SOLO – Stadion Manahan memang punya tuah tersendiri bagi Pelatih PSMS Djajang Nurjaman. Sejak 2014, Persib Bandung yang diasuh Djanur -sapaannya- tidak pernah kalah tiap kali main di stadion berkapasitas 25 ribu tempat duduk itu. Catatannya, 3 kali seri dan 1 kali menang.
 
Uniknya, salah satu diantaranya Djanur sempat melawan Persija. Yakni ketika pertandingan usiran Derby Indonesia. Kala itu, Macan Kemayoran -julukan Persija- dilarang main di Jakarta ketika lawan Persib. Akhirnya, Stadion Manahan pun jadi solusi.
 
Tepatnya pada 5 November 2015. Persija yang berstatus tuan rumah, gagal menang. Hanya bermain imbang tanpa gol lawan Maung Bandung -julukan Persib-.
 
Kini Djanur memang sudah tidak bersama Persib. Dia jadi arsitek PSMS Medan. Tapi, tuah Stadion Manahan masih berpihak padanya. Buktinya, pada Babak 8 Besar Piala Presiden 2018, Ayam Kinantan -julukan PSMS- berhasil menang adu pinalti lawan Persebaya pada 3 Februari lalu. Rekor Djanur belum terkalahkan di Stadion Manahan masih aman dan berhasil membawa timnya lolos ke semi final kali pertama dalam ajang tersebut.
 
Nah, malam nanti, PSMS akan melawan Persija di leg pertama semi final Piala Presiden 2018. PSMS sangat berharap tuah Stadion Manahan tetap memihak pada Djanur. Apalagi, sang lawan bukanlah tim yang asing bagi pelatih berusia 53 tahun itu.
 
Djanur pun sadar kemampuan calon lawannya. Tidak banyak berubah dalam kompisisi skuad dua tahun terakhir dinilainya jadi kekuatan tersembunyi Persija. Apalagi, rekrutan anyar seperti Marko Simic dan Riko Simanjuntak kian membuat tim yang lahir pada 1928 itu mengerikan dan lebih diunggulkan menang.
 
''Jujur, memang sangat berat. Reputasi tim lawan jauh di atas kami,'' kata Djanur. Tapi, sebagai tim underdog dia yakin PSMS akan memberi kejutan. Mencoba melawan dengan sebaik-baiknya dan mencuri kemenangan untuk memudahkan pertandingan leg kedua pada 12 Februari besok. ''Kami juga sudah evaluasi setelah lawan Persebaya. Intinya, kami akan kurangi kesalahan dan berkonsentrasi penuh sepanjang pertandingan,'' sambungnya.
 
Nah, Djanur menegaskan melawan Persija tentu berbeda ketika timnya berhasil menaklukkan Persebaya. Persija punya karakter bermain yang sangat efektif. Tidak perlu menguasai pertandingan namun cerdas memanfaatkan peluang jadi salah satu keunggulannya. ''Apalagi mereka punya Simic di depan. Punya skill, tubuhnya besar, saya pikir dia (Simic) adalah rekrutan terbaik di Indonesia musim ini,'' paparnya.
 
Sementara itu, Pelatih Persija Stefano Cugurra Teco menerangkan sudah memahami kekuatan lawan. Dia juga sudah tahu langkah apa yang akan dilakukan untuk mencuri poin malam nanti. ''Kami juga sudah antisipasi cuaca. Kalau hujan, kami malah suka karena sejak latihan di Jakarta selalu hujan,'' katanya.
 
Teco sadar, timnya akan melakoni dua pertandingan lagi usai lawan PSMS malam nanti. Yakni leg kedua semi final Piala Presiden 2018 di tempat yang sama dan harus away ke Johor untuk AFC Cup. Tepatnya melawan Johor Jarul Takzim pada 14 Februari mendatang. 
 
Kondisi fisik pemain jadi permasalahannya. Namun, Teco menerangkan tidak mau memikirkan permasalahan tersebut berlarut-larut. Yang jelas, dia hanya ingin fokus pada pertandingan pertama: Menang lawan PSMS. ''Setelah itu baru bicara pertandingan kedua dan ketiga. Kami ingin ke final, itu saja,'' harapnya.
 
Hal senada juga dikatakan oleh kapten tim Persija Ismed Sofyan. Menurutnya, konsentrasi rekan-rekannya saat ini adalah memenangkan pertandingan lawan PSMS. ''Solo tidak asing bagi kami, jadi buat kami pertandingan besok (malam nanti) tetap sama saja dan wajib menang,'' ungkapnya. (rid)

Kategori : Sport

Komentar