NEW YORK – Bruno Mars membuat keajaiban di Grammy Awards 2018 di Madison Square Garden, New York, kemarin WIB (29/1). Diunggulkan dalam enam kategori, pelantun Finesse itu menyapu semua piala. Tiga di antaranya dari kategori utama, yakni Record of the Year (24K Magic), Song of the Year (That’s What I Like), serta Album of the Year via album 24K Magic. 
 
Tiga trofi lain diperolehnya dari kategori Best R&B Solo Performance dan Best R&B Song lewat lagu That’s What I Like serta Best R&B Album lewat 24K Magic. Setiap naik ke panggung menerima trofi, dia mengajak timnya. 
 
’’Semua cerita horor yang kamu dengar tentang bisnis musik sudah kami lalui semua,’’ kata Mars saat menerima piala gramofon untuk kategori Song of the Year. Enam trofi kemarin mengantarnya menyamai prestasi Beyonce dan Adele pada Grammy 2010 dan 2012. Musisi yang memegang rekor meraih piala terbanyak dalam semalam adalah Michael Jackson, yakni pada edisi 1984.
 
Kemenangan itu terasa ajaib bagi Mars. Sebab, sebelumnya, dia tidak diunggulkan. Di tiga kategori utama, dia bersaing dengan dua musisi hiphop top Jay Z dan Kendrick Lamar. Jay Z juga menjadi artis yang paling banyak mengantongi nominasi malam itu, yakni delapan. Sementara itu, Lamar diunggulkan dalam tujuh kategori.
 
Daripada Mars, pengamat musik lebih menyukai Jay Z dan Lamar. Terutama di kategori Album of the Year. Mereka menilai 4:44 milik Jay Z dan DAMN karya Lamar punya makna yang lebih dalam, dan mengusung musik hiphop murni. 24K Magic, di sisi lain, dianggap lebih ngepop dan melayani selera publik kebanyakan. 
 
Toh, Mars-lah yang menarik lebih banyak anggota Recording Academy memberikan vote untuknya. Lamar harus puas merebut lima trofi (kebanyakan dari kategori Rap), sedangkan Jay Z harus rela pulang dengan tangan kosong.
 
Dalam Grammy kemarin, para musisi juga menunjukkan dukungan terhadap gerakan Time’s Up yang tengah mengemuka di kalangan pekerja film di Hollywood. Alih-alih busana serbahitam, mereka memilih mawar putih sebagai sarana protes terhadap kekerasan seksual dan segala bentuk diskriminasi.
 
Hampir semua undangan mengenakan mawar putih. Mulai Lady Gaga, Rita Ora, Kelly Clarkson, hingga supermodel Heidi Klum. Juga para cowok seperti Zayn, DJ Khaled, serta duo The Chainsmokers. Khusus untuk gerakan tersebut, penyanyi dan aktris Janelle Monae memberikan pidato yang sangat menggugah. 
 
’’Malam ini, aku bangga berdiri dalam solidaritas. Tak hanya sebagai artis, tapi juga sebagai perempuan muda bersama saudari-saudariku di ruangan ini yang merajai industri musik,’’ kata Monae. ’’Kepada semua yang berani mencoba membuat kami diam, kami tawarkan dua kata. Waktunya (sudah habis),’’ lanjutnya.
 
Waktu habis itu, imbuh Monae, ditujukan kepada ketidakadilan bayaran, diskriminasi, kekerasan, dan penyalahgunaan kekuasaan. ’’Hal-hal itu tidak hanya terjadi di Hollywood, tapi juga di sekitar kita,’’ imbuh bintang Hidden Figures tersebut. 
 
Di red carpet, para musisi juga bersemangat menunjukkan dukungan terhadap gerakan Time’s Up. ’’Ini saatnya memberikan suara kepada yang tak bersuara, juga untuk kesetaraan dan keamanan di tempat kerja,’’ kata frontman Imagine Dragons Dan Reynolds ketika diwawancarai Ryan Seacrest dari E!. (adn/c17/na)

Kategori : Nasional

Komentar