Kehadiran dua cicit Pengijil Carl Wilhelm Ottow dan Johann G Geissler pada peringatan HUT Pekabaran Injil (PI) ke-163 di Pulau Mansinam, Senin 5 Februari, menjadi perhatian tersendiri bagi ribuan jemaat yang memadati Mission Centrum. Keduanya, Hans Ottow, cicit dari Carl Wilhelm Ottow, dan Johans Geisler, cicit Johann G Geisler, diberi kesempatan oleh panitia untuk menyampaikan kesaksian. Bahkan prosesi peringatan HUT PI ke-163 diawa- li dengan penjemputan Hans Ottow, cicit dari Carl Wilhelm Ottow, dan Johans Geisler, cicit Johann G Geisler saat menginjakkan kaki di pantai Pulau Mansinam.

Ribuan warga antusias me- nyaksikan kedua tamu asal Jerman ini. Hans Ottow dan Johans Geisler, menggunakan perahu dan menginjakkan kaki di pantai Pulau Mansin- am. Mengucapkan doa “Den- gan Nama Tuhan Kami Men- ginjakkan Kaki di Tanah ini” seperti yang diucapkan Ot- tow-Geissler saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Mansinam 163 tahun silam, Hans Ottow dan Johans Geisler, menginjakkan kaki di Pulau Mansinam, dekat Tugu Peka- baran Injil Ottow-Geissler.

Dua tamu kehormatan dari Jerman ini selanjutnya dibawa ke Mission Centrum untuk mengikuti ibadah. Hans Ottow dan Johan Gottlod Geissler yang mengenakan celana sel- utut, duduk di kursi terdepan, satu baris dengan Gubernur, Pangdam, Kasdam, Ketua Sinode GKI di Tanah Papua dan pejabat lainnya.

Keduanya mengemukakan, kisah perjuangan dan peng- orbanan kakek buyutnya, dua missionaris asal Jerman mengabarkan Injil di Tanah Papua pada tahun 1885 silam. Banyak tantangan yang di- hadapi selama perjalanan dari Jerman menuju Indone- sia, hingga memberitakan Injil ke masyarakat Papua kala itu. “Mereka (Ot- tow-Geisler) mengalami ba- nyak tantangan, pernah sakit saat pulang ke Jerman, namun mereka tetap kembali ke Pa- pua untuk melanjutkan per- juangan. Mereka tinggalkan anak istri demi menyampaikan ajaran Injil di Papua,” kata Johans Geisler, cicit dari Johann G Geisler di hadapan ribuan jemaat.

Johan melanjutkan, 163 tahun telah berlalu, tak terasa sudah sudah hampir dua abad moyangnya menginjakkan kaki di Pulau Mansinam. Dia menyampaikan terima kasih kepada Sultan Kerajaan Ter- nate atas bantuan yang dibe- rikan kepada Ottow dan Geisler. Melalui bantuan tumpangan perahu yang diberikan Sultan Ternate, kakeknya bisa masuk dan menyampaikan kabar Injil di Papua.

Hans Ottow, cicit dari Carl Wilhelm Ottow mengatakan, kakeknya membutuhkan wak- tu sekitar tiga tahun untuk sampai di Pulau Mansinam. Baginya, hal itu merupakan perjuangan yang sangat berat dan melelahkan. “Kami dari Jerman ke sini cuma butuh waktu satu hari. Sungguh per- bedaan yang sangat jauh den- gan kondisi yang dialami kakek kami kala itu,” sebutnya.

Hans Ottow menyampaikan terima kasih bagi seluruh war- ga Papua karena telah meny- ambut dan menyebarkan ajaran yang disampaikan moyangnya.

“Saya sadar, kakek kami datang dengan biji yang sangat kecil, tapi kini biji itu telah tumbuh dan berkembang di seluruh tanah Papua,” ujarnya.

Hal itu sangat ia rasakan saat tiba pertama kali di Manok- wari. Hasil jerih payah perju- angan Ottow dan Geisler sang- at membekas hingga kini. “Saya bangga, ada manfaat luar bi- asa dan kini dinikmati masy- arakat Papua. Banyak tantang- an yang mereka (Ottow-Geisler) hadapi, ada harapan dari tantangan tersebut. Hari ini saya sudah bisa melihatnya,” ujarnya lagi.

Mansinam merupakan pulau sejarah bagi peradaban masy- arakat Papua. Setiap 5 Febru- ari, pulau ini menjadi pusat perayaan HUT Pekabaran Injil di Tanah Papua. Ribuan pengunjung memadati peray- aan tahun ini, baik dari ka- langan masyarakat Manokwa- ri maupun kota-kabupaten lainnya di provinsi Papua Barat dan Papua, bahkan masy- arakat dari mancanegara. (***) 


Kategori : Features

Komentar