Garuda Indonesia
 

Tamu-tamu Kerajaan Arab Saudi mendapat tempat menginap khusus tepat di sebelah Masjidilharam dengan pengamanan superketat. Berikut laporan wartawan Jawa Pos SITI AISYAH yang ikut rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla menginap di sana. 

TIGA orang berpakaian ihram menenteng sekresek makanan. Sambil mengobrol, mereka berjalan keluar dari Gate Ismail Masjidilharam. Menuju tembok di depannya.

Mereka, tampaknya, hendak beristirahat sebentar. Sembari menyantap makanan yang dibawa. Tapi, belum juga punggung menyandar, askar alias pasukan keamanan Arab Saudi yang berjaga di sekitarnya langsung meminta tiga orang itu untuk pergi. 

’’Haji... haji... go... no, no, go,’’ teriak salah seorang askar sambil menggerak-gerakkan tangannya meminta mereka pergi.

Tembok yang akan disandari tiga jamaah umrah itu memang bukan bangunan biasa. Itu adalah tembok Guest House and Conference Palace, hotel milik pemerintah Saudi. 

Letaknya tepat di sebelah Masjidilharam. Lebih dekat daripada Zamzam Tower yang berada di depan King Abdul Aziz Gate. 

Pengamanan di tempat tersebut memang luar biasa ketat. Para askar yang berjaga pun tak sekadar membawa tongkat. Tapi bersenjata lengkap.

Sebab, Guest House and Conference Palace bukanlah hotel biasa. Tak sembarang orang bisa menginap. Hanya tamu-tamu kerajaan dan rombongannya yang bisa tinggal di dalamnya. 

Di seluruh tembok yang mengelilingi bangunan utama terdapat gambar dilarang memotret. Kamera CCTV juga bertebaran dengan jarak beberapa meter satu sama lainnya.

Sabtu malam (21/10) hingga Senin siang (23/10) rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), termasuk Jawa Pos, tinggal di penginapan ’’khusus’’ tersebut. JK dan istri, Mufidah, menunaikan ibadah umrah. 

Sejatinya, mereka sudah memesan penginapan di Hilton Suites Makkah. Namun, Kerajaan Saudi mendengar kedatangan orang nomor dua di Indonesia tersebut. Mereka lantas menawarkan untuk menginap di Guest House and Conference Palace. Saat itu rombongan sudah berada di Madinah. Tawaran tersebut diterima JK. 

Itu adalah kali pertama JK menginap di Guest House and Conference Palace. Presiden Joko Widodo bahkan belum pernah menginap di sana. Orang nomor satu di Indonesia tersebut belum dilantik sebagai presiden saat menunaikan ibadah umrah pada 2014.

Sejak datang, orang yang masuk diperiksa satu per satu. Ada alat pendeteksi metal yang dipasang di pintu masuk. Di sampingnya ada mesin X-ray untuk memeriksa barang bawaan.

Sekitar satu jam kemudian, masing-masing rombongan diberi kartu identitas lengkap dengan foto masing-masing. Kartu itu melekat di tali hijau dengan logo Kerajaan Arab Saudi. Tanpa kartu itu, jangan harap bisa masuk ke Guest House and Conference Palace. 

Ada dua gerbang untuk memasuki kompleks Guest House and Conference Palace tersebut. Yang pertama menghadap Jalan King Abdul Aziz. Sedangkan yang kedua menghadap Ismail Gate Masjidilharam. 

Ismail Gate tidak menghadap ke jalan besar. Jadi, relatif lebih sepi. Untuk lalu-lalang dengan berjalan kaki, pintu kedua lebih sering dipakai. Sedangkan pintu pertama biasanya dipakai untuk keluar masuk dengan kendaraan.

Bagi ’’penghuni’’ Guest House and Conference Palace, berlalu-lalang cukup keluar dari lobi, belok kiri sedikit, dan ada lift untuk turun. Di samping lift bagian atas ada askar lengkap dengan kendaraan militer yang berjaga. 

Begitu sampai di bawah, ada yang membukakan pintu gerbang. Sekitar 40–50 langkah dari gerbang tersebut, sudah sampai di Ismail Gate Masjidilharam.

Jika ingin belanja, tinggal belok ke arah kiri dan langsung menuju pertokoan serta mal di Zamzam Tower dan sekitarnya. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari gerbang kedua tadi. 

