Danau Framu merupakan bagian dari Danau Ayamaru yang terletak di Distrik Ayamaru Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat. Keindahan Danau Framu sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang yang hobby menjelajahi tempat-tempat indah yang potensial dikembangkan jadi lokasi wisata. 

NAMIRAH HASMIR, Sorong

DARI Kota Sorong, Danau Framu di Kabupaten Maybrat, membu- tuhkan waktu lebih kurang 5 jam perjalanan darat, melintasi wi- layah Kabupaten Sorong dan wilayah Sorong Selatan. Jalan nasional yang dilintasi, sudah  cukup bagus, dapat dilalui menggunakan mobil maupun motor. Kebanyakan warga lokal, lebih suka mengguna- kan kendaraan L200 /double gardan. Namun, kami yang berjumlah 10 orang memilih menggunakan kendaraan open cup menuju Danau Framu.

Memulai perjalanan di hari Sabtu (3/2) sekitar pukul 10.00 WIT dari tempat berkumpul di Km 12 masuk, sepanjang perjalanan kami sempatkan berhenti beberapa kali. Lebih kurang satu jam perjalanan, kami istirahat di Distrik Kla- mono Kabupaten Sorong. Selain rehat sejenak, kesem- patan juga kami manfaatkan membeli beberapa perleng- kapan bumbu masak, karena kami memutuskan untuk menginap semalam di Danau Framu sambil bakar-bakar ikan. Logistic untuk acara bakar-bakaran, disediakan khusus rekan Fandy.

Lebih kurang 10 menit rehat, perjalanan kami lanjutkan. Di beberapa titik yang dilewa- ti, mobil open cup bergoyang, maklum, sebagian titik jalan yang dilewati kondisinya ru- sak. Sepanjang perjalanan, menuju Teminabuan Ibuko- ta Kabupaten Sorong Selatan yang menjadi tempat persing- gahan kedua kami, nuansa pepohonan hijau, tebing-te- bing dan gunung-gunung seakan-anak menari mengi- ringi perjalanan kami yang begitu menyenangkan.

Sebelum tiba di Teminabu- an, kami bertemu dengan mama-mama Papua yang hendak menumpang untuk membawa barang dagangan- nya ke Pasar Teminabuan. Perjalanan berlanjut, hingga kami tiba di pos polisi untuk melaporkan tujuan kami ke Ayamaru. Jarak yang tidak begitu jauh, kami tiba di per- tigaan Teminabuan, tepat disebelah kiri jalan terdapat bangunan pasar berdinding dan bertehel putih yang kosong dan seperti tidak digunakan.

Di sebelah kanan jalan, ter- lihat barak-barak yang terbu- at dari kayu berjejer dan di- penuhi oleh mama-mama Papua yang menjajakan da- gangannya, mulai dari pisang, sayur, kasbi (ketela), rica dan hasil kebun lainnya. Mama Papua yang sebelumnya me- numpang mobil yang kami tumpangi, juga berjualan di pasar ini. Kontur jalan yang berkelok-kelok membuat sa- lah seorang rekan kami, Ady, mabuk perjalanan dan harus beristirahat sejenak. Waktu istirahat, saya manfaatkan untuk makan, di bangunan pasar Teminabuan.

Cukup istirahat, perjalanan kami lanjutkan ke Ayamaru. Di tengah perjalanan, bebe- rapa kali menerobos hujan yang cukup deras. Rekan ka- mi yang kebetulan dapat tem- pat duduk di bak belakang terbuka, mau tak mau keba- sahan, kendati sudah coba berlindung di terpal. Meski demikian, perjalanan terasa menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang jalan menu- ju Ayamaru, selain hutannya yang asri, banyak terdapat tanaman-tanaman yang indah dengan aneka warna yang menyegarkan mata, kuning, orange dan warna-warna cerah lainnya.

Perjalanan yang terasa begitu lama, akhirnya mende- kati akhir sekitar pukul 15.00 WIT saat kami tiba di gapura berwarna biru sebelah kanan jalan yang bertuliskan Selamat Datang. Setelah melintasi gapura tersebut, mobil yang membawa kami menyusuri jalanan dengan kontur tanah liat lebih kurang 1 km jauhnya.

Di perjalanan masuk menu- ju lokasi Danau Framu, terli- hat sebagian warga berjalan kaki keluar dengan kondisi basah seperti habis menik- mati segarnya air Danau Framu. Setelah tiba di tempat parkiran yang disediakan, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, meny- usuri jalan setapak di balik rimbunnya pepohonan. Se- kitar 15 menit melangkahkan kaki, danau berwarna biru sudah mulai terlihat. Indah sekali, birunya air danau di- padu pasir putih. Terlihat pula perahu berwarna coklat yang berada di tengah-tengah danau. Saking jernihnya air danau, perahu di tengah da- nau terlihat seolah-olah me- layang di angkasa.

Tak berapa lama kemudian hujan mengguyur, memaksa kami menunda hasrat menik- mati segarnya air Danau Framu. Ya, kami harus berteduh dari guyuran hujan deras. Lokasinya, teras kamar mandi yang di- bangun masyarakat setempat, dengan 4 pintu kamar mandi untuk pengunjung. Dari teras itu, kami bisa melihat Danau Ayamaru yang begitu luas namun tertutup kabut.

Setelah beberapa menit la- manya menunggu hujan reda, kami memutuskan untuk membangun tenda, sebagian rekan lainnya kebagian tugas membersihkan ikan untuk acara bakar-bakaran. Namun, birunya air Danau Framu memancing saya untuk ber- jalan menuju danau, sekedar cuci muka. Wuiiih, dinginnya menyegarkan. Saking jer- nihnya, ikan-ikan yang hidup di Danau Framu dengan jelas terlihat. Danau Framu seper- ti milik kami. Bagaimana tidak, saat itu hanya ada rombong- an kami. Rekan-rekan saya akhirnya tak sabar menikma- ti segarnya air danau, dan tanpa dikomado, langsung menceburkan diri.

Melewati semalam dengan berkemah di pinggiran Danau Framu, di bawah bulan yang bersinar terang dan cahaya yang terpantul dari air danau, membuat suasana malam sangat indah. Terasa lebih romantis lagi dengan petikan gitar dan nyanyian merdu. Acara bakar-bakar ikan di pinggir danau, juga tak kalah serunya.

Keesokan harinya seusai menikmati indahnya Danau Framu, kami memutuskan beranjak pulang. Tak lupa ka- mi sempatkan waktu sejenak, memungut sampah yang ada di sekitar tempat kami berke- mah dan sepanjang jalan se- tapak keluar dari lokasi wisa- ta Danau Framu, berharap agar lokasi wiswata Danau Framu yang begitu mempesona ini, tetap asri dan bersih dari sam- pah, agar bisa dinikmati re- kan-rekan pelancong lainnya. Indah dan mempesonanya Danau Framu, suatu waktu aku pengen kembali. (***) 


Kategori : Features

Komentar