Garuda Indonesia
 

Pada 1 Maret 2006, Pulau Nami menyatakan diri sebagai ”negara” berdaulat. Tapi, tak ada perpecahan. Tak ada pertumpahan darah. Karena komoditas utama Republik Naminara, namanya kini, adalah indahnya imajinasi dan jagat dongeng.

DOAN WIDHIANDONO, Chuncheon

TEMPATNYA romantis banget,” kata Ita Widya Pra- tiwi Arek asli Dampit, Kabupaten Malang, itu mengu- capkan kalimat tersebut sesaat setelah feri yang membawa kami meninggalkan Republik Naminara, Minggu (15/10). 

Di bawah langit yang mulai memburatkan warna jingga di ufuk barat, feri dengan ba- gian atas berbentuk kubah itu melaju, menyeberangi Sungai Han, menuju Chuncheon, ibu kota Provinsi Gangwong, Korea Selatan (Korsel).

Ita, remaja kelahiran 28 Ok- tober 2000 tersebut, memang pantas kesengsem dengan Pulau Nami alias Republik Naminara. Segala ba- yangan tentang romantisme berkum- pul jadi satu dalam pulau kecil seluas 460 ribu meter persegi dengan keliling 5 ki- lometer itu.

Di pulau tersebut ada po- hon-pohon menjulang dengan tajuk yang meneduhkan. Ada dedaunan kuning yang me- naungi jalan berbatu. Ada ta- man-taman elok dengan tem- pat rehat. Ada patung-patung dan benda seni yang tersebar di seluruh penjuru taman.

Romantis. Indah bak puisi.

Seperti ungkapan di depan pintu gerbang imigrasi Republ- ik Naminara: autumn in Nami Island is a poem. Musim gugur di Naminara adalah sebuah keindahan laksana puisi...

***
Di sini kami dirikan negara. Pada tanah yang bermadah 
ini, Pulau Nami, kami bangun negeri dongeng.

Kami beradaptasi,
Kami berbaur,
Kami tulis kisah dongeng, Kami lukis kisah dongeng, Kami hidupkan kisah dongeng. Kami ciptakan dunia dengan 
kisah dongeng.

Itu adalah sebagian ”naskah proklamasi” saat Pulau Nami memerdekakan diri sebelas tahun silam. Proklamasi ter- sebut justru di- sambut suka- cita oleh seluruh negeri. Kor- sel tidak lantas kebakaran jenggot dan panas dingin sebagaimana hubungannya dengan Korut (Korea Utara).

Sebab, Republik Naminara memang tak hendak menjadi negara ”sungguhan”. Yang dia nyatakan kemerdekaannya adalah kedaulatan budaya. Dalam brosur-brosurnya, Re- publik Naminara menyebut diri sebagai negara mikro dengan ekspor utama berupa imajinasi dan kisah dongeng.

Pada 15 Oktober itu, saya mengunjungi negara super- kecil tersebut bersama 16 ang- gota Pramuka se-Jatim, pemenang Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2017. DanItaWidyaPratiwi,siswaSM- KN1Turen Kabupaten Malang, adalah salah seorang peme- nang tersebut.

Kesan sebagai negara itu sudah terasa saat para turis mulai menapaki dermaga kapal feri. Gerbang dermaga di sebelah lapangan parkir itu disebut sebagai pintu imig- rasi. Bentuk gerbangnya khas Asia Timur dengan warna tiang merah dan ujung-ujung atap yang melengkung.

Ada bendera Republik Na- minara di situ. Ada simbol bulan dan bintang di situ. Tidak seperti logo partai. Se- bab, bulan sabitnya sangat kurus. Seperti mbulan nanggal sepisan (bulan tanggal pertama), kata orang Jawa.

Sedangkan bintangnya punya delapan sudut, seperti lambang kompas. Bulan dan bintang itu adalah lambang imajinasi yang bisa melayang tinggi hingga ke langit.

