PROGRAM Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Connect To China adalah program yang didirikan oleh Dahlan Iskan pada tahun 2010 lalu sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mensosialisasikan beasiswa untuk studi ke China.

LAPORAN : ISKANDAR ISHAR

TUNTUTLAH Ilmu Sampai ke Negeri Cina, pepatah lama ini mengingatkan kita untuk belajar menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kalau perlu, meninggalkan zona nyaman daerah sendiri, pergi merantau untuk menuntut ilmu di negeri orang.  Nah, salah satu beasiswa untuk studi di luar negeri, ditawarkan oleh program Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) yang didirikan oleh mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan pada tahun 2010 lalu.

Rabu (10/1) kemarin, diselenggarakan sosialisasi tentang tuntut ilmu ke negeri Cina yang dilangsungkan di SMA Averos oleh Education Consultant wilayah Papua Barat, Muhammad Taajuddin Muslim. Berbincang dengan Koran ini,  Muhammad Taajuddin Muslim menceritakan, program yang saat ini dijalankan merupakan inisiatif Dahlan Iskan yang kala itu melihat kemajuan pendidikan di Cina terutama ilmu kedokteran. Program Indonesia Tionghoa Culture Centre Connect to China sebagai penyambung agar anak-anak Indonesia lebih banyak keluar untuk melanjutkan studinya di Cina.

“Disana mereka bebas memiliki jurusan yang mereka sukai dengan biaya yang terjangkau, mulai dari Ilmu Komputer, Teknik Sipil, Kedokteran dan lain-lain. Misalnya sekolah kedokteran di Indonesia itu uang ratusan juta masih biaya pendaftaran, tapi kalau di Cina kuliah kedokteran sampai selesai biayanya hanya Rp 250 juta,” ujarnya.

Sejak tahun 2010, Indonesia Tionghoa Culture Centre Connect to China sudah memberangkatkan 2000-an anak Indonesia melanjutkan studinya di Cina. Maka kemajuan yang baik ini akan terus ditingkatkan agar siswa yang malanjutkan studi Cina semakin banyak. Setiap siswa yang dikirim ke Cina untuk melanjutkan studi, akan diseleksi berdasarkan keriteria nilai. Jika nilai A maka siswa tersebut akan mendapatkan beasiswa 100% dengan kategori bebas biaya pendidikan. Jika nilai B maka biaya pendidikan dibayar setengah, dan jika C maka siswa akan membayar biaya 75%.

Siswa yang akan dikirim melanjutkan pendidikan di Cina, akan diberi pembekalan dasar Bahasa Mandarin. Namun demikian, pada saat kuliah, akan ditempatkan di Kelas Internasional yang menggunakan Bahasa Inggris sehingga tidak menyulitkan siswa yang sudah pandai berbahasa Inggris. Hal manarik lainnya jika kuliah di Cina yakni kuliah sambil bekerja dengan pendapatan perbulan sekitar Rp 3,5 juta. Jika siswa yang kurang berprestasi dan hanya mendapatkan setengah beasiswa bisa menutupi kuliahnya dengan pendapatan kerjanya.

Saat ini, tim penjaringan Indonesia Tionghoa Culture Centre Connect to China melakukan sosialisasi ke seluruh provinsi di Indonesia, terutama di kota-kota yang memiliki banyak sekolah bertaraf unggulan. Pada tahun 2017 lalu, siswa dari seluruh Indonesia yang diberangkatkan ke Cina sebanyak 360 orang, dan tahun 2018 ini ditargetkan lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

“Khsusunya di Kota Sorong ini, kami sudah sosialisasi di SMAN 1, SMAN 2, SMKN 1, MAN Model, dan SMA Averos. Untuk di Papua ini kami akan upayakan hingga ratusan siswa. Jika suatu saat mereka selesai bisa kembali dapat mengabdi ke daerah,” ujar Muhammad Taajuddin Muslim.

Sosialisasi yang dilakukan pada siswa kelas III ini, sudah banyak siswa yang tertarik dan mulai berbicara dengan orang tuanya untuk bisa melanjutkan studi di Cina. Bahkan ada diantara siswa yang meminta orangtuanya untuk bertemu langsung dan mendengar penjelasan lebih detail dari tim penjaringan. (***)


Kategori : Features

Komentar