Garuda Indonesia
 

Hidup saya rasanya tidak terlalu lucu. Keluarga saya juga tidak terlalu lucu. Mungkin hidup Anda dan keluarga Anda jauh lebih lucu. Semua orang mungkin punya momen-momen yang lucu dalam kehidupan pribadi dan keluarganya. Dengan tingkat kelucuan dan frekuensi lucu yang berbeda-beda.

Dan tingkat kelucuan merupakan sesuatu yang subjektif. Lucu bagi seseorang mung­kin tidak lucu bagi yang lain. Bahkan, yang dianggap lucu itu justru mengundang amarah bagi orang lain.

Kelucuan di tingkat keluarga mungkin asyik dibahas. Apalagi bagi mereka yang punya keluarga muda, dengan anak-anak yang masih kecil.

Ada teman pernah bilang, nikmatilah anak-anak saat mereka masih kecil dan lucu. Karena kalau disia-siakan, nanti tidak terasa masa lucu itu sudah lewat dan kita tidak bisa mengulanginya lagi.

Walau kesibukan membuat saya tidak bisa intens dengan anak-anak, saya masih mendapatkan satu-dua momen yang menggelitik itu. Saya juga sering mendengar cerita lucu dari teman/keluarga lain, yang juga punya anak-anak yang masih kecil.

Kebanyakan berkaitan dengan sekolah.

Di sekolah, anak-anak kecil tampaknya seperti wajib mendapatkan kuis soal keluarganya sendiri. Misalnya; nama ayah siapa, nama ibu siapa, pekerjaan ayah apa, peker­jaan ibu apa, dan lain-lain yang seperti itu.

Entah kenapa semua itu harus ditanyakan kepada sang anak. Mungkin untuk double check karena sekolah mungkin tidak percaya dengan formulir yang diserahkan orang tua bersama uang pembayaran.

Wkwkwkwk…    

Tentu saja, tidak ada masalah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan anak-anak kecil mungkin juga belum tentu tahu apa pekerjaan orang tua mereka yang sebenarnya.

Berdasar apa yang mereka lihat dan apa yang mereka tahu (secara terbatas), muncullah jawaban-jawaban yang ternyata seru.

Anak saya yang paling kecil misalnya. Ketika ditanya ayah bekerja untuk apa, maka jawabannya, ’’Cari uang.” Tapi ketika ditanya lagi uangnya untuk apa, jawabannya ternyata, ’’Untuk ayah.”

Ya, begitu itu jadinya kalau ayah dan anak-anaknya sama-sama suka beli mainan…

Bagi para ayah, mungkin pertanyaan itu tidak terlalu menakutkan. Setelah dapat cerita kanan-kiri, pertanyaan-pertanyaan sekolah untuk anak itu mungkin lebih mendebarkan bagi para ibu.

Ada teman saya yang anak kecilnya dapat kuis serupa di sekolah. Hobi ayah? ’’Main sepeda.” Hobi ibu? ’’Makan dan tidur.”

Wkwkwkwk…

Lalu, ada lagi yang sharing cerita serupa. Sang anak ditanyai tugas ayah dan ibunya. Tugas ayah? ”Cari uang.” Tugas ibu? ”Main hape!”

Super-wkwkwkwkwkwk…

Hayooo, siapa yang seperti itu?

Saya yakin masih banyak cerita serupa yang jauh lebih lucu. Menurut saya, itu ironis karena ibu-ibu kayaknya lebih serius dalam menjaga penampilan dan gaya, tapi image-nya justru paling gampang bocor atau runtuh dari anaknya sendiri!

Wkwkwkwk…

Bicara soal keluarga lucu, saya harus angkat topi pada tamu saya yang baru datang dari Jerman. Dia baru dua tahun pensiun jadi pembalap sepeda profesional kelas dunia.

Namanya Jens Voigt, umur 44. Dia pernah jadi juara dunia amatir, pernah memegang rekor dunia, pernah 17 kali ikut Tour de France, dan pernah-pernah luar biasa yang lain.

Orang yang satu ini benar-benar penuh energi. Kalau sedang nongkrong atau makan, atau bahkan saat bersebelahan di atas sepeda, dia senang bercerita atau ”adu” cerita lucu.

Khususnya tentang keluarga.

