Untuk mengabdi di Papua tak cukup hanya dengan semangat.  Ikhlas dan sabar juga penting meski kadang masih dizolimi. Dua guru yang mengabdi di  pedalaman Papua, Andri Kristian dan Tri Ari Santi  menceritakan suka dukanya selama ini.

Laporan: Abdel Gamel Naser - Jayapura

Tak sedikit yang “melempar handuk”  jika diminta untuk bekerja di pedalaman Papua. Apapun profesinya, digaji tinggi sekalipun. Dengan kondisi yang penuh keterbatasan, setiap orang yang bertugas di pedalaman  harus mampu segera beradaptasi dan memecahkan masalah yang dihadapi.

  Ya, tak hanya masalah untuk melayani orang lain tetapi masalah yang dihadapi diri sendiri. Stress di awal kebanyakan dirasakan mereka yang sudah pernah mencicipi sulitnya daerah terisolir di Papua.

   Tak ada listrik, tak ada sinyal, harus menahan lapar, menahan dingin sudah menjadi “makanan” tiap hari. Hanya orang tertentu yang memiliki hati ikhlas dan sabar saja yang bisa bertahan. Selebihnya, ada juga yang bertahan namun cukup berada di ibukota kabupaten untuk menunggu tandatangan tiap bulannya. Makan gaji tanpa mengabdi.

   Namun dua guru asal Jawa Timur, Andri Kristian dan Tri Ari Santi justru sebaliknya. Memilih bertahan karena telah terlanjur cinta dengan murid-muridnya. Masa mengabdi memang baru sekitar 2 tahun namun keduanya nampak telah menyatu dengan situasi sulit di lapangan.

   Keduanya juga memiliki alasan berbeda memilih untuk mengabdi di pedalaman Papua. Jika Andrian karena menanggapi panggilan Allah untuk menghidupi firmanNya, sedangkan Ari Santi karena penasaran dengan utuhnya Indonesia.

  Jika selama ini ia hanya mendengar tentang Papua yang menjadi provinsi terujung, namun kini ia bisa merangkum banyak cerita yang tak hanya katanya dan katanya. Untuk pak Kristian sendiri ia pria kelahiran Jombang Desember 1982. Anak pertama dari 2 bersaudara.  Saat ini tersisa ayah dan adiknya yang mencoba hidup dengan berdagang di Jombang.

   Ia sendiri sudah merasakan sulitnya mengabdi di dua tempat. Pertama di Distrik Mbua Kabupaten Nduga dan  kedua di Distrik Samenage Kabupaten Yahukimo. Di Mbua Andri mengajar di tingkat SMP dan SMA, namun di Samenage ia turun kelas mengajar di tingkatan SD. Yang diajarkan juga hampir semua mata pelajaran. Maklumlah, hanya ada dua guru yang intens mengajar. Menariknya ia sendiri awalnya tak memiliki basic sebagai pengajar namun karena lebih berpikir soal pelayanan, ia pun memutuskan berangkat ke Papua.

  "Saya tak memiliki basic sebagai pengajar, karena awalnya saya memang tak tertarik menjadi guru. Saya hanya suka berdiskusi soal agama makanya saya kuliah theologi," beber Andri saat ditemui bersama guru Ari di sebuah kantin kecil di Abepura pekan kemarin.

   Andri sendiri memutuskan ke Papua lantaran terpicu dari tiga buku yang dibacanya dan menjadi satu pedoman pengabdiannya. Buku tersebut adalah anak perdamaian dan segala sesuatu indah pada waktunya dan penguasa-penguasa bumi, karya Don Richardsson  seorang missionaris dari USA.

  Buku-buku inilah yang membuka pikirannya bahwa hidup akan lebih berarti bila bermanfaat bagi orang lain. Sewaktu kecil, ia  juga tak pernah bercita-cita menjadi guru atau orang yang berbicara soal theologi. Ia malah ingin menjadi seorang advokad yang membela orang yang difitnah. Namun jalan hidup berubah. Ia justru menjadi sosok pengajar.

    Menurut pengakuannnya,  ia ke Papua pada Desember 2005. Ia tinggal bersama ibu angkatnya di Sentani dan memulai mengajar awalnya di Papua di GKI Petra Sentani tiap Minggu dan Kamis.

  Masih di Sentani, Kabupaten Jayapura ia juga mengajar di Persekutuan Gereja Baptis Indonesia termasuk di Pos Pelayanan Injil di Koya Timur Kota Jayapura. Pelayanan di Sentani  dan Koya ini dilakukan hingga tahun 2010. Dari yang dilakukan ini ia pun mendapat panggilan sebagai pendeta meski sejatinya bukan pendeta.

   "Tapi kalau anak pedalaman biasa panggilnya pak guru atau pak dokter. Di Jayapura kadang di panggil pak pendeta," ucap Andri seraya berseloroh.   Nantinya setelah dari Koya Timur inilah di tahun 2012 iapun bertolak ke pedalaman di Mbua Kabupaten Nduga. "Saya diajak teman untuk ke Mbua dan mengajar di sana," bebernya.

   Saat ini, Andri lebih banyak berbicara soal pelayanan keagamaan. Padahal pengakuannya ketika ia kecil ia tak suka ibadah. Ia bahkan baru mengenal Tuhan di Toko Buku Gramedia, ketika ia bekerja di situ. "Saat SD hingga SMA bisa dibilang saya tidak suka beribadah, nantinya setamat SMA saya kerja di toko buku, barulah saya suka membaca buku-buku agama dan disitu saya mengenal agama," kenangnya.

