Garuda Indonesia
 

MANOKWARI-Diduga mengambil senjata api jenis pistol milik anggota TNI,empat remaja salah satunya masih di bawah umur diamankan dan proses hukum oleh Satuan Reskrim Polres Manokwari. Kasat Reskrim Polres Manokwari, AKP Aries Diego Kakori kepada wartawan mengatakan, kasus pencurian senjata api ini terjadi di pelabuhan saat kapal Pelni sandar.

Kasus pencurian ini dilaporkan seorang anggota TNI AD. “Datang pelapor bersama para terduga kasus pencurian ini. Kita melakukan pemeriksaan dan ternyata cukup unsur,” tandas Kasat Reskrim ditemui di ruang kerjanya,Selasa (7/11). Diego Kakori mengatakan, kejadian pencurian senjata api milik anggota TNI ini terjadi pertengahan September lalu. Senpi dimasukan di dalam tas yang di dalamnya juga ada flasdisk dan power bank.

Saat keempat terduga diperiksa penyidik, lanjut Kasat Reskrim, sempat mengaku mengambil tas. Karena di dalam tas ada senjata api, keempat terduga merasa takut sehingga senpi tersebut ditinggalkan di atas kapal. “Namanya pengakuan, memang betul mereka mengakui ada pengambilan tas. Tetapi karena di dalam tas ada senjata api mereka jadi takut. Menurut mereka, senjata api itu ditinggalkan di kapal,” beber Diego.

Yang dibawa keempat terduga hanya flasdisk. Pelapor yang merupakan anggota TNI ini melakukan pencarian dan menemukan flasdisk di suatu kamar. Flasdisk ini menurut Kasat Reskrim, dikuasai oleh salah satu terduga pelaku.  Keempat terduga pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka kini sedang menjalani proses hukum.

Kasat Resrim mengatakan, salah satu di antaranya masih di bawah umur dan berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Manokwari.  Sedangkan tiga tersangka lainnya masing-masing HB (21), JK (21) dan CM (19), ditahan di ruang tahanan Polres Manokwari.

Kasus pencurian senjata api ini melebar setelah ketiga tersangka menjadi korban penganiayaan oleh oknum TNI seperti yang dilaporkan orang tua korban ke POM Kodam XVIII/Kasuari. Kejadian pemukulan terjadi Senin (6/11) pagi sekitar pukul 09.40 WIT.

Ketika itu, ketiga korban yang ditahan di ruang tahanan Polres Manokwari diminta keluar. Selanjutnya mereka diinterogasi oleh 3 oknum anggota TNI terkait senpi yang hilang. Namun disayangkan, interogasi ini disertai ancaman/intimidasi dan pemukulan yang mengenai bagian ulu hati, pipi kiri kanan/rahang dan mulut korban.

Kasat Reskrim mengatakan, saat kejadian pemukulan, dirinya tak berada di  kantor. Dia mendapat laporan dari anak buah. “Saya hanya dapat laporan bahwa Pak Warinussy membuat laporan soal kasus tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, sejumlah warga melakukan aksi pemalangan Jalan Yos Sudarso di Wirsi, Selasa (7/11) pagi sekitar pukul 09.00 WIT. Kendaraan dari arah Fanindi dan Sanggeng tak bisa lewat sehingga memilih putar haluan melalui arah Reremi.

Ruas jalan diblokir menggunakan kayu dan batu. Warga juga membakar ban bekas yang asapnya membumbung hitam.  Aparat keamanan yang mendapat laporan langsung bergegas ke lokasi kejadian. Sejumlah anggota TNI AD, TNI AL dan polisi yang berjaga-jaga di Pos Sanggeng, beberapa di antaranya bersenjata, bernegosiasi dengan warga agar membuka palang.

Tak lama, warga melunak dan bersedia membuka palang. Api dari ban bekas dipadamkan. Anggota TNI dan polisi membersihkan sisa-sisa sampah di jalan, sehingga arus kendaraan di Jalan Yos Sudarso kembali normal.

Aksi blokade jalan ini sebagai protes atas kasus pemukulan 3 tahanan di Polres Manokwari oleh oknum TNI AD.  Warga menyayangkan ada aksi main hakim sendiri padahal ketiga pemuda yang dituduh mengambil senjata api anggota TNI tersebut telah ditahan dan diproses hukum.

Yan Kafiar, warga Wirsi  kepada Radar Sorong mengutuk keras kasus pemukulan 3 tahanan oleh oknum TNI. Dia menilai, aksi blokade jalan sebagai hal yang wajar sebagai bentuk protes kepada aparat negara sehingga masyarakat luas mengetahuinya. “Mereka (3 pemuda) sudah diproses oleh Reskrim, tetapi mereka diminta keluar dan disiksa lagi. Jadi saya nilai protes warga ini wajar. Tidak mungkin warga menyampaikan protes dengan mendatangi aparat yang memegang senjata,” tuturnya.

Kapolres Manokwari AKBP Christian Ronny, kemarin siang bertandang ke kompleks Wirsi menemui warga. Dia berharap masyarakat tetap menjaga keamanan dan ketertiban, serta tidak lagi melakukan pemalangan jalan karena dapat mengganggu aktivitas umum. “Memang tadi siang saya ke Wirsi. Saya hanya menghimbau agar mereka (warga) tidak melakukan pemalangan lagi,” ujarnya via pesan di Whatsapp. (lm)


Kategori : Berita Utama

Komentar