seserahan yang dibawa keluarga Fredy, juga diserahkan kepada penerima tamu yang berdiri berjejer di depan pintu.

Keluarga perempuan kembali menanyakan maksud kedatangan rombongan besar ini. Setelah dijelaskan bahwa kedatangannya ini untuk meminang Desy dan menjadikannya istri, Fredy dan keluarganya dipersilahkan masuk untuk menjemput Desy yang menunggu di dalam kamar.

Fredy yang ditemani sang Kepala Suku, Yohanis Wambrauw, harus meyakinkan lagi keluarga perempuan untuk membawa Desy keluar dari kamar. Di depan kamar, 2 adik laki-laki Dessy dan pamannya, meminta Fredy menunjukkan keseriusannya meminang Desy, kakak tercintanya.

Fredy kemudian menyerahkan sendiri piring gantung yang ia bawa kepada adik Dessy yang disambut baik,  selanjutnya mempersilahkan Yohanis Wambrauw menjemput Desy dari dalam kamar. Dengan wajah berseri-seri, Dessy akhirnya keluar dari dalam kamar,  kemudian disandingkan dengan Fredy yang telah menunggunya sedari tadi.

Kedua calon mempelai kemudian berjalan keluar dari dalam rumah, disambut banyaknya tamu dari keluarga kedua calon mempelai hingga tetangga yang ada di sekitar rumah calon mempelai. Di saat itu pula, berlangsung proses penurunan marga dari keluarga Fina dan menyandangkan marga Wambrauw kepada Dessy.

Proses penurunan marga dilakukan dengan penuh hikmat. Sarung Timor yang disebut Pouk, dikalungkan ke leher Fredy dan Yohanis sebagai symbol kehormatan, atas maksud kedatangan Fredy dan keluarga untuk meminang Dessy. “Kita kalungkan sarung Pouk sebagai lambang kehormatan,” jelas Daniel.

Selanjutnya, Yohanis mengenakan mahkota kepada Dessy, dilanjutkan pengalungan kalung dan pemasangan gelang Kamfar serta memberikan noken yang berlambang kemakmuran. “Penyerahan ini simbolis kalau kita tanam Marga Wambrauw, mulai dari kepala, leher hingga tangan,” kata Yohanis.

Setelah proses penyematan marga Wambrauw kepada Dessy, selesai pula proses pernikahan adat dari Suku Biak. Meski tidak 100 persen menggunakan budaya Biak, namun menurut Yohanis, penggabungan budaya kedua calon mempelai, menunjukkan keberagaman budaya di Indonesia yang saling menghormati. “Kami saling menerima dan memberi budaya yang dibuat hari ini,” ucapnya.

Sementara menurut Daniel, perpaduan kedua budaya ini menunjukkan suka cita yang ada dalam kedua budaya. Meski penggunaan budaya Timor pada pernikahan adat tersebut tidak seutuhnya 100 persen, karena ada beberapa langkah-langkah yang seharusnya dilakukan. “Karena perpaduan budaya, jadi tidak 100 persen budaya Timor berada dalam pernikahan adat kali ini,” katanya.

Usai pelaksanaan pernikahan adat, kedua calon mempelai dijadwalkan mengikuti Pemberkatan Nikah pada Sabtu (10/2) yang dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di kediaman mempelai perempuan. (***)


Kategori : Features

Komentar