Sebaik apa pun mengingat untuk selalu membawa kartu pengenal, tetap saja ada anggota rombongan yang lupa. Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Husain Abdullah menceritakan, seusai belanja, dirinya bertemu dengan dua ibu yang lupa membawa kartu identitas. 

Saat itu Husain bersama dokter pribadi Wapres Kolonel Laut (P) dr Tanto Budiharjo SpJP. Dua ibu itu terlihat begitu cemas. Tapi hanya bisa berdiri sekitar 200 meter dari gerbang yang berhadapan dengan Masjidilharam. 

’’Saya katakan saja, ayo Bu saya temani. Insya Allah, nanti ada jalan,’’ kenang Husain.

Mereka berempat lantas berjalan menuju gerbang masuk itu. Tak disangka, tepat di depan para askar, dr Tanto terpeleset dan jatuh terjerembap.

Dua askar yang berjaga langsung sibuk menolong. Saat itulah Husain meminta dua ibu tadi diam-diam masuk ke dalam gerbang. ’’Tidak ada skenario, dokter Tanto benar-benar terpeleset. Ya itu namanya kuasa Allah. Ini kan Tanah Suci,’’ tuturnya saat transit di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh, Selasa (24/10).

Pengamanan di gerbang luar itu memang lebih fokus untuk menyaring siapa yang boleh masuk dan yang tidak. Sedangkan pengamanan di dalam lebih fokus pada barang bawaan. 

Semua yang dibawa masuk ke kamar harus melewati mesin X-ray. Beda petugas, bisa beda cara pemeriksaannya. 

Salah satu anggota tim media Wapres, Ade Dwi Irawan, misalnya, pernah merasakan sendiri perbedaan cara pemeriksaan itu. Ke mana-mana dia biasanya selalu membawa tas kecil berisi dompet, zamzam dalam botol, HP, serta beberapa peralatan lain. 

Pada hari pertama dan kedua, tidak ada masalah saat tasnya melewati X-ray. Tapi, hari terakhir menjelang kepulangan, Senin pagi (23/10), askar yang bertugas lebih ketat. 

Dia meminta Ade mengeluarkan semua isi tas kecilnya yang baru lewat X-ray. Setelah dilihat tidak ada hal yang membahayakan, baru dia diperbolehkan masuk. ’’Padahal, isinya ya sama saja seperti yang kemarin,’’ ujarnya. 

Khusus untuk JK, ada dua askar yang ditugaskan berjaga di depan pintu kamarnya. Jika ingin turun ke Masjidilharam untuk beribadah, setidaknya 10 askar mengawal untuk pengamanan. 

Kamar ’’biasa’’ Guest House and Conference Palace tak jauh berbeda dengan hotel bintang lima pada umumnya. Hampir seluruh lampu yang menghias kamar dan ruangan lainnya terbuat dari kristal. 

Terdapat kulkas kecil yang berisi jus dan air putih. Yang kurang hanya pemanas air dan kopi serta teh. Jika ingin minum kopi maupun teh, harus menunggu jam makan atau beli di luar. Makanan tersedia tiga kali dalam sehari.

Kamar yang dihuni JK dan istri tentu saja berbeda dengan para staf dan rombongan lainnya. Ada ruang kerja yang terpisah dari kamar dan ruang tamu. Selain itu, kamar di lantai 12 tersebut memiliki musala khusus. Dari musala itu, orang bisa melihat Kakbah secara langsung. 

Rombongan lain bisa mendapatkan pemandangan serupa. Ada musala umum yang terletak di lantai 15. Dari musala tersebut, tampak kemegahan Masjidilharam dengan Kakbah di dalamnya.

Ada satu lagi keistimewaan tinggal di Guest House and Conference Palace. Tamu bisa minum atau mengisi air zamzam sepuasnya tanpa perlu datang ke Masjidilharam yang selama ini juga menyediakan tempat khusus untuk itu. Ada dua tempat zamzam yang diletakkan di samping kanan-kiri musala. 

Dua lainnya berada di dekat lift yang menuju ke Masjidilharam. ’’Setelah melakukan operasi intelijen, kami berhasil mengamankan zamzam,’’ kelakar salah satu anggota rombongan seusai mengisi zamzam di musala. (*/c5/ttg)


Kategori : Features

Komentar