Tak salah memang jika Gunung Cyclop disebut sebagai mama bagi masyarakat setempat. Sebab selain sebagai satu sumber kehidupan, banyak hal yang menjadi cerita turun temurun di gunung ini, termasuk soal mistiknya dan itu banyak dipercayai masyarakat.

Laporan : Abdel Gamel Naser - Jayapura

Tulisan cerita perjalanan kedua ini, tak hanya melengkapi tulisan bagian pertama mengenai perjalanan yang menempuh waktu selama 10 jam, tetapi juga perihal lain terkait hal-hal yang berbau mistik dan masih dipercaya masyarakat setempat. Dari perjalanan yang dimulai pukul 10.00 WIT dan melewati 5 pos, tim pendaki akhirnya tiba di Teras Cyclop.

   Di teras inilah disepakati untuk dipakai sebagai lokasi camp atau tempat didirikan tenda. Hampir pukul 21.00 WIT dengan kondisi lelah dan dingin satu persatu pendaki tiba di lokasi. Untungnya saat tiba sudah ada tenda yang didirikan  sehingga peserta pendakian tak lagi bersusah payah harus membangun tenda.

   Ukurannnya tidak besar. Hanya sekitar 3 x 2 meter yang posisinya mengambil potongan tanah. Jadi lokasi tenda ini sebelumnya berbentuk gundukan tanah yang kemudian dikikis lurus untuk dijadikan dinding guna menghindari angin. Posisinya sengaja dibuat miring agar tak terlalu memerlukan bantal.

  Di lokasi yang sama dengan sedikit ke bagian atas disitulah dipakai untuk memasak dan memasang hammock untuk beristirahat. Cuaca saat itu memang tak sepenuhnya bersahabat. Bagaimana tidak, kami diterpa empat kali hujan, bahkan ketika sampai di camp ternyata hujan masih sempat turun sekali.

  Untungnya tak terlalu lama, sehingga tubuh bisa segera dihangatkan. Untuk beristirahat, semua disarankan menggunakan sleeping bag atau pakaian hangat lebih dari satu. Pasalnya, jika sudah sore hingga malam suhu mendadak dingin menembus kulit.

  Selama pendakian tubuh memang sangat membutuhkan air, sebab tak sedikit yang mengalami dehidrasi. Kami bersyukur karena dalam pendakian masih ada 2 titik jalur air yang biasa digunakan untuk mengisi stok air yang menipis. Sayangnya di pintu dekat lereng dimana sumber air berada, ternyata ditemukan tumpukan sampah plastik dan kotak kaleng bekas  orang lain yang pernah mendaki lebih dulu.

   "Ini yang kadang membuat kami kesal. Mereka tak paham apa itu aturan di hutan, padahal sebelumnya tak ada sampah dan setelah mereka pulang justru meninggalkan sampah," sindir Fendi, salah satu anggota tim.

   Hal menarik lainnya adalah selama 10 jam perjalanan dan melewati banyak halangan berlumut dan tumpukan humus yang basah, ternyata diam-diam ada "serangan" yang ditakuti banyak peserta. Pacet atau lintah berukuran kecil yang ternyata banyak menumpang di tubuh. Seluruh peserta bisa dibilang sempat dihinggapi untuk "memeras" darah.

  Pacet ini sendiri kadang langsung menempel di kulit dan bisa segera diketahui jika menempel di bagian yang tak tertutupi kain. Namun jika masuk ke dalam sepatu maupun baju tentu sulit di deteksi. Rasanya ketika ia menempel hanya terasa gatal kecil. Namun siapa sangka jika tetap dibiarkan maka tubuh Pacet akan membesar dipenuhi dengan darah.

   Seperti yang dialami Cenderawasih Pos, dimana hingga turun ada 7 ekor pacet yang sudah menempel, salah satunya di dalam sepatu dan terlihat mulai membesar. Empat peserta wanita yang paling tak kuat dengan ini. Kadang mereka langsung berteriak histeris dan merontak meminta segera dilepas karena terasa menjijikkan dan geli.

   Namun pacet tak mudah begitu saja dilepas jika sudah menempel. Harus sedikit dipaksa agar bisa terlepas. Hanya saja biasanya jika sudah kenyang dengan sendirinya Pacet akan terlepas. Tapi siapa yang mau menunggu hingga Pacet kenyang? Biasanya cara untuk mengusir Pacet adalah menggunakan air tembakau.

