Gara-gara Bermain Sabu-Sabu, Ibu Muda Berpisah dari Tiga Anaknya

Manisnya Sabu Hanya di-Angan, Malu dan Sesal yang Dirasakannya

KEUNTUNGAN yang begitu besar merupakan daya tarik sabu-sabu. Tidak hanya pemuda, anak-anak, orang tua bahkan seorang ibu rumah tangga, juga dapat terjerumus di dalam bisnis haram yang menjanjikan keuntungan berlipat, namun salah-salah berurusan dengan aparat penegak hukum. Demikianlah yang dialami MY (26), ibu tiga anak yang kini harus berpisah dengan anaknya karena sabu-sabu.

 

LAPORAN : NAMIRAH HASMIR

SUDAH 4 hari MY (26) mendekam dibalik dinginnya jeruji besi di Polres Sorong. 4 hari, membuatnya sudah terbiasa dengan tempat barunya. Sikapnya cukup santai, meski merasa malu dan menyesali perbuatannya ikut terlibat peredaran narkotika jenis sabu-sabu.

Andai saja tak tergiur keuntungan bisnis sabu-sabu, mungkin saat ini ia sedang menjaga kios sambil berjualan nasi kuning di depan rumahnya. Tidak hanya itu, ia juga masih bisa leluasa bertemu dan bercengkerama dengan ketiga anaknya. Sayangnya, kini hal tersebut tidak bisa dilakukannya lagi. Bahkan ia kasihan jika sang anak mengetahui kondisinya saat ini.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, MY juga ikut membantu ekonomi keluarga. 3 orang anaknya, masing-masing berumur 12 tahun, 6 tahun dan seorang yang masih balita, masih sangat membutuhkan biaya. Kasihan dengan suaminya yang bekerja sendiri, ia memilih untuk membantu suami. “Saya jualan nasi kuning, bantu-bantu keluarga,” ucapnya kepada Radar Sorong sambil menundukkan kepala dengan rasa malu.

Bertemu dengan JM, salah satu pelaku pengedar narkoba yang kini ditahan bersamanya, seperti mendapatkan kesempatan yang besar. Bagaimana tidak, tawaran yang diberikan cukup lumayan, hanya dengan menyimpan narkoba, ia dapat memperoleh upah Rp 400 ribu.

Pertemuannya dengan JM tak disengaja, ia pun baru berkenalan. Saat JM datang ke kiosnya dan meminta untuk bekerja sama menjual narkoba, ia setuju. “JM ke kiosku tanya saya soal orang-orang yang mau narkoba, saya juga baru kenal dengan JM,” ucapnya.

Perkenalannya dengan JM berlanjut, hingga ia mengenali UD yang saat ini ditahan di tahanan Polres Sorong Kota. Setelah saling kenal, MY semakin tertarik untuk mengedarkan sabu-sabu. Namun sayang, baru pertama kali ingin berbisnis sabu, ia langsung diamankan anggota Polres Sorong di kediamannya.  “Saya menyesal,” kata itu yang ia ucapkan sambil menunduk.

Ia mengaku sedih. Waktu diamankan, ia hanya mengingat keluarganya. Sekarang, kedua orang tuanya dan suaminya yang akan mengurusi ketiga anaknya. “Sekarang anak-anak tinggal sama orang tua sama bapaknya,” katanya.

MY yang sudah cukup lama berdomisili di Kota Sorong, baru 2 bulan lalu mencoba untuk membuka kios dan berjualan nasi kuning. Dari situlah ia akhirnya tergiur bisnis sabu-sabu, namun bukannya untung besar yang didapatnya, malah jeruji besi tempatnya kini berada. Tertangkapnya sebagai pengedar sabu-sabu membuat keluarganya kaget, termasuk suami yang juga tidak mengetahui keterlibatan istrinya dalam bisnis sabu. Bukan hanya tak mendapatkan keuntungan berlipat yang dibayangkannya, malah rasa malu yang kini didapatkannya. Anak-anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya, kini tak lagi mendapatkan ‘haknya’ karena ia kini mendekam di balik jeruji besi. (***)


Kategori : Features

Komentar