UNTUK merubah Papua memang harus dilakukan dengan cara “gila”. Tak bisa setengah setengah dan membutuhkan sosok yang berani, ikhlas dan tanpa pamrih. Dua guru yang mengabdi di  Samenage ini melakoni hal itu.

Abdel Gamel Naser, Jayapura

DARI edisi pertama tergambar tentang awal dua guru ini bisa masuk ke Papua dan memilih mengabdi di pedalaman. Tak sedikit tantangan yang dihadapi dan harus dipecahkan sendiri. Dengan kondisi yang tak terlalu nyaman, guru Andri dan guru Santi mencoba memupuskan ekspektasi tinggi yang dipatok saat mengajar.  Tak boleh terlalu memaksakan peserta didik untuk segera memahami apa yang diajarkan, tetapi bagaimana merubah pelan-pelan dengan memberikan gambaran yang mudah dari materi yang diajarkan. Langkah kecil untuk perubahan yang besar.

Dari dua guru ini, bisa dibilang Pak Andri yang cukup berani dan kencang melakukan kritikan kepada pemerintah terkait kondisi pendidikan di Papua. Namun tentunya ia berbicara berdasar apa yang dialami dengan tujuan untuk menjadi perhatian semua pihak dan melakukan perubahan itu bersama.  Bisa dibilang selama ini belum ada sosok yang benar-benar mau membeberkan bagaimana wajah pendidikan di Papua secara terang-terangan. Kebanyakan orang hanya melaksanakan tugas dengan”asal bapak senang” sehingga yang kurang-kurang tetap terbiar dan terus terbiar.

Ini berbeda dengan Andri yang memilih bersuara meski harus menanggung resiko yang cukup berat dan konsekuensi yang kadang tidak disangka. Seperti diungkapkannya, dimana pada Mei 2016 ia menulis surat terbuka kepada Anis Baswedan yang ketika itu menjadi Menteri Pendidikan dan membeberkan semua.

Mulai dari guru tak ada di tempat, guru mengerjakan soal murid hingga hanya menerima gaji tapi minim mengabdi. Usai surat ini diposting di media sosial, tak lama muncul reaksi dari berbagai pihak dan tentunya sebagian besar merasa kebakaran jenggot dan  memprotes surat terbuka tersebut.  "Ada yang menelepon secara langsung, ada lewat SMS yang isinya marah. Saya bahkan diteror akan dibunuh termasuk dilarang kembali lagi ke Mbua. Banyak sekali yang mencari saya dan marah ketika itu," jelas Andri.

Kepolosannya menulis dan menceritakan secara terang-terangan,  membuat banyak pihak tersinggung dan merasa terpojok. Disinilah pertama kali Andri syok dengan situasi yang tidak pernah diduga sebelumnya. "Saya sempat panik juga karena banyak yang tak suka dengan cara saya. Banyak ancaman saat itu dan saya akhirnya memilih cooling down," jelasnya. Ini dilakukan selama 4 bulan dan Andri akhirnya kembali ke Jayapura. "Tapi waktu itu ada juga guru yang menemui saya dan meminta maaf karena memang mereka salah, tidak di tempat tugas namun terima gaji," imbuhnya.

Andri mengaku tak bisa membiarkan kondisi tersebut dan harus berbicara. Ia merasa bersalah bila terus menerus membiarkan kondisi pendidikan di pedalaman Papua seperti ini. Sebab yang jadi korban adalah generasi penerus yang nantinya akan menjadi pemimpin ke depan. "Isi suratnya adalah memprotes sistem pendidikan, termasuk guru mengerjakan ujian murid, tidak ada di tempat dan guru kebanyakan hanya terima gaji dan tak kerja dan saya pikir ini rahasia umum. Lalu kurikulum pusat juga tak bisa disamaratakan. Konsep nasional jangan dipukul rata, harus melihat kondisi di daerah dan sesuaikan," bebernya.

Andri menceritakan, dampak dari surat terbukanya ini berlangsung hampir 1 bulan. Banyak sekali yang meneror, ada yang mengaku dari dinas hingga tokoh agama. Ia pun memutuskan menonaktifkan Hp beberapa bulan.  Hingga akhirnya, Pastor Jhon Jonga kembali menghubunginya untuk mengabdi di lokasi baru di Samenage Yahukimo. Para Februari 2017 barulah ia bertolak ke Samenage menuju SD Inpres Samenage Yahukimo. Disana, Andri mengajarkan Bahasa Indonesia dan Matematika dan 3 tahun terakhir konsennya di Matematika.

Murid sebanyak 60 dengan 6 kelas dengan 5  guru. 3 guru luar dan 2 guru lokal. Di Samenage ada SMP, namun hanya tulisan saja alias tak berfungsi. Mengenai guru mengerjakan soal muridnya dalam ujian nasional menurut Andri hal ini bukan isapan jempol.  Ia juga pernah menjadi pelaku, menggunakan pakaian seragam SMA untuk menggantikan salah satu siswa yang absen ujian karena sakit malaria. Ini diakui salah, namun saat itu ia masih baru dan sangat ingin membantu. "Saya terpaksa membeberkan ini karena memang seperti itu kondisinya. Kadang guru yang membantu menyelesaikan soal. Saya tak bisa menutupi karena ini namanya pembodohan," imbuhnya.

