MENJELAJAHI wisata alam yang mengandung sejarah kehidupan nenek moyang, memang sangat menyenangkan. Selain menikmati secara visual keindahan dari jaman dahulu, wisata sejarah juga menyimpan berbagai cerita menarik. Salah satunya lokasi wisata sejarah berada di Kampung Malaumkarta Distrik Makbon Kabupaten Sorong, namanya Goa Lilabus

LAPORAN : NAMIRAH HASMIR

JIKA biasanya Pulau Kelelawar menjadi lokasi pariwisata masyarakat yang berkunjung di Pantai Malaumkarta Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, ternyada ada satu lokasi wisata yang juga cukup menarik untuk didatangi di Distrik Makbon. Ya, namanya Goa Lilabus. Keunikan dan cerita prasejarah dibalik indahnya goa ini sangat menarik wisatawan, dan merupakan salah satu lokasi wisata di Distrik Makbon yang ‘wajib’ dikunjungi.

Berkunjung ke Goa Lilabus, waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 2 jam dengan menggunakan kendaraan yang dimulai dari pertigaan menuju Sorong Makbon Km 12 Kota Sorong.  Saat melintasi jalannya, rimbunnya pepohonan di hutan yang masih perawan, pegunungan dan beberapa sungai besar, terlihat menemani perjalanan yang cukup melelahkan. Sekitar 1 jam perjalanan, sebagian pengendara terkadang berhenti di pertigaan Makbon dan Malaumkarta untuk beristirahat sejenak.

Setelah rehat sejenak, motor kembali digeber ke arah Malaumkarta. Sebagian besar jalanan yang dilalui selama lebih kurang 2 jam lamanya dari Kota Sorong hingga Malaumkarta, sudah beraspal, namun di beberapa titik ada juga jalanan yang masih rusak, berbatu-batu maupun jalanan berlubang. Akhirnya, kami tiba di tanjakan yang di sebelah kanannya terdapat papan nama yang bertuliskan Kampung Malaumkarta.   Namun, jangan terkecoh dengan tanda panah yang tidak sesuai.  Papan penunjuk kampung Malaumkarta yang dipasang di pertigaan jalan menunjuk lurus ke arah kampung lainnya, Kampung Suatolo Distrik Makbon, padahal arah kampung Malaumkarta seharusnya langsung berbelok di pertigaan tersebut.

Jalanan ke kampung Malaumkarta dari jalan poros Sorong-Sausapor, masih merupakan jalan lingkungan yang berbatu-batu, belum diaspal. Kurang lebih 1 Km dari papan nama jalan yang mengecoh tersebut, akhirnya kami sampai di Kampung Malaumkarta. Selanjutnya kami mendatangi rumah Kepala Kampung, Oktovianus Mubalen (55) yang sedang memperbaiki sesuatu di halaman rumahnya. Disambut dengan hangat, kami menyampaikan tujuan kami yang akhirnya disambut baik olehnya untuk segera diantarkan ke lokasi yang kami maksud, Goa Lilabus.

Goa Lilabus ternyata berada tidak jauh dari mata jalan yang terdapat papan nama jalan yang penunjuknya mengecoh tersebut, sehingga kami harus berbalik arah. Lokasi Goa Lilabus sendiri berada sekitar 300 meter dari papan nama jalan. Namun, untuk memasuki goa tersebut, kendaraan harus terparkir di luar dan berjalan kaki sekitar 200 meter menembus rimbunnya pepohonan di hutan menuju lokasi goa.

Untuk sampai ke Goa Lilabus, Oktovianus yang ditemani cucunya membawa parang yang difungsikan untuk membabat rumput dan daun-daun  serta batang kayu yang menutupi jalan menuju Goa Lilabus. “Kita harus bawa parang. Kalau tidak, kita tidak bisa lewat karena banyak batang kayu,” ucapnya.  Beberapa kali kami sempat tersesat, hingga akhirnya menemukan mata air kali yang sangat jernih. “Kali ini yang namanya Kali Kalabus, kalau goanya baru Goa Lilabus,” ucapnya sembari menuntun rombongan kami melewati kali kecil yang dangkal, airnya hanya sebatas mata kaki orang dewasa.

