Garuda Indonesia
 

Basuki Cahya Purnama alias Ahok memang saat ini sudah tidak menjadi orang nomor satu di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Namun, ketenaran Ahok nampaknya masih membekas di hati para fansnya sampai hari ini. Terbukti, rumah kediamannya di Belitung rutin dikunjungi fansnya, dalam sehari rata-rata mencapai 300 orang.

LAPORAN : RUBEN ISIR

DALAM kunjungun media visit yang difasilitasi PT ANJ Agri ke Bangka Belitung melihat langsung dari dekat aktifitas anak perusahaannya, PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM) memproduksi minyak sawit mentah (CPO), serta PT Austindo Aufwind Energy yang memproduksi energy terba­haru­kan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit, salah satu agenda media visit di Belitung tanggal 21-24 November lalu, yakni mengun­jungi kediaman pribadi keluarga Ahok di Desa Lenggang Kecamatan Gentong Kabupaten Belitung Timur (Beltim) Provinsi Bangka Belitung (Babel).

Dipandu Head Corporate Communication PT. ANJ Nunik Maharani didampingi Manager Conservasi Nardiyono dan rekan-rekan, warta­wan Sorong Raya yang terlibat dalam media visit di Belitung ini, diajak ke Desa Lenggang lokasi kediaman Ahok. Dari mess PT SMM tempat kami menginap sampai ke desa lenggang membutuhkan waktu lebih kurang satu jam.

Jika dari bandar udara H.A.S Hanandjoeddin di Belitung, kediaman keluarga Ahok bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan kendaraan roda dua atau empat. Setibanya di depan kediaman keluarga Ahok, ternyata sudah ada beberapa kendaraan yang terparkir dengan tujuan yang sama, mengunjungi rumah dan keluarga Ahok.

Bagi penduduk lokal, Desa Lenggang seperti desa-desa lain pada umumnya yang biasa-biasa saja, namun berbeda dengan wisatawan domestic dan mancanegara yang berkunjung ke Belitung Timur, umumnya penasaran dengan tokoh sekaliber Ahok. Setibanya di pintu masuk, kami disambut salah satu penjaga rumah kediaman keluarga Ahok, bapak Roni yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja di keluarga Ahok. Sebelum masuk, penjaga menyodorkan buku tamu atau pengunjung yang diisi oleh setiap tamu/wisatawan yang berkunjung.

Dalam daftar buku tamu sesuai urutan saat itu rombongan kami berada di nomor urut ke 137. Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB.  Saat berdiskusi sejenak dengan penjaga pintu masuk, pria paruh baya itu menceritakan bahwa setiap hari kediaman keluarga Ahok ramai dikunjungi wisatawan dari Eropa, Negara-negara Timur Tengah dan juga wisatwan dari asia termasuk wisatawan domestic yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Pakde Rony, sapaan akrab sang penjaga rumah mengatakan, pengunjung dalam sehari jumlahnya rata-rata 300 orang. Umumnya yang berkunjung adalah wisayatawan yang ingin mengisi waktu liburan dan atau juga rombongan satu tim karena kegiatan. Saat tiba di kediaman, di dalam rumah dua lantai dan 8 kamar keluarga tersebut dalam keadaan tertutup. Di dalam rumah ada ibunda Ahok, Burnianti Ningsih yang saat itu kebetulan datang menunjungi rumah dan memastikan seluruh kar­yawan, ternak, dan juga seluruh asset yang ada di dalam tanah seluas hampir satu hektar itu dalam keadaan aman. Sedangkan ayanda Ahok, Indra Cayaha Purnama sudah meninggal sejak Ahok masih kecil, 6 tahun.

Pakde Roni mengatakan, ibunda Ahok lebih banyak menghabiskan waktu bersama menantunya (istri Ahok) dan cucu-cucunya di Jakarta. Sedangkan kediamannya di desa Gentong dikunjungi sesekali, 2 atau tiga bulan sekali. Menurut Pakde Roni, ibunda Ahok tidak menemui dan menyapa tamu yang setiap hari masuk-keluar dikarenakan kondisi fisiknya yang semakin melemah memaksanya lebih banyak mengisi waktu istirahat daripada menerima tamu.

Keadaan ini bisa dimaklumi dan tidak menurunkan niat kami untuk terus mengunjungi setiap sudut halaman yang di dalamnya ada binatang peliharaan seperti Kuda Poni dan Unta, juga ada sanggar aneka butik dan souvenir khas Ahok yang dibuat ibunda Ahok dan masih masih banyak lagi spot-spot yang bisa dikunjungi.

Pakde Roni mengatakan, rumah kediaman keluarga Ahok seluas 50x40 meter persegi itu dibangun kedua orang tuanya, sedangkan Ahok tidak miliki rumah lain atau rumah yang dibangun dengan hasil keringatnya sendiri. Entah mengapa Ahok tidak membangun rumah pribadi terpisah dari orang tuanya, padahal karier politiknya sebelum tersandung masalah hukum, terbilang moncer. Mungkin, salah satu alasan logis karena tak mau pisah jauh-jauh dari ibunda terkasih yang telah merawat dan membesarkannya seorang diri semenjak ditinggal sang ayah saat ia baru berusia 6 tahun, beberapa puluh tahun lalu. (***)


Kategori : Features

Komentar