Diceritakan juga, ketika mengajar di SMTK Mbua, yang menjadi murid masih banyak orang tua,  namun disini terungkap bahwa para peserta didik ini lebih capek menulis ketimbang pikul papan. Untuk mengerjakan soal di papan tulis kadang dari pagi hingga sore. "Saya sempat merasa bodoh di sana dan saya akui disana saya justru belajar ketimbang mereka. Mereka bisa memahami nama-nama buah atau tanaman dari bahasa lokal sementara kita hanya bahasa umumnya dan akhirnya saya pahami bahwa disana saya tak harus memaksa mereka untuk belajar di sekolah tapi dimana saja bisa," terang guru yang jadi fans club bola Liverpool ini.

Selama proses belajar mengajar ia juga menemukan banyak hal lucu dan menarik. Salah satunya ketika anak didiknya disuruh menggambar. Bila diminta menggambar hewan, kata Andri, sebaiknya yang wajar-wajar saja atau disesuaikan dengan ukuran kertas buku. "Pernah disuruh menggambar buaya dan mereka katakan bahwa kertas tidak cukup dan saya tak bisa membantah soal itu," pungkasnya.

Saat ini, Andri Kristian berada di Jayapura dan tengah mengumpulkan beberapa oleh-oleh seperti gitar, pianika, seruling termasuk bibit tanaman. Ini dikumpulkan lantaran pernah berjanji kepada muridnya jika mampu menjawab soal dan akhirnya ada yang menjawab benar maka hadiah yang diberikan adalah alat-alat music. "Soal gaji saya pikir itu bukan yang utama, tetapi bagaimana memberikan pelayanan kemanusiaan mendidik anak-anak Papua tanpa harus mengerjai mereka. Saya sendiri tak tahu sampai kapan berada di Samenage, tapi yang jelas saya akan terus menyuarakan suara Firman Tuhan  tidak peduli konsekwensinya," imbuhnya.

Pria yang suka film misteri ini berharap ada pejuang-pejuang pendidikan lainnya yang mau ikut bergabung untuk memajukan SDM Papua dan didorong dengan kebijakan pemerintah.   "Pemerintah jangan anti kritik, toh ini juga demi anak-anak penerusnya nanti. Kita ajarkan sama-sama," tegasnya.

Cerita lainnya disampaikan Tri Ari Santi. Gadis kelahiran Jember, Juli 1984 ini bertolak ke Papua pada Mei 2015. Ia mengenal Papua dari banyak orang yang ke Papua kemudian bercerita banyak hal.  Anak ketiga dari 3 bersaudara ini, sebelumnya sering bolak balik Jember-Bali dan disitulah ia tertarik soal pendidikan di daerah pedalaman dan banyak cerita tentang kesulitan di daerah.

Kebetulan, ia mengenal pemilik toko sepeda di Surabaya yang memiliki keluarga dan usaha di Wamena Papua. Disitulah, ia diajak untuk ke Wamena. Ari akhirnya pamit kepada orang tua untuk ke Papua dan ia langsung bekerja di toko sepeda selama 1 tahun. Setelah setahun bekerja, Ari mulai merasa sejatinya bukan disitu passionnya. Ada yang belum lengkap. Setelah berhenti bekerja, ia pun pindah ke Rumah Bina di Wamena dan selama 2 bulan ia akhirnya bertemu dengan Pastor Jhon Jonga.

Setelah berdiskusi dan mendapat gambaran soal pendidikan di daerah pedalaman, Ari mengaku tertarik. Akhirnya, Agustus 2016 ia langsung bertolak ke Samenage. "Waktu itu ada 2 guru yang mau dikirim ke Samenage, tapi mereka tak mau dan sayapun menawarkan diri. Sampai di Samenage saya mengajar di kelas 1 SD Inpres Samenage,” ucapnya. Ia mengenang bahwa pertama masuk mengajar, semua muridnya memilih diam. Setelah dicek, ternyata semua muridnya belum paham berbahasa Indonesia.    "Di situ saya sempat drop, saya stres selama hampir 3 bulan. Saya bingung mau berbuat apa tapi lama-lama saya bisa keluar dari kesulitan ini,” imbuhnya. "Jangan tanya saya belajar apa karena mereka bingung semua. Yang jelas harus lebih kreatif  dan jangan memaksa apa yang harus murid pahami dari pikiran kita. Materi di luar jangan dibawa ke dalam," jelasnya.

Ari juga mengaku jika di Samenage tak ada tempat hiburan. Yang bisa dilakukan untuk menyenangkan diri adalah bercanda dengan murid-muridnya termasuk nongkrong di belakang pondoknya sambil melihat alam sekitar termasuk ngopi di pinggiran tungku.  "Tapi kalau ditanya suka dukanya, saya justru mengatakan lebih banyak sukanya karena disini saya justru belajar banyak hal. Yang tak tahu dan tak diperoleh di luar justru bisa didapat di kampung," paparnya.

Baginya jika seorang anak mulai memahami bagaimana mencuci tangan, menggosok gigi dan banyak minum air putih, itu sudah kemenangan baginya. Sebuah kebanggaan yang sulit diukir. Ari juga menceritakan bahwa ia pernah selama 11 hari tak mandi. Bukan karena tak ada air tapi ketika itu sedang banyak tamu dan karena rasa ingin tahu bagaimana rasanya 11 hari tak mandi. "Senang saja toh tidak ada yang perhatikan juga, ha..ha..," kenangnya.

Namun ia setuju dengan guru Andri bahwa konsep kurikulum nasional tak bisa diterapkan di semua daerah terlebih di daerah pedalaman. Baginya, biarkan anak-anak tumbuh dan mengenal lingkungannya dan dari situ anak didik akan belajar. "Satu lagi, jangan berharap terlalu tinggi pada anak-anak yang baru belajar. Lakukan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan mereka karena dari situ mereka akan belajar hal lain secara perlahan-lahan,” pungkasnya. (*/tri)


Kategori : Features

Komentar