FAKFAK-Tebing tinggi yang berada di ujung bandara Torea Fakfak, Rabu (10/1) sekitar pukul 10.30 WIT longsor menimbun seorang driver eskavator, Epifanius Nakung (30) alias Fandi yang saat kejadian sedang memperbaiki salah satu alat berat yang digunakan untuk pekerjaan penimbunan lokasi proyek perpanjangan runway bandara. Proses pencarian dan evakuasi terhadap korban tertimbun longsor belum membuahkan hasil. Longsornya tebing bandara Torea ini terjadi akibat hujan yang mengguyur Kota Fakfak beberapa hari terakhir ini. Kejadian longsor ini menyedot perhatian warga.

Selain mengakibatkan seorang tertimbun material, 3 unit eskavator dan 1 unit bulldozer juga tertimbun longsor. Material longsor sepanjang 250 meter, lebar mencapai 50 meter, dengan ketinggian lebih kurang 30 meter, juga menumpuk hingga ke runway bandara mengakibatkan penerbangan Fakfak-Sorong tertunda.

Kepala Bandar Udara Torea, Halik Ginuni menjelaskan, lokasi longsor merupakan tebing bekas proses pemecahan menggunakan dinamit 5 tahun lalu. “Struktur tanah di lokasi bandara ini dulu sangat keras sehingga proses pengeboran diledakkan dengan dinamit dan sisa ledakan dinamit tersebut tidak diwaspadai sehingga terjadi longsor yang menelan korban meninggal dunia,” jelasnya.

Longsor yang terjadi ini mengakibatkan terjadinya gangguan penerbangan namun tidak terlalu signifikan karena tidak ada kerugian yang dialami oleh pihak bandara. Pihaknya focus mengevakuasi korban dan pemulihan bandara secara baik guna beroperasinya armada penerbangan Wings Air di Kabupaten Fakfak. “Saat ini tidak focus pada penerbangan tetapi hanya focus di proses pencarian korban, selanjutnya penataan penerbangan akan ditindak lanjuti,” jelas Halik Ginuni.

Kabandara Torea mengatakan, proses evakuasi material longsor untuk mencari korban, membutuhkan waktu sekitar 2 hari. “Kerugian yang dialami pihak bandara akibat musibah ini yaitu 2 buah lampu runway, namun yang terpenting adalah prioritas pencarian korban menjadi focus hingga ditemukannya,” jelasnya lagi.

Saksi mata yang saat kejadian juga berada di lokasi, Rudy dan Danu mengatakan, sebelum kejadian longsor, Fandi sedang memperbaiki alat beratnya. Setelah ada bunyi longsor,  Rudy dan Danu berusaha menghindar dengan berlari menjauhi tebing, sedangkan Fandi tidak mendengar bunyi gesekan tanah longsor hingga ia dan 4 alat berat tertimbun material longsor. “Kami berharap teman kami ini bisa ditemukan dalam kondisi apapun,” ucap Rudy.

Salah seorang penumpang Wings Air Fakfak-Sorong, Samaun Dahlan yang sehari-harinya menjabat Kepala Dinas PU Kabupaten Fakfak mengatakan, saat itu pesawat sudah keluar terminal parkir bandara sekitar 300 meter untuk menuju ujung landasan untuk persiapan take off. Dalam perjalanan, pilot tiba-tiba mengerem pesawat membuat penumpang terkejut mengira aga kesalahan tekhnis di pesawat, ternyata factor pembatalan pemberangkatan karena terjadi longsor yang mengakibatkan material berhamburan hingga melewati runway bandara.

“Setelah pilot melihat kejadian ini maka pesawat pun terpaksa balik dan berhenti dengan sempurna di terminal parkir, dan semua penumpang termasuk pilot dan pramugari meninggalkan pesawat sambil menunggu proses evakuasi terhadap material longsor tersebut,” kata Samaun Dahlan kepada wartawan, kemarin.

Pantauan Radar Sorong, material longsor berupa tanah dan bongkahan batu-batuan, termasuk sejumlah pohon terlihat melintang di landasan pacu bandara. Pihak bandara dan perusahaan kontraktor tempat korban bekerja, mengerahkan 3 unit eksavator untuk melakukan proses penggalian material longsor untuk mencari korban yang tertimbun material namun belum juga ditemukan.

Kejadian longsor ini menyedot perhatian warga. Pukul 14.00 WIT, Wakil Bupati Fakfak Ir Abraham Sopaheluwakan, Kepala Dinas PU Samaun Dahlan, sejumlah anggota DPRD Fakfak, didampingi Kepala Bandara Torea Halik Ginuni, memantau dari dekat pekerjaan evakuasi material longsor dan proses pencarian korban tertimbun. Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan proses pencarian korban masih terus berlanjut, sedangkan operasional penerbangan di bandara Torea ditutup.

Ditutupnya Bandara Torea akibat longsor membuat maskapai penerbangan Wings Air (Lion Group) tidak dapat terbang keluar maupun masuk di Bandara Torea. Akibatnya, puluhan penumpang yang akan berangkat dengan tujuan Sorong maupun tujuan Manokwari serta penumpang Sorong dan Manokwari yang akan ke Fakfak, batal diterbangkan dengan pesawat ATR – 72 milik maskapai Wings Air.

Pihak Wings Air Fakfak, Mieke Santoso yang dikonfirmasi via whatsaap, kepada Radar Sorong mengakui, akibat longsornya tebing Bandara Torea mengakibatkan pihak Maskapai penerbangan Wings Air tidak dapat menerbangan puluhan penumpang keluar dan masuk ke Fakfak. “Untuk pelayanan penerbangan pihak Wings Air masih menunggu konfirmasi dari pihak Bandara sehingga belum tahu kapan pelayanan penerbangan akan di buka kembali,” tutur Mieke Santoso. (ret/ric)


Kategori : Berita Utama

Komentar