Di saat sebagian besar warga Kota dan Kabupaten Jayapura mempersiapkan diri untuk perayaan malam pergantian tahun. Sekelompok anak muda memilih melakukan pendakian Gunung Cyclop. Cenderawasih Pos salah satu yang ikut dalam rombongan pendakian ini.

Abdel Gamel Naser - Jayapura

Cyclop bukan tempat sampah,  Cyclop bukan tempat selfie, Cyclop bukan tempat wisata, Cyclop bukan bumi perkemahan, Cyclop bukan arena pendakian dan Cyclop bukan kolam renang. Sebuah catatan atau peringatan tegas yang disampaikan seorang rekan setelah mengetahui bahwa akan ada pendakian ke Gunung Cyclop di akhir tahun 2017. Kecemasan yang cukup beralasan karena jika tak ada peringatan keras, maka kawasan hutan konservasi ini berangsur-angsur akan rusak.

  Pesan ini kemudian berlanjut dengan bunyi: Jangan ada foto yang membuat orang penasaran untuk melakukan pendakian dan tulisan serta foto sebaiknya tidak mempromosikan Cyclop sebagai salah satu lokasi yang bisa dipakai untuk berwisata. Ini akan berbahaya karena semakin banyak yang mendaki maka akan semakin banyak sampah dan ada banyak hal yang bisa terganggu.

  ”Saya dahulu bekerja berkeliling Cyclop dan naik turun Dafonsoro, Ravenirara tapi tidak pernah menceritakan ini semua ke public, tentang betapa luar biasanya penjelajahan itu. Cerita itu saya simpan demi Cyclop yang tetap terjaga, demi anak cucu,” tulis sahabat saya yang jauh - jauh hari sudah lebih dulu melanglangbuana di Cyclop.

Sahabat saya ini memang sangat khawatir bila ada aktifitas yang berlebihan di Cyclop sehingga terus mewanti tim yang akan melakukan pendakian. Namun karena planing ini sudah diagendakan jauh-jauh hari dengan persiapan yang cukup matang akhirnya agenda perjalanan ke Cyclop tetap dilakukan.

  Ia juga mengingatkan bahwa apapun aktifitas yang dilakukan di Cyclop termasuk pendakian harus sepengetahuan BBKSDA dan membekali diri dengan surat Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) sehingga tak bisa semaunya naik dan mendaki begitu saja. ”Kegiatan wisata dan yang sifatnya komersil tak boleh dilakukan di area cagar alam. Kalau penelitian silahkan,” wantinya seperti tak henti.

  Cyclop sendiri lebih tepat disebut pegunungan mengingat tak  hanya satu punggung melainkan banyak punggung atau puncak. Pegunungan Cyclop ini juga kadang disebut pegunungan Robhong Holo atau pegunungan Dobonsolo. Disini terdapat beberapa puncak seperti Puncak Dafonsoro dengan ketinggian 1.580 Mdpl, Puncak Butefon 1.450 Mdpl, Puncak  Robhong 1.970 Mdpl, Puncak Haelufoi 1.960 Mdpl, Puncak Rafeni 1.700 Mdpl dan Puncak Adumama 1.560 Mdpl.

Dari cerita masyarakat, Pegunungan Cyclop ini diambil dari sebutan Rhobong Holo  yang menceritakan legenda seorang perempuan bernama Rhobong  yang pergi ke sisi utara bertemu seorang pemuda bernama Haelufoi  dan akhirnya keduanya menghilang.

   Namun untuk mengetahui keberadaan keduanya, masyarakat mengibaratkan Puncak Dobonsolo di bagian timur adalah sosok sang Haelufoi sedangkan di bagian barat adalah si perempuan, Rhobong. Jika menilik dari catatan Wikipedia, Cyclop  atau Siklop sendiri berasal dari kata Cycoon Op yang kemudian berubah menjadi Cycloop.  Cycoon atau Cycloop ini sendiri berasal dari hahasa Belanda yang artinya awan kecil yang terpecah-pecah dan Op artinya puncak sehingga disimpulkan Cycoon Op artinya awan awan kecil yang berada di bawah atau di atas puncak gunung tersebut.

   Namun karena penyebutan akhirnya Cyoon Op ini berubah menjadi Cyclop. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Cyclop berasa dari missionaris dari Yunani yang melintas menggunakan pesawatnya di Sentani dan melihat Gunung Cyclop seperti dewa atau raksasa bermata satu di Yunani, Cyclops sehingga anggapan itu terus menempel hingga sekarang.