  Jika tak ada tembakau bisa menggunakan rokok yang dibasahkan kemudian airnya diperas di bagian tubuh yang digigit. Akan tetapi karena lokasi Cyclop tak boleh dipakai untuk merokok akhirnya kami menggunakan minyak tawon dan tak lama Pacet terlepas dengan sendirinya.

   Selain Pacet, yang ditakuti lainnya adalah nyamuk atau Lalu Maleo. Bentuknya mirip lalat atau nyamuk dan jika sudah menempel di kulit biasanya akan meninggalkan rasa gatal yang sulit hilang. "Bisa sampai 4 hingga 5 hari baru hilang gatalnya. Dia seperti nyamuk dan menghisap darah kemudian terasa gatal. Ini hal lain yang sebenarnya kami takutkan," sambung Fendi.   

   Namun jika berbicara soal kondisi Cyclop saat ini, bisa dibilang jauh dari beberapa tahun lalu. Saat ini debit air terus menurun dan kali-kali yang dulu terisi air kini sudah banyak yang mengering. Salah satu penyebabnya adalah bentuk perambahan yang perlahan terus meluas.

  Harus diakui bahwa sebelum masuk ke pos 1, jalur yang dilalui adalah lokasi pemukiman masyarakat. Sudah banyak rumah yang berdiri dan mungkin sudah masuk ke dalam kawasan penyangga. Selain pemukiman warga, ada juga gedung milik pemerintah dalam bentuk kantor yang sangat luas berdiri di lokasi serupa.

  Perambahan dalam bentuk kebun juga terus meluas. Publik harus mengingat bahwa tahun 2007 Cyclop menegur manusia dengan merobohkan 7 buah jembatan dan saat itu jalur transportasi lumpuh.

Saat ini Cyclop dikatakan masih “ngambek”, mengingat debit air yang dikeluarkan terus mengalami penurunan. Jika beberapa tahun lalu air yang turun dari mata air terjun Cyclop sangat deras, namun kini air seakan merayap turun  mengikuti batu cadas yang  menempel kokoh. Debit air dipastikan terus menurun.

  Cyclop sendiri menyimpan keanekaragaman hayati yang terbilang lengkap sehingga tak heran dijadikan sebagai hutan konservasi. Di Cyclop banyak satwa dilindungi mulai dari Kasuari, Burung Cenderawasih, Kus-kus, Kakatua Jambul Kuning, Burung Nuri kepala hitam. Ada juga yang menyebut pernah melihat hewan berkantung mirip Kanguru berukuran kecil yang disebut Dasyrys  albopunctatus  termasuk kupu-kupu transparan, kodok dan burung raja serta hewan lainnya. Selain satwa ada juga tanaman semisal Kayu Soang, Anggrek Hitam dan beberapa jenis tanaman lainnya.

   Kayu Soang memiliki banyak kelebihan, dimana dari hasil penelitian terungkap jika barang kayu yang tumbuh di sekitar kaki Gunung Cyclop ini memiliki kemampuan tahan terhadap api, rayap dan air. Biasanya Kayu Soang dipakai sebagai tiang-tiang rumah di daerah pesisir termasuk dipakai untuk membuat perahu karena tahan air.

   Sayangnya Kayu Soang kini terancam punah karena sering diambil. Menurut sahabat saya bernama Rachmad, dari pengalamannya mengelilingi pegunungan Cyclop ia mencatat di Cyclop ada bangau yang endemik Cyclop, lalu ada juga bambu yang hanya memiliki 1 ruas. "Keduanya endemik Gunung Cyclop dan harus dijaga, jangan sampai orang naik justru melakukan perburuan," tegasnya.

   Cyclop dulunya juga dikenal memiliki batu yang disebut Batu Cyclop. Konon batu yang rupanya berwarna warni dan diyakini bisa mendatangkan keberkahan atau rejeki. Dulunya masih sering ditemukan orang penjual Batu Cyclop di Bandara Sentani. Namun seiring waktu  hal-hal ini hilang dengan sendirinya. Meski demikian, Cyclop tetap menyimpan sejuta cerita termasuk cerita tentang hal yang berbau mistik. Saat kami mendaki juga diingatkan untuk tidak merokok, berteriak sembarangan termasuk melakukan aktifitas merusak seperti menebang atau membakar sembarangan. Jika dilanggar maka ada sanksi.

   Terkait soal ini, saat tiba pertama, Luther sang leader mengaku dikagetkan dengan kemunculan Burung Kasuari. Namun Kasuari ini tidak nongkrong lama dan langsung pergi. Dikatakan ini sangat jarang terjadi. Begitu juga malam harinya, ketika seluruh peserta sedang nongkrong untuk menghangatkan tubuh, ternyata ada hewan semacam tupai kecil atau mirip juga dengan Kus kus yang naik ke dahan pohon yang akan dipakai untuk mengikat Hammock.