Keluarga dia memang seru. Di rumahnya, dia mengasuh enam anak, tiga anjing, satu kucing, tujuh kelinci, dan seorang ibu mertua.

Yang mana yang paling merepotkan? ’’Anjing yang paling kecil. Suka buang air di sana-sini. Tapi, ibu mertua saya sedang berjuang keras untuk menjadi nomor satu (paling merepotkan),” jawabnya lugas.

Sebagai orang yang jarang di rumah (tahun lalu saja dia 200 hari keliling dunia/di luar rumah dalam setahun), Voigt sangat menyadari posisinya sebagai penyedia kebutuhan. Dia juga mengagumi istrinya yang harus bekerja keras untuk menjaga rumah tangga.

Jadi, ketika keluarga ingin punya banyak binatang peliharaan, dia tidak keberatan. Bahkan, dia ikut berperan mengasuh semuanya.

’’Pernah, saya baru saja menyelesaikan Giro d’Italia, salah satu lomba terberat di dunia. Tiga pekan berlomba, menempuh lebih dari 3.500 km. Minggu habis lomba saya langsung pulang, jam 10 malam sampai rumah. Eh, bukannya disambut hangat, malah dimintai tolong membawa anjing jalan-jalan. Padahal, satu rumah tidak ada yang bekerja dan saya baru saja balapan 3.500 km!” ceritanya kocak.

Meski demikian, soal binatang peliharaan ini, Voigt menyebut ada batasannya.

’’Pernah suatu waktu, saya mendengar anak-anak saya bicara soal memiliki kuda peliharaan. Nah, itu batasannya. Anjing, oke. Kuda, tidak. Dan saya mengingatkan ke istri, kalau sampai menuruti kemauan anak, maka pembelian kuda itu akan disertai dengan surat permohonan cerai,” tuturnya dengan gaya jenaka.

Tentu saja semua yang mendengar tertawa terpingkal-pingkal.

Cerita lucu tidak hanya di situ. Bahwa dia punya enam anak itu saja memberi cerita-cerita yang lucu.

”Anda ingat mesin faks bukan? Waktu saya masih berusia 22 tahun, pacar saya belum jadi istri saya. Dia mengirimi saya berlembar-lembar faks untuk memberi tahu bahwa dia sedang hamil,” kenangnya.

Kemudian, setelah punya empat anak, mereka sebenarnya sudah merasa cukup. Dua laki-laki, dua perempuan. Sudah ”seimbang.” Rumah baru pun dirancang untuk empat anak. Tapi, suatu waktu, dia tiba-tiba iseng bertanya kepada istri, ”Honey, kamu tidak hamil lagi bukan?”

Jawaban sang istri? ”Normalnya sih tidak”

Saat itu juga, Voigt langsung punya feeling kalau anaknya bakal bertambah… Dan kemudian berlanjut jadi enam…

Cerita terakhir Voigt bisa bermanfaat bagi para suami yang sering diomeli istri karena terlalu sering membeli barang hobi.

Suatu waktu, istrinya bepergian dan Voigt kebagian tugas menjaga anak-anak. Ternyata, anak-anaknya malah bermain-main dengan lemari berisi tas-tas sang istri.

Maunya ikut merapikan, Voigt malah geleng-geleng kepala. Tasnya ada puluhan dan bermerek semua. Louis Vuitton, Prada, dan lain sebagainya. ”(Nilai) satu mobil Porsche saya ada di dalam lemari itu!” kenangnya.

Ketika sang istri pulang, Voigt pun menanyakan soal tas-tas tersebut. Apa jawaban sang istri? ”Wah, saya sendiri tidak sadar tasnya ada sebanyak itu…”

Wkwkwkwk…

Saat makan malam itu, usai terpingkal-pingkal mendengar cerita-ceritanya, saya usul ke Voigt untuk jadi stand-up comedian saja. Cukup cerita soal keluarga saja pasti lucu.

Sebelum ini, dia sudah menerbitkan buku tentang kehidupan cyclist berjudul Shut Up Legs!. Mungkin setelah ini bukunya harus murni soal keluarga!

Saya sendiri punya cita-cita bikin sitkom yang belum kesampaian. Bikin soal keluarga lucu saja kali ya? (*)


Kategori : Happy Wednesday

Komentar