Garuda Indonesia
 

Sekeluarga besar yang terdiri atas ratusan jiwa memilih untuk tak terpencar sejak mengungsi kali pertama hingga kini. Sudah bersiap baru akan bisa balik ke kampung asal dalam waktu yang lama.

SAHRUL YUNIZAR, Karangasem

PAKAIAN terbaik dikenakan Gusti Mangku Pidada. Maklum, Eka Dasa Rudra, upacara yang akan diikutinya, termasuk istimewa. Hanya dihelat sekali dalam seratus tahun.

Pidada termasuk salah satu bocah yang membawa sesajen ke Pura Besakih, Karangasem, Bali. Tempat peribadatan dilakukan.

’’Saya masih ingat betul semuanya,’’ kenang Pidada tentang upacara pada 1963 tersebut.

Pidada yang ketika itu berusia 12 tahun tak mungkin lupa karena bertepatan dengan itu, Gunung Agung meletus. ’’Sama sekali tidak ada yang tahu akan meletus,’’ katanya.

Bahkan, seingat dia, tidak ada satu pun yang lari tunggang lang­gang dari Pura Besakih. Mereka justru menunggu sampai muntahan bebatuan keluar seluruh­nya.

’’Setelah itu baru mengungsi,’’ imbuhnya.

Lima puluh empat tahun berselang, Pidada tak menyangka pengalamannya saat bocah tersebut akan bermanfaat bagi keluarga besarnya. Ya, ketika status Gunung Agung naik menjadi awas Jumat (22/9), dia menjadi salah satu pemandu untuk keluarga.

Meski tenaganya tidak lagi besar, saran dan petuahnya didengarkan seluruh keluarga besar yang berjumlah total 119 jiwa. Termasuk Ngurah Ema Putra. Pria berusia 35 tahun itu merupakan kemenakan Pidada.

Dialah yang mengoordinasi seluruh keluarga besar sehingga tidak tercerai berai selama mengungsi. Sejak kali pertama perintah mengungsi diserukan aparat setempat, Ngurah Ema langsung berembuk.

’’Kami kumpul untuk tentukan keputusan,’’ katanya kepada Jawa Pos.

Dia ingat betul, perintah mengosongkan Desa Besakih, tempat tinggal mereka, keluar amat mendadak. Tengah hari. Ketika banyak anggota keluarga yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing.

Meski tanda-tanda letusan Gunung Agung seperti yang dikisahkan leluhurnya belum semua terjadi, dia tetap patuh pada keputusan aparat. Dalam rembuk dadakan yang dilaksanakan keluarga besar, diambil keputusan bulat.

Mereka, satu keluarga besar, tidak boleh terpencar. Harus selalu bersama. ’’Karena kalau jauh pasti susah,’’ ungkapnya.

Namun, apa daya, perintah dadakan membuat keputusan itu seolah angin lalu. Beres berkemas, mereka sama-sama meninggalkan Desa Besakih di kaki gunung tertinggi di Bali itu.

Melaju di atas kendaraan masing-masing ke Klungkung. Tapi, setiba di sana, mereka tidak bisa tinggal satu tempat. Akan habis waktu mencari tempat mengungsi apabila tidak cepat. Alhasil, buru-buru mereka mengisi tempat yang masih menerima pengungsi.

Sadar tidak satu tempat, Ngurah Ma dan anggota keluarga lain mulai membuka komunikasi. Mereka sampaikan posisi masing-masing. Berikut anggota keluarga yang turut serta.  ’’Dua hari setelahnya kami dapat tempat yang bisa menampung semua keluarga,’’ ujarnya.

Letaknya strategis. Berada tepat di samping kantor Polres Klungkung. Mereka gunakan eks kantor Bank Dagang Bali sebagai lokasi pengungsian. Gedung tiga lantai itulah yang menjadi lokasi pertama mereka bersama di satu pengungsian.

Sejak saat itu pula, mereka tidak pernah berpisah. Selalu bersama-sama di satu lokasi pengungsian. Tapi, diakui Ngurah Ma, tidak mudah beradaptasi dengan tempat baru.

Apalagi Klungkung dan Besakih amat berbeda. Dia dan keluarganya terbiasa hidup di tempat dingin. Sedangkan Klungkung, menurut mereka, cukup panas.