   Jaraknya sangat dekat dan entah bagaimana dengan situasi yang minim penerangan ada saja yang bisa melihat keberadaan hewan-hewan ini. Saat ditunjukkan arah Tupai tersebut nongkrong ia terlihat memperhatikan titik kumpul rombongan sambil menengok kiri kanan.

  Kata Luther, bisa jadi itu sosok salah satu penghuni Teras Cyclop yang ingin mengetahui siapa tamunya. Peneas juga membenarkan ini. "Ada yang jaga di Barat dan ada juga yang di Utara dan yang Kasuari itu kami yakini yang ingin menyapa selamat datang, sedangkan yang Tupai ia ingin memastikan apa yang kita lakukan. Hujan tadi bukan kita langgar aturan, tapi situasinya memang harus hujan, berbeda kalau ada yang merokok. Itu hujannya awet," beber Luther.

   Luther lantas melanjutkan ceritanya dimana dikatakan pada tahun 2014 lalu ketika dilakukan pendakian ada sosok manusia bertubuh pendek yang melapor kepada para leader jika ada anggota dari mereka yang melanggar.

  "Itu di pos 3 dan ia menggunakan pakaian putih memberitahukan jika ada yang berbuat salah. Benar adanya karena tak lama kemudian ada peserta yang ditegur," cerita Luther.

   Luther dan lainnya memberi apresiasi dimana dari pendakian ini ternyata peserta memiliki komitmen ikut menjaga Cyclop beserta isinya. "Kami senang ternyata tim kali ini mempunyai misi yang sama dengan kami. Cyclop harus dijaga bersama, tidak boleh dirusak karena akan ada bencana," jelasnya.

   Pada malam kedua tim pendaki menunjukkan keseriusannya menjaga Cyclop dengan membacakan puisi tentang Rhobong Holo serta Cenderawasih. Dibacakan oleh Dzikri El Han bahwa Rhobong Holo adalah mama, mama yang selalu  memberi dan terus memberi hingga menguras apa yang dimiliki.

  Cenderawasih Pos sendiri membacakan soal Mahkota Raja (Mahkota Cenderawasih) yang kini berlabel harga. Banyak ditemukan di pasar dan terkesan melecehkan karena yang awalnya tak boleh sembarangan orang memakai kini bebas digunakan siapa saja. Soal hal-hal yang berbau mistik, ini nampaknya memang harus dipercaya. Ini terkait memotret yang paling tidak perlu "buang suara" di lokasi yang akan dipakai memotret.

   Cenderawasih Pos yang sedari pagi mencari angle  foto dan mengabadikannya ternyata mendapati hasil yang jauh dari memuaskan. Padahal ketika itu  kondisi cuaca dengan pencahayaan sangat bagus.

   Secara teknis tak ada masalah, namun setelah dijepret berlaki-kali ternyata tidak bisa menghasilkan foto sesuai harapan. Ini juga dialami Fendi peserta lainnya yang mengoperasikan Handycamnya ternyata sulit fokus. Ia bahkan harus merelakan hampir 100 foto miliknya yang hilang di Hp. "Hilang semua, sial sekali. Ada apa ini," ujar Fendi dengan nada tidak percaya.    

  Kondisi hasil foto mulai membaik ketika kami menyampaikan ini kepada Peneas dan iapun tersenyum-senyum. Di Teras Cyclop ini sendiri pemandangannya sangat menarik karena bisa melihat Kota Sentani dari ketinggian. Tapi bila ingin melihat secara baik waktu yang paling tepat adalah tidak lebih dari jam 9 pagi, sebab pemandangannya akan tertutup awan.

  Jika di Kabupaten Toraja ada tempat wisata negeri di atas awan maka jika memotret dari Teras Cyclop, pemandangan yang sama juga tersaji. Pada tanggal 31 pagi, setelah semua misi selesai tim akhirnya turun pukul 9 pagi dan tiba di Sentani pukul 17.00 WIT dengan kondisi sangat lelah dan beberapa peserta kakinya cedera.

   Sangat melelahkan, saya bahkan juga merasakan satu kaki saya panjang sebelah. Tapi ini sebuah cerita yang tak bisa saya lupa. Berjalan naik 10 jam dan turun sekitar 8 jam dan saya sepakat, Cyclop harus dijaga. Kami sudah mendengar banyak cerita tentang Cyclop. (*/tri)


Kategori : Features

Komentar