Garuda Indonesia
 

MANOKWARI-Empat narapidana atau warga binaan yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Manokwari ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencairan Orang). Keempatnya melarikan diri pada Minggu (3/12) dini hari dengan memanjat tembok yang cukup tinggi.

Kalapas Manokwari, Yosef Yembise, pada jumpa pers,Senin (4/12) mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk mengejar keempat narapidana ini. Dia berharap kepada keluarga atau masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka dapat segera melapor ke petugas Lapas.

 “Yang melarikan diri ini saya harapkan untuk segera kembali untuk mengikuti proses pembinaan bersama teman-temannya yang lain. Lari tidak menyelesaikan masalah, tetapi sama saja ciptakan penjara baru di luar,’’tandasnya.

Keempat narapidana yang kabur berinisial RB, YI, WR dan AM, semuanya divonis bersalah atas perkara pencurian dengan lama hukuman bervariasi. RB divonis 1 tahun 6 bulan dan akhir hukuman 1 September 2017,YI divonis 1 tahun 5 bulan berakhir 15 Oktober 2018, WR divonis 2 tahun akhir masa hukuman 15 Oktober 2018 dan AM divonis 5 bulan yang masa hukumannya berakhir 8 Desember 2017 atau tersisa 5 hari.

Kalapas menjeleskan, keempat narapidana ini kabur dari Lapas setelah menggerjaji teralis besi ventilasi ruangan 4C sekitar pukul 04.00 WIT disaat  warga binaan lainnya sedang tertidur lelap. Mereka diduga memanjat pagar tembok menggunakan kain sarung dekat Pos C.

Yosef Yembise mengatakan, saat kejadian hanya terdapat 3 piket jaga,sedangkan 2 petugas lainnya sakit dan cuti. Kejadian ini baru diketahui Minggu pagi sekitar pukul 05.00 WIT. Petugas piket jaga yang mengontrol ruangan terkejut karena penghuni kamar 4 C berkurang.

Tak ada  tanda-tanda mencurikan. Diduga keempat narapidana ini memanfaatkan kondisi hujan deras yang mengguyur kota Manokwari Minggu pagi.“Malam sebelumnya mereka ibadah, bahkan salah satu yang lari itu memimpin doa, puji-pujian. Sebelumnya tak ada tanda-tanda mereka mau melarikan diri,”tandasnya.

Kondisi Lapas yang over kapasitas serta jumlah petugas yang minim membuka peluang bagi warga binaan melarikan diri. Kalapas pun kerap ikut membantu petugas piket hingga tengah malam.“Kondisi Lapas yang over kapasitas, jumlah petugas minim dan SDM terbatas. Kalau terjadi kerusahan di dalam mungkin sulit diatas karena terbatasnya petugas,” imbuhnya.(lm)


Kategori : Manokwari

Komentar