Tidak butuh waktu lama. Setelah melalui kali kecil tersebut, mulut Goa Lilabaus mulai terlihat, seiring dengan suara gemericik yang sebelumnya saya sangka bunyi air yang jatuh di batu, ternyata merupakan suara burung Sriti yang berterbangan di dalam goa. Namun, untuk masuk kedalam goa, memang perlu penerangan, karena sedikitnya cahaya yang masuk. “Tidak hujan, jadi diluar kering,” kata Oktovianus.

Gelapnya goa, membuat kami yang terdiri dari 9 orang muda-mudi kabupaten dan kota Sorong yang saat itu sama-sama mengunjungi Goa Silabus namun tanpa perbekalan yang memadai karena tidak membawa senter khusus untuk menjelajahi, terpaksa menggunakan senter dari HP kami masing-masing. Saat memasuki goa, kawanan burung Sriti berterbangan hingga terkadang menabrak kami yang berdiri di dalamnya.

Goa Lilabus memiliki lantai yang lunak dipijak, mengingat lantai tersebut telah dipenuhi kotoran burung Sriti. Saat menginjak lantai yang lunak, kaki tenggelam sedalam mata kaki di lantai yang merupakan tumpukan kotoran burung, sementara atap Goa Lilabus banyak terdapat sarang-sarang burung Sriti yang beberapa diantaranya masih terdapat anak burung Sriti.

Di dalam goa tersebut, terdapat 1 ruang yang cukup luas yang dapat ditembusi cahaya matahari. Letaknya sekitar 15 meteran dari mulut goa. Meski ruangan diterangi cahaya tidak begitu terang karena terhalang rimbunan dedaunan dari arah mulut goa di bagian sebelahnya. Ada pula beberapa ruas, semacam tembusan goa namun sangat gelap untuk dimasuki. “Tidak ada tembusannya kalau di dalam situ,” ucap Oktovianus kepada Radar Sorong.

Di tengah keasyikan kami mengabadikan kondisi dalam goa, Oktovianus menceritakan jika Goa Lilabus ini merupakan peninggalan prasejarah yang sudah ada sejak jaman dahulu. Goa difungsikan oleh leluhurnya sejak dulu sebagai tempat berlindung. “Ini sudah lama, orang dulu banyak yang tinggal disini untuk berlindung,” jelasnya.

Di dalam goa tersebut, juga terdapat tumpukan batu yang mirip dengan meja dan kursi yang menunjukkan pernah adanya kehidupan di dalam goa tersebut. Selain itu, ada beberapa cangkang kerang yang tergeletak di lantai goa yang tidak diketahui jika tidak disenter terlebih dahulu.  Oktovianus yang juga merupakan tuan tanah di Malaumkarta, bersama dengan saudaranya, hanya mengetahui sejarah goa tersebut berdasarkan cerita turun temurun dari orang tua. Sehingga, ia belum mengetahui secara pasti mengapa nama goa tersebut dinamakan Goa Lilabus. “Sekarang saya sama keluarga saja yang tahu dan urus goa kalau ada yang mau datang berkunjung,” kata bapak 4 anak dan 4 cucu tersebut.

Selain Goa Lilabus, Malaumkarta memiliki beberapa goa, salah satunya yang berada di gunung yang menurut Oktovianus, merupakan tempat persembunyian orang jaman dahulu saat terjadi perang.  “Bukan Goa Lilabus ini saja, diatas sana ada goa lagi, kalau ada perang, mereka naik ke atas goa untuk bersembunyi, kalau goa disini hanya untuk aktifitas dan beristirahat,” tuntasnya. (***)


Kategori : Features

Komentar