Di depan pintu imigrasi itu ada patung buku- buku rak- sasa dengan judul berbagai bahasa. Ada ”buku” berbaha- sa Indonesia juga lho.

Judulnya Sang Kancil, Kerbau, dan Buaya. Untuk bisa melewa- ti pintu imigrasi, pengun- jung harus memegang visa (baca: tiket) se- harga 10 ribu won atau sekitar Rp 120 ribu. Se- telah itu, sebentuk anjungan berlantai kayu akan mengant- arkan pengunjung ke kapal feri yang berangkat tiap 10–20 menit. Feri itu khas. Bentuk atapnya membulat bak kubah. Bagian dalamnya berjendela kaca luas. Sementara tepian kapal dihiasi tiang-tiang den- gan bendera dari puluhan negara di dunia. Kapal yang saya tumpangi punya bende- ra Indonesia di bagian depan- nya. Sang Saka Merah Putih berkibar diapit bendera Thai- land dan Kamboja.

Kapal tersebut bukan satu-sa- tunya cara ma- suk ke negeri dongeng itu. Kalau mau yang ekstrem, pengunjung bisa naik flying fox dari dermaga. Menaranya cukup tinggi, 80 meter. Dan turis akan dilun- curkan pada kabel menuju pulau yang jaraknya hampir 1 kilometer. Kalau mau naik itu, harga visanya adalah 38 ribu won atau sekitar Rp 400 ribu rupiah. Tak sampai lima menit, kapal feri sudah me- rapat ke dermaga Pulau Nami, negeri dongeng yang dibangun atas nama cinta itu... Pulau Nami adalah sebuah tonjolan di tengah-tengah Sungai Han. Ia berbentuk separo lingkaran. Nyaris seperti bulan sabit. Pada 1960-an tanah ”ngang- gur” di tengah- tengah sung- ai itu dibeli Minh Byeong-do, mantan gubernur Bank of Korea. ”Warga mencibir. Ng- apain beli tanah kosong di sungai,” terang Saemi Sin, pemandu lokal yang me- ny- ertai rombongan Pramuka.

Tapi, Byeong-do bertahan dengan keputus annya. Dia justru menanami pulau kecil itu dengan aneka pohon. Mu- lai pinus korea, ginko, maple, hingga metasequoia yang tinggi dan kurus itu.

Dan di awal 2000-an, Pulau Nami mulai menyingkapkan keelokannya untuk publik. Sebuah perusahaan di bidang kepariwisataan dan perhela- tan budaya dibentuk untuk mengelola Pulau Nami.

Nama pulau tersebut diam- bil dari Jenderal Nami, seorang panglima di zaman Dinasti Joseon. Dan makam Jenderal Nami yang berbentuk lapangan berumput halus dengan gun- dukan besar itu adalah salah satu yang bisa disaksikan turis di awal kunjungan. Makam itu terletak di utara pulau, titik awal kedatangan pelancong.

Makin ke dalam, terasa be- tul ”komoditas utama” Re- publik Naminara. Yakni ke- elokan dankecintaanpadaalam.

Jalurpertamayang harus di- lalui turis adalah sebentuk jalan tanah yang diapit pohon pinus korea. Hari itu balon- balon putih menghiasi jalanan tersebut. Di mana-mana tampak pasangan-pasangan yang berfoto berdua.

Yang paling apik, barangka- li, adalah jalur pohon ginko. Pada musim gugur ini, de- daunan benar-benar berwar- na kuning. Suasana pun se- perti di negeri dongeng. Ter- lebih, pada hari kunjungan itu, ada festival budaya ber- tema Alice in Wonderland. Aneka patung dari dunia do- ngeng dihadirkan di lapang- an rumput yang dikelilingi pohon- pohon kuning.