Alhasil, perbedaan itu membuat para sesepuh sempat gusar. Sempat tidak ingin berlama-lama, Ngurah Ma dan anak muda lainnya berhasil meyakinkan mereka.

Bahwa berada di Besakih tidak akan lebih baik. Sebab, jika Gunung Agung meletus, mereka langsung terimbas. Bagaimana tidak, desa tempat mereka lahir itu berada tidak lebih dari 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. Selain itu, desa mereka masih salah satu kawasan rawan bencana (KRB). Yang sejak Gunung Agung berstatus awas harus kosong.

’’Kami tidak neko-neko. Kata pemerintah ngungsi, kami ngungsi,’’ ucap Ngurah Ma.

Meski harus jauh dari rumah dan tinggal alakadarnya, tidak masalah. Selama bersama-sama, mereka selalu bahagia. Apalagi puluhan anak usia sekolah yang turut serta dalam rombongan keluarga berjumlah 119 jiwa itu tetap bersema­ngat belajar meski harus beberapa kali berpindah sekolah.

’’Masa depan anak-anak itu yang paling penting bagi kami,’’ kata pria bertubuh gempal tersebut sampil menunjuk wajah-wajah lugu yang tengah tertidur lelap tadi malam (27/11).

Ketika Jawa Pos menyambangi keluarga Ngurah Ma, mereka sudah tidak mengungsi di kantor eks Bank Dagang Bali. Melainkan sudah berada di lokasi pengungsian kedua di Banjar Pringalot, Karangasem. ’’Kami di sini sejak 5 Oktober,’’ ujarnya.

Keputusan pindah dari lokasi pengungsian pertama ke lokasi pengungsian kedua tidak lain didasari perasaan ingin selalu dekat rumah. Tetap bersama-sama. Utuh satu keluarga.

Alasan lain yang juga membuat mereka pindah dari Klungkung ke Karangasem adalah kembalinya pengungsi yang berasal dari KRB I dan II ke rumah masing-masing. Begitu status Gunung Agung diturunkan dari awas ke siaga, memang banyak yang memilih pulang.

Pikir Ngurah Ma, mereka sudah pasti tidak lagi menempati lokasi pengungsian. Sehingga tempat yang semula penuh pengungsi di Karangasem pasti sudah ditinggalkan.

Benar saja, beberapa banjar di Kecamatan Rendang sudah tidak dijadikan lokasi pengungsian. Melihat kesempatan itu, dia langsung meminta izin kepada aparat kecamatan.

’’Kami dapat di sini. Tidak sebesar pengungsian di Klungkung. Tapi, cukup untuk kami semua,’’ ungkapnya, lalu tersenyum.

Di banjar itu, dia bersama 118 keluarga lainnya kini tinggal. Mereka sadar, lebih dari dua bulan menjadi pengungsi belum apa-apa. Sebab, mereka percaya, butuh waktu lama untuk sampai bisa kembali ke rumah di Besakih.

Keyakinan itu lahir dari cerita kakek-nenek mereka. Bahwa pasca Gunung Agung meletus 54 tahun lalu, butuh lebih dari setahun untuk bisa memulai menatap hidup di tempat asal.

Karena itu, Ngurah Ma dan keluarga siap sejak jauh hari. Dimulai dari bunyi bahaya terdengar, mereka sudah tahu. Ketika melangkahkan kaki untuk mengungsi, mereka akan sangat lama meninggalkan rumah. Bisa setahun, bisa juga lebih.

Tidak heran, walau harus lama berada di lokasi pengungsian, raut wajah Ngurah Ma dan keluarganya tetap tampak bahagia. Misalnya, yang terlihat malam kemarin. Saat Jawa Pos juga dikenalkan oleh Ngurah Ma kepada keluarganya.

Di antara anggota keluarga yang sudah tertidur pulas, mereka berkumpul. Ngobrol santai untuk berbagi cerita. Termasuk soal perkembangan terbaru Gunung Agung. Apa pun bunyinya mereka terima. Asalkan masih bersama-sama, kabar buruk pun tidak masalah bagi mereka. (*/c5/ttg)


Kategori : Features

Komentar