   Gunung ini sendiri menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura karena menjadi salah satu gunung yang menyimpan peran vital sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di bawahnya. Gunung yang menyimpan air dan berbagai macam flora fauna yang dilindungi.

   Cyclop masuk dalam cagar alam berdasar SK Menteri Pertanian Nomor 56/Kpts/Um/1/1978 tertanggal 26 Januari 1978 dan ditetapkan berdasar SK Menteri Kehutanan Nomor 365/Kpts-II/1978 tertanggal 18 Nopember 1987 dengan luasan 22.500 Ha.

  Pendakian yang dilakukan tim penulis dimulai pada  29 hingga 31 Desember atau nginap 2 malam selama di atas. Tercatat ada 13 orang yang berangkat dimana 4 diantaranya adalah perempuan. Tujuan pendakian ini sendiri tak lain selain ingin mengetahui langsung kondisi terkini Gunung Cyclop tetapi juga menceritakan apa saja yang tersaji selama pendakian.

Pada Jumat (29/1) ini tim penulis berangkat dimulai pukul 10.00 WIT dengan mengambil jalur BTN Sosial. Tas ransel yang berisi berbagai perbekalan termasuk hammock dan sleeping bag terlihat memadati tas dan satu persatu langkahpun dimulai.

Dari saran yang diterima, idealnya jika ingin sampai sebelum malam hari maka pendakian dilakukan pada pukul 06.00 WIT, sebab biasanya hanya membutuhkan waktu 6 jam perjalanan untuk mendaki gunung ketinggian 2.034 Mdpl ini. Hanya membutuhkan waktu 6 hingga 7 jam jika berjalan normal. Namun jika molor apalagi bebarengan dengan perempuan maka waktu tiba dipastikan akan molor. Ini akhirnya terbukti dimana kami akhirnya finish pukul 20.00 WIT atau ada 10 jam perjalanan. Waktu tempuh yang terbilang lambat. Kami dibantu oleh dua leader bernama Luther atau Lutfi dan Gayus. Keduanya merupakan anak binaan CPA Hirosi yang selama ini ikut memproteksi kawasan hutan Cyclop.

Namun tim juga bisa memaklumi karena selain medan perjalanan yang sangat-sangat berat, beberapa kali kami juga diterpa hujan. Selain itu ada juga peserta yang membutuhkan waktu lebih lama karena harus menapak pelan-pelan. Peserta ini memiliki bobot tubuh 90 Kg dengan tinggi sekitar 160 Cm.

  Dalam tim sendiri ada dua peserta yang memang harus dikawal ekstra karena sedikit lebih lambat dibanding yang lain. Setelah melewati sedikit pemukiman warga dan melewati kali kecil kami akhirnya tiba di sebuah bukit yang sering disebut Bukit Adumama  atau dalam bahasa sehari-hari disebut aduh mama.

  Bukit ini kadang diwanti oleh para leader karena menjadi tantangan pertama bagi pendaki pemula. Meski tak terlalu menanjak, namun karena kondisinya lebih banyak padang ilalang membuat cahaya matahari langsung menyentuh tubuh, alhasil fisik harus benar-benar siap. ”Ini yang biasa dikeluhkan, tantangan pertamanya ya di bukit adu mama ini,” kata Luther.

  Betis dan pinggang memang harus siap karena meski terlihat landai namun jaraknya untuk masuk ke hutan terbilang lumayan hingga ketika sudah berada sampai di kaki gunung biasanya tubuh sudah ngos-ngosan apalagi yang ”maju” dengan style tertutup. Jaketan, topi kupluk, celana panjang termasuk menggunakan sarung tangan.

  Dalam pendakian ke Cyclop ini siapapun dia tak boleh menganggap remeh situasi. Semua kemungkinan harus diantisipasi dengan perlengkapan yang memadahi terlebih soal dingin. Penggunaan sandal dalam pendakian juga tak direkomendasikan karena banyak medan yang tak bersahabat dengan kaki. Terlebih soal pacet atau lintah berukuran kecil. Selama pendakian ada lima pos yang harus dilewati dan setelah melewati pos kedua menuju pos ketiga, keempat dan kelima barulah bisa disebut dengan pendakian sejati. Di sini medan benar-benar tak biasa.

  Jika sebelumnya Cenderawasih Pos sudah pernah merasakan medan di gunung-gunung di Jawa Tengah dimana hanya tersisa Gunung Slamet yang belum pernah dinaiki. Namun kondisi berbeda terlihat jelas untuk jalur pendakian ke Gunung Cyclop. Mungkin karena memang Cyclop bukanlah gunung yang menjadi lokasi yang harus didaki layaknya gunung-gunung yang ada di daerah Jawa. Jalan yang dilewati semua tertutup dengan tumpukan dedaunan bahkan ada juga humus yang tersangkut akar hingga akhirnya bisa dipijak dan sudah pasti akan memantul serasa menginjak spon.

