Garuda Indonesia
 

SORONG-Noken adalah tas yang asli dibuat oleh mama-mama Papua. Hanya ada di Papua, pemerintah Indonesia mengajukan tas Noken ke UNESCO dan akhirnya diakui sebagai warisan budaya Indonesia pada 4 Desember 2014. Memperingati hari bersejarah ditetapkan noken sebagai warisan dunia oleh Unesco, ratusan orang dengan menggunakan pakaian adat Papua dan membawa tas noken, menggelar longmarch dari Sorpus hingga ke lapangan Hocky Kampung Baru tempat digelarnya Festival Noken untuk pertamakalinya ini.

Ketua Komunitas Pencinta Noken se-Sorong Raya yang juga Panita Festival Noken, Markus Wafom mengatakan, Festival Noken ini dilakukan dari hasil partisipasi dari teman-teman jadi harapan kami kedepan dari pemerintah kota untuk mendukung. Festival Noken ini baru pertama kali dilakukan, tujuannya mensosialisasikan Noken ke masyarakat Kota Sorong, sekaligus merupakan upaya untuk melestarikan noken sebagai symbol dan budaya asli Papua.

Dikatakannya, noken sudah ditetapkan sebagai warisan dunia. Karena itu, diharapkan kepada generasi muda untuk menjaga noken sebagai warisan budaya asli Papua.  Pemerintah daerah juga diharapkan mendukung dengan mengeluarkan peraturan daerah yang mengatur hari-hari tertentu yang wajib menggunakan noken. Jika hal ini diterapkan di Kota Sorong, tentunya akan berdampak langsung ke mama-mama Papua yang membuat noken. “Jadi kita ini hanya fasilitator saja untuk menyelenggarakan Festival Noken yang diikuti mama-mama Papua pengrajin noken,” katanya.

Festival noken yang pertama kalinya dilaksanakan ini terdiri dari 12 stand, diikuti oleh mama-mama Papua dari wilayah Sorong Raya seperti Tambrauw, Maybrat, Raja Ampat, Sorsel dan Kota Sorong. “Di Papua ini ada 250 suku, jadi setiap daerah nokennya berbeda-beda dan noken termahal dari Anggrek Rp 10 juta,” katanya.

Salah satu pengrajin noken, Yulita Pigai mengatakan, untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari didapatkan dari hasil menjual noken. Noken-noken yang dia jual bervariasi dan harga-harga yang ditawarkan sesuai model dan bahan baku noken. “Harganya dari Rp 50 ribu yang kecil hingga Rp 2 jutaan, ada juga yang lebih mahal kalau dari kulit kayu dan akar,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pengunjung Festival Noken Kota Sorong, Maria yang asal Australia, mengaku pengoleksi noken dan sangat menyukai noken yang telah mendunia. Banyak noken yang dikoleksinya, dari noken Anggrek hingga yang noken modern. “Saya suka noken, unik. Saya punya koleksi noken banyak, seperti noken anggrek dan masih banyak lagi,”katanya. (zia)


Kategori : Berita Utama

Komentar