   Ia sendiri menamatkan pendidikan SD hingga SMA di sekolah Hang Tuah, Surabaya. Setelah di Papua ia kemudian melanjutkan kuliah di STT Theologi Walterpost, Sentani dan di Institut Keguruan Sekolah Minggu (IKSM).

   Andri mengajar di Mbua hanya 2 tahun. Sedari tahun 2012-2016 dan ia masuk ke Mbua setelah diajak seorang teman yang menginformasi untuk mengajar di SMTK Mbua. Lewat sahabatnya ini, ia kemudian dikenalkan kepada kepala  sekolah dan akhirnya masuk ke Mbua pada tahun Agustus 2012 dan tinggal di rumah rumah guru SMTK.

  Ia pun mulai mengajar di SMP (3 kelas) dan SMTK (3 kelas). Di SMP ia mengajar Bahasa Inggris  sedangkan di SMTK ia mengajar Etika Kristen, Pengetahuan Alkitab, Dogmatika, Sejarah Gereja, serta Bahasa Yunani dan Ibrani.

   "Sekali lagi semua saya lakukan untuk menanggapi panggilan Allah untuk menghidupi firmanNya. Saya dalam sehari mengajar di dua sekolah berbeda. Pagi hingga pukul 12.00 WIT di SMTK dan siang sampai sore di kelas SMP. Pria berkulit terang ini memang dikenal disiplin dimana sedari pagi sekitar pukul 05.30 WIT dengan kondisi daerah yang masih dingin ia sudah menunggu di sekolah dengan membersihkan sekolah lebih dulu. Kebiasaannya ini lantas diikuti murid-murid lainnya yang bangun lebih cepat dan ikut membersihkan sekolah.

   Selama 4 tahun di Mbua ia pun menceritakan suka dukanya termasuk berani membuka aib pendidikan yang menurutnya terjadi di banyak daerah di Papua. Suka duka, kata Andri menyangkut banyak hal. Mulai dari makanan, sulitnya akses dan menularkan ilmu yang harus lebih sabar.

  "Untuk makan saya menyesuaikan. Jika ada nasi ya kami makan, tapi biasanya tak pakai lauk. Tiap hari hanya daun labu daun labu dan daun labu. Itu setiap hari. Untungnya kadang anak didiknya biasa membawakan ubi dan diantarkan ke rumah sehingga ia bisa menemukan menu tambahan meski akan selalu seperti itu.

  "Awalnya saya sulit memakan ubinya, karena terlalu besar dan bisa 4 jam baru habis, itupun dengan kopi, jadi kadang kalau tidak habis ubinya saya simpan untuk beberapa hari ke depan. Ubi ini menjadi enak karena kami makannya dengan kulit," ujar Andri.

  Namun untuk makan nasi juga ketika stok beras tersedia. Maklumlah untuk membeli beras 15 Kg ia harus merogoh kocek Rp 800 ribu dan itu sama artinya seluruh gaji untuk 6 bulannya. Soal lauk dikatakan sangat jarang. Ia baru memakan daging bila ada acara, semisal Kadistrik datang biasanya ada yang memotong babi.

  Pengabdian yang dilakukan diakui tak sebanding dengan apa yang diterima, namun guru yang menjadi salah satu fans club sepakbola Liverpool ini tak terlalu memikirkan soal itu. Baginya bila muridnya bisa menerima apa yang disampaikan, itu sudah menjadi kepuasan yang tak ternilai.

   "Soal gaji itu tergantung yang memberi, namun kalau tidak ada ya kadang hanya ongkos pesawat ke Wamena. Biasa yang saya dikasih itu Rp 1 juta dan itu diberi selama 6 bulan," katanya. Lalu untuk mandi dan minum Andri mengaku hanya mengandalkan air hujan. Untungnya curah hujan cukup tinggi, sehingga air hujan ditampung di drum untuk keperluan sehari-hari.

  "Doping saya untuk makan ya susu milo sachet. Itupun dimakan begitu saja, ha..ha..," aku Andri.

  Satu-satunya yang bisa membuat ia merefresh  kembali semua energi dan pikiran adalah ketika musim libur tiba. Di situ ia bisa kembali ke Wamena atau lanjut ke Jayapura. Namun anehnya selama di Jayapura ia justru mengalami migrain. Tak sama ketika berada di kampung. Dan saat kembali ke kampung Andri tak pulang dengan tangan kosong. Ia selalu membawa bibit tanaman, buku dan kebutuhan pendidikan seperti alat pertanian.

  "Saya tak membawa makanan, sebab nanti kemampuan saya juga terbatas. Paling alat pertanian atau buku," tambahnya.

  Andri mengaku bahagia bekerja sebagai pengajar di Mbua meski banyak tantangan, ia senang di kampung dengan anak-anak yang lucu.  "Semua hanya untuk pengabdian  sebab dalam Amanat Agung disebutkan jadikanlah seluruh bangsa muridKu, Baptis dan ajarkan firmanNya sehingga sudah menjadi keharusan untuk bisa keluar dari zona nyaman.

  "Puji Tuhan selama di Mbua tidak pernah sakit malah di Jayapura kena migrain namun pepaya dan pisang bisa sebagai obat," selorohnya. (bersambung)


Kategori : Features

Komentar