Garuda Indonesia
 

KAIRO - Kondisi keamanan Mesir masih belum kondusif. Sejak ditetapkannya state of emergency di Mesir pada April 2017 dan selanjutnya diperpanjang mulai 13 Oktober 2017 hingga Desember 2017, aparat keamanan Mesir secara terus-menerus melakukan razia terhadap WNA dalam rangka penertiban keamanan di Mesir.

Melalui keterangan resmi, Duta Beaar RI di Mesir Helmy Fauzi menuturkan, hingga 4 Desember 2017, KBRI Kairo telah memfasilitasi deportasi delapan belas siswa dan mahasiswa yang tertangkap dalam razia dan dinilai mengancam keamanan nasional Mesir.

Menurut Helmy, dengan mempertimbangkan besarnya jumlah mahasiswa di Mesir yang potensial sebagai sasaran razia aparat keamanan Mesir, KBRI Kairo telah mengkomunikasikan saran tindak lanjut terhadap kasus ini kepada instansi terkait di Indonesia.

”Termasuk mempertimbangkan untuk menghentikan pengiriman mahasiswa ke Mesir selama situasi dan prosedur keamanan di Mesir belum kondusif,” kata Helmy kemarin (5/12).

Razia oleh otoritas Mesir masih terus dilakukan. Baru-baru ini, otoritas Mesir kembali melakukan razia dan menangkap lima mahasiswa asal Indonesia. Lima mahasiswa asal Indonesia ditahan otoritas Mesir. Mereka adalah Dodi Firmansyah Damhuri, Muhammad Jafar, Muhammad Fitrah Nur Akbar (ketiganya merupakan mahasiswa tingkat II Fakultas Syariah Universitas Al Azhar), Ardinal Khairi (mahasiswa tingkat I Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar).

”Satunya adalah Hartopo Abdul Jabbar. Dia adalah pelajar persiapan Bahasa Arab/Darul Lughoh yang merupakan salah satu dari 122 calon mahasiswa nonprosedural yang tiba di Mesir awal 2017,” kata Helmy.

Mereka sempat ditahan di Kantor Polisi Nasr City II karena memerlukan pendalaman investigasi lebih lanjut dari National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir.

Dodi dan Jafar sudah dibebaskan otoritas Mesir karena masih memiliki ijin tinggal yang masih valid. Ardinal dan Hartopo diputuskan untuk dideportasi karena alasan keamanan nasional. Keduanya sudah dipulangkan 30 November lalu. Sementara Fitrah masih harus mendekam dalam tahanan tanpa kejelasan. Padahal, Fitrah masih memiliki izin tinggal valid hingga 2018.

Helmy mengatakan, lazimnya, saat ada penangkapan WNI, otoritas Mesir akan memberikan notifikasi kepada KBRI Kairo. Namun, hingga saat ini, notifikasi penangkapan lima WNI tersebut tidak juga diterima KBRI Kairo. ”Informasi kami terima secara informal dari Dodi Firmansyah Damhuri,” ujarnya.

Helmy mengatakan, pihaknya menyayangkan proses penangkapan mahasiswa Indonesia tanpa notifikasi kepada KBRI Kairo. Kendati begitu, KBRI Kairo terus melakukan koordinasi dengan National Security dan kembali menyampaikan permohonan untuk membebaskan WNI tersebut. (and)


Kategori : Nasional

Komentar