Salah satu titik foto yang juga ikonik adalah jalur met- asequoia yang menjulur dari timur ke barat di sisi selatan pulau. Pohon metasequoia adalah sebangsa cemara rak- sasa. Ia tinggi. Kurus. Saat musim salju, suasana di tem- pat itu menjadi suram, muram, dan misterius.

Hari itu seluruh sudut Pulau Nami rasanya menjadi tempat mewujudkan romantisme. Keluarga-keluarga bersepeda bersama mengelilingi pulau yang juga punya bungalo dan hotel di dalamnya itu. Ada yang naik kereta mini bersama pa- sangan sambil berfoto-foto.

Suara kaok burung gagak terdengar hampir di seluruh pulau. Tupai-tupai besar ter- lihat berlarian dari satu pohon ke pohon lain. Seekor merak jantan juga tampak berjalan malas di sekitar para turis yang bergandengan di bawah pohon. Tak dimungkiri, nama Pulau Nami melejit karena menjadi tempat syuting Winter Sona- ta, drama Korea yang mengu- dara sekitar 15 tahun lalu. Film yang dibintangi Bae Yong- joon dan Choi Ji-woo itu memang sukses besar. Kisah cinta yang diwarnai tragedi dan amne- sia tersebut bikin heboh Korea, Jepang, Malaysia, Thailand, dan tentu Indonesia. Banyak sekali adegan ikonik

Winter Sonata yang diambil di Pulau Nami. Saat para pe- meran utama yang jatuh cin- ta itu saling berkejaran di bawah pohon pinus. Atau saat mereka ber- pelukan di bawah naungan pohon cemara rak- sasa dalam saat bersalju. Ro- mantis banget.

Adegan-adegan itu pun men- jadi ”materi jualan” Pulau Nami. Pada brosur peta, tem- pat- tempat syuting diberi tanda kamera dengan lingka- ran pink. Beberapa titik juga dinamai. Misalnya Winter Sonata First Kiss. Ciuman pertama. Kalau mau mengu- lang romantisme, boleh-boleh saja. Eaaa...

Dan Winter Sonata itu pula yang membuat turis berda- tangan ke Pulau Nami. ”Saya sudah dua kali ke sini. Engg- ak pernah bosan. Dulu pas musim dingin. Ada saljunya, gitu,” ungkap Mariyani Gu- nawan. Perempuan 41 tahun tersebut adalah turis asal Bandung yang datang bersama rombongan keluarga besarnya.

Namun, Pulau Nami memang bukan sekadar gundukan tanah dengan lanskap elok. Ia benar-benar menjaga ”mar- wahnya” sebagai negara bu- daya. Di dalam pulau ada galeri- galeri seni, museum, dan titik-titik seni instalasi luar ruangan.

Dengan begitu, Korsel tentu tidak keberatan kalau Republ- ik Naminara ”merdeka”. Sebab, Pulau Nami ikut mengangkat citra Negeri Ginseng itu seba- gai negara pop dan ramah budaya. Magnet Pulau Nami sebagai objek wisata pun sang- at kuat. Ia bisa menarik kunjung- an rata-rata 3 juta wisatawan tiap tahun atau hampir seribu pengunjung per hari.

Bahkan, Pulau Nami men- jadi langganan agenda-agen- da budaya yang dihelatUNES- CO dan Unicef, badan PBB yang menangani masalah sosial, ekonomi, budaya, dan anak- anak dunia. Itu selaras dengan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Na- minara:

Di Pulau Nami, tempat ke- bahagiaan dan cinta mekar, suara burung, air, dan angin menjadi napas kami. Pada pulau yang bermadah ini, dalam ira- ma yang mengalir bak sungai, kami menyenandungkan tem- bang, tentang satu-satunya negara budaya independen di dalam Republik Korea, tempat kemerdekaan imajinasi dan kreativitas membangun kem- bali mimpi kami. Pulau Nami kini menjadi Republik Naminara. Dan di Pulau Nami, setiap orang adalah warga Namina- ra. (*/c9/ttg) 


Kategori : Features

Komentar