AJAL tak dapat ditebak kapan datangnya. Tak peduli usia, jika Tuhan sudah memanggil, siapapun dia tak bisa mengelak. Demikian pula dengan Abdul Kavur Merin (60) dan Sahrul (5) yang telah dipanggil Tuhan usai melaut, sedangkan nasib baik masih berpihak pada Ronald Jay Ponto (12) yang berhasil selamat. Bagaimana musibah tersebut terjadi, berikut ini penuturan Rondal Jay Ponto yang ditemui di rumah duka di Jln Pantai Otto-Geisler Kelurahan Tanjung Kasuari Kota Sorong, kemarin.

LAPORAN : RAHMAT FAJAR

SIANG di Kamis (4/1) pukul 12.00 WIT, suasana di rumah duka dua korban meninggal dunia, Abdul Kavur Merin (60) dan Sahrul (5) yang berlokasi di Jln. Pantai Otto-Geisler Kelurahan Tanjung Kasuari terlihat sepi, hanya 4 orang yang terdiri dari dua perempuan dan dua pria sedang duduk-duduk di sekitaran rumah duka. Tenda biru yang ditopang 10 batang bambu dan jejeran kursi masih terlihat di luar rumah duka.

Koran ini yang bermaksud mencari informasi dan kejelasan terkait kejadiaan naas yang merenggut nyawa dua orang tersebut, kemudian menyapa keempat orang tersebut. Diantara keempat orang yang berada di rumah duka, dua diantaranya adalah saksi sekaligus korban, Ronald Jay Ponto dan saksi yang pertama kali melihat kejadiaan naas itu, Sulaiman.

Trauma dan duka yang mendalam masih terlihat jelas di raut wajah Ronald Jay Ponto. Bagaimana tidak, kakek dan adiknya telah lebih dulu dipanggil Tuhan. Saat menceritakan kejadian yang menimpanya, tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.  Perlahan-lahan dan berkat dorongan dua wanita yang berada di sampingnya, Ronald Jay Ponto akhirnya bisa menceritakan kejadian naas tersebut.

Awalnya sekitar pukul 07.15 WIT, saat itu ia yang baru saja bangun dari tidurnya, diajak oleh kakeknya, Abdul Kavur Merin untuk melaut di seputaran laut Suprau. “Saya bilang, saya tidak mau ikut, karena saat itu saya memilik firasat tidak baik karena mimpi yang aneh. Tapi kakek bilang Sahrul juga ikut, akhirnya saya ikut karena ada adek,” kata Jay. Ia kemudian bergegas mandi dan ganti pakean untuk mengikuti ajakan kakeknya melaut.

Setelah semua siap, mereka bertiga berangkat dari pantai di depan rumahnya. Perahu yang digunakan ketiganya pun menyisir laut sepanjang Tanjung Suprau. Setelah 4 jam lebih menyisir laut Suprau, sekitar pukul 11.30 WIT, matahari yang sudah mulai terik dan ombak yang kuat, kakeknya kemudian memutuskan untuk pulang. “Karena sudah panas, kakek bilang kita pulang sudah neh,” ucap Jay dengan mata berkaca-kaca.

Saat perjalanan pulang, karena ombak yang begitu keras, kakeknya memutuskan menambah kecepatan agar longboat yang mereka tumpangi tidak goyang meskipun ombak keras. “Jadi pas kita pulang itu kakek dia laju kencang, katanya supaya longboat tidak goyang,” kata Jay. Sepanjang perjalanan pulang, longboat yang mereka tumpangi tidak mengalami goyangan berartu meskipun saat itu ombak kuat. Kurang lebih 300 meter lagi mereka sampai ke pantai, tiba-tiba perahu berhenti karena mesin mati. “Saat itu kakek bilang mesin mati, jadi kita turun. Kebetulan saat itu sudah dekat pantai,” katanya.

Mereka bertiga kemudian turun dari perahu dengan posisi dirinya ditopang dan adeknya digendong diatas pundak sang kakek, kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah pantai. Dirinya yang tadinya di topang kemudian dipersilahkan oleh sang kakek untuk berenang menyisir ke pantai, sementara adiknya masih dalam gendongan sang kakek yang pelan-pelan mengikuti jejaknya untuk menyisir daratan. “Kakek bilang kau berenang duluan sudah ke darat, nanti kakek bawa adek menyusul,” katanya lagi.

Namun saat sang kakek dan Sahrul menuju daratan, perahu yang mereka tumpangi, perlahan-lahan dibawa ombak ke tengah laut. Kakeknya yang melihat perahu dibawa ombak, dengan menggendong adeknya sambil berenang kemudian mengejar perahu yang perlahan-lahan dibawa ombak. Saat mengejar perahu itulah, sang kakek dan Sahrul sudah tidak terlihat lagi, diduga tenggelam.

Tak melihat sang kakek dan adiknya muncul di permukaan laut, Jay kemudian berteriak memanggil warga bernama Sulaiman yang berada tidak jauh dari dirinya. Sulaiman yang kemudian mendapat  laporan dari dirinya, kemudian memanggil warga lainnya untuk melakukan pertolongan. Namun upaya pertolongan tidak membuahkan hasil, disinyalir keduanya sudah tenggelam dan dibawa ombak. Dengan mata  berkaca-kaca, Jay mengatakan saat ini ia sangat rindu dengan kakek dan adiknya, karena semasa hidup, dirinya merupakan cucu yang paling disayang kakeknya. “Saya rindu kakek, kakek paling sayang saya, karena kalau kakek mau kemana-kemana pasti ajak saya,” kata Jay sambil terisak.

Wanita yang berada di samping kanan Jay, yang merupakan keponakan Abdul Kavur Merin, menilai sosok Abdul Kavur Merin merupakan sosok lelaki yang bertanggunggung jawab, tidak pernah membeda-bedakan cucu-cucunya dalam membagikan rezeki yang ia dapatkan dari hasil melaut. “Tuhan yang menciptakan, Tuhan juga yang mengambil, semoga kakek bahagia di alam sana,” katanya. (***)


Kategori : Features

Komentar