   Tanjakan atau kemiringan yang tersaji di Gunung Cyclop juga tak biasa, ada yang mencapai hyampir 90 derajat alias mirip seperti memanjat dinding. Benar-benar tak pernah membayangkan akan mendapat medan seperti ini. Kondisinya juga tak mudah, kadang harus berpegang pada akar pohon yang muncul di permukaan tanah, atau memegang ranting, termasuk melompati pohon yang roboh.

  Ada juga yang harus nyungsep atau merebahkan tubuh hingga menempel rata dengan tanah ketika harus melewati potongan pohon tua yang tumbang. Ada juga yang naik merapatkan lutut dengan dibantu tangan termasuk memanfaatkan tali pepohonan yang memang diikat untuk berpegangan. Ini sangat-sangat membantu apalagi lokasi kemiringan begitu curam dan tak ada dahan pohon yang bisa dipegang.

  Bisa dibilang tak ada peserta  yang tak terlepeset, tak ada yang tak jatuh. Bahkan ada yang harus jatuh terguling meski tak jauh. Sebuah medan yang membuat kami geleng-geleng kepala. Ini bukan jalur manusia karea tubuh sudah ditekuk tekuk sedemikian rupa. ”Ya seperti itu medannya makanya disarankan menggunakan sepatu,” kata Luther.

  Luther sendiri merupakan seorang pemuda asal Mamberamo Raya yang lama tinggal di Sentani bersama Ketua CPA Hirosi, Marshal Suebu. Tubuhnya tak tinggi namun padat. Ia sendiri sudah berkali-kali ke puncak Cyclop untuk mengantarkan tamu seperti turis ataupun peneliti.

  Menurut Luther ada beberapa jalur yang biasa digunakan untuk naik ke puncak. Namun selama ini ia lebih memilih jalur BTN Sosial. Yang terakhir di tahun 2016 yang ia antar adalah sebuah rombongan besar berjumlah 71 orang. Sebuah tim yang harus benar-benar terkoordinasi secara baik. Untungnya dalam setiap pendakian tim leader tetap memegang prinsip para pendaki bahwa pulang tak meninggalkan sesuatu kecuali jejak dan tidak mengambil sesuatu kecuali gambar.

  ”Ini selalu kami pegang teguh. Tak boleh pergi dan akhirnya meninggalkan sampah. Kami akan ditegur dengan sendirinya jika ini terjadi. Tak boleh ada yang dirusak, sebab hutan bukan milik satu dua orang tetapi semua dan wajib dijaga,” kata Luther.

  Dalam pendakian, mahasiswa ISBI di Tanah Papua ini, juga menyampaikan tentang hal-hal yang harus diwanti atau rambu - rambu yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah tak boleh merokok. Ini menjadi aturan wajib jika tak ingin mendapatkan masalah. Ya rokok menjadi satu hal yang  paling dilarang dilakukan di gunung ini. Entah apa alasannya namun ”sang penghuni” sepertinya memang tak suka ada asap rokok. ”Kalau dilanggar atau diam-diam dihisap ya silahkan ditanggung sendiri. Pasti ada konsekwensinya,” kata Luther diiyakan rekannya Peneas.

Ia menceritakan bahwa dalam pendakian sebelumnya ada salah satu peserta rombongan yang sudah diingatkan ternyata tetap memilih merokok diam-diam. Alhasil iapun sempat ditampar oleh sosok yang tak jelas. ”Itu dia sampaikan sendiri, ketika ia merokok tiba-tiba seperti ada yang menampar dan tamparannya keras sekali. Ia menanyakan kepada teman yang ada disampingnya ternyata tidak ada yang melakukan itu (menampar) dan iapun mematikan rokoknya,” cerita Luther. ”Hal ini bukan satu kali tapi sudah pernah beberapa kali dilanggar dan selalu ada teguran yang diberikan,” bebernya.

Peneas menambahkan bahwa jika tak ditanggung sendiri, biasanya tim yang akan menanggungnya. Bentuknya adalah hujan. ”Itu paling sering, kalau sudah ketahuan ada yang merokok ya kita siap-siap ditegur. Paling hujan yang tak berhenti sebelum kami buang suara ke mereka (penjaga/penghuni) Cyclop,” sambungnya. (bersambung)

 


Kategori : Features

Komentar