Garuda Indonesia
 

MALAYSIA- Bencana di GP Singapura dua pekan lalu membuat superstar Ferrari Sebastian Vettel hanya punya satu pilihan menghadapi sisa enam balapan di akhir musim ini. Harus tampil agresif di setiap lomba demi memaksimalkan peluang meraih hasil maksimal untuk mempertahankan peluang juara hingga musim berakhir di Abu Dhabi. Sudah tertinggal 28 poin di klasemen pembalap, Vettel harus membalap tanpa beban di Malaysia akhir pekan ini.

Tragedi menyesakkan di lap pertama GP Singapura membalik peta persaingan perebutan gelar juara dunia Formula 1 musim 2017. Mei lalu Vettel-lah yang berada di posisi Hamilton saat ini. Unggul 25 poin di puncak klasemen pembalap, menempatkan Vettel menjadi favorit juara untuk kali pertama sejak bergabung dengan skuat Kuda Jingkrak. Sungguh sayang, tabrakan di lap pertama GP Singapura yang melibatkan dirinya, rekan satu timnya Kimi Raikkonen, dan bintang muda Red Bull-TAG Heuer Max Verstappen memupuskan mimpi itu.

Ferrari, juga Vettel, memiliki segalanya untuk membuat Hamilton menangis di Singapura. Kakter sirkuit jalanan Marina Bay yang sempit dan menuntut downforce mobil maksimal menguntungkan posisi Ferrari ketimbang Mercedes. Vettel juga sukses menyabet pole position yang menjadi faktor penting di Singapura karena sulitnya menyalip di trek sempit.

Masih ada lagi. Hamilton hanya mampu start di posisi kelima setelah tampil jelek di sesi kualifikasi. Dengan kondisi tersebut, Vettel hanya butuh balapan dalam kondisi normal untuk bisa meraih kemenangan. Satu kemenangan saja di Singapura sudah pasti akan membawa Vettel kembali klasemen pembalap. Tak peduli finis di posisi berapapun Hamilton. Karena saat itu Hamilton hanya unggul tiga poin.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Bahkan Vettel masih layak bersyukur race direction tidak mengganjarnya dengan penalti. karena banyak pengamat, termasuk mantan pembalap F1 Jacquez Villeneuve, menganggap Vettel-lah satu-satunya pihak yang layak disalahkan dalam insiden tersebut.

Red Bull yang protes kepada race direction karena menganggap Vettel merusak balapan Verstappen harus gigit jari. Skuat Milton Keynes itu bahkan menuduh keputusan “bebas tanpa penalti” tersebut berbau politik lantaran Vettel sedang dalam posisi berburu gelar juara dunia kontra Hamilton.

Vettel lebih beruntug lagi karena di Malaysia akhir pekan ini dia tidak perlu menghadapi penalti grid. Tabrakan yang terjadi di Singapura tidak merusak mesinnya. Andai terjadi kerusakan pada elemen utama mesinnya akibat insiden tersebut, misalnya gearbox dan Ferrari harus menggantinya dengan yang baru, penalti 10 grid sudah menantinya.

Ferrari sadar betul dengan situasi sulit yang dihadapinya saat ini. Menganggap GP Malaysia hanya “another race” jelas bukan pilihan tepat. Karena itu jika melihat pilihan ban yang akan dipakai dua pembalapnya akhir pekan ini, terang sekali skuat Kuda Jingkrak bakal tampil agresif. Baik Kimi dan Vettel diketahui menumpuk sembilan set ban ultrasoft dari 13 yang dialokasikan. Ini menjadi sinyal bahwa Ferrari bakal fokus mendapatkan setingan terbaik untuk pilihan ban paling lunak dan tercepat tersebut.

Pilihan ini memang terbilang berani. Dengan permukaan Sirkuit Sepang yang masih relatif baru, karena baru diaspal ulang awal tahun lalu, berarti akan berdampak besar pada umur ban. Aspal baru akan memakan permukaan ban lebih ganas. Tapi Vettel adalah pembalap yang handal dalam manajemen ban. Plus mobil Ferrari punya chassis apik dalam urusan menghemat ban.

Selain itu, suhu panas selalu menjadi tantangan tersendiri di Sepang. Rata-rata temperatur udara di atas 30 derajat celsius dengan tingkat kelembapan di atas 70 persen. Situasi ini akan menguntungkan Ferrari, karena mobil mereka selalu punya kans lebih besar jika bertarung di bawah kondisi panas. Tapi peluang untuk turun hujan juga besar. Vettel menang di Sepang 2015 silam karena bantuan hujan.

Satu lagi yang perlu diingat, mesin Hamilton jebol di Sepang tahun lalu. Jadi, apapun masih bisa terjadi. Karena balapan Vettel juga usai di lap pertamanya tahun lalu setelah bersenggolan dengan Nico Rosberg. ''Saya percaya peluang itu masih ada. Jangan pernah mengatakan tidak,'' ucap Vettel.

Di sisi lawan Mercedes datang dengan modal hebat. Menang di empat dari lima seri terakhir sudah cukup membuktikan jika pengembangan mobil mereka lebih maju dari Ferrari. Ditambah karakter sirkuit Sepang yang cepat dan mengalir, plus didominasi trek lurus adalah medan perburuan bagi tim pabrikan Jerman itu.

''Hasil GP Singapura benar-benar di luar perkiraan kami. Tapi hasil seperti itu justru bisa membuat kita lalai dan salah menilai level performa kami yang sebenarnya. Karena itu kami tidak akan mengubah pendekatan kami menghadapi enam balapan tersisa. Kami harus tetap berada pada top performa jika ingin mempertahankan keunggulan ini,'' ucap Bos Mercedes Toto Wolff dalam rilis resmi yang diterima Jawa Pos.

Tapi rekor Hamilton tak seberapa hebat di Sepang. Benar, dia selalu meraih pole position di tiga musim terakhir. Namun hanya satu yang bisa dikonversi menjadi kemenangan. Yakni pada 2014 dimana pembalap Inggris itu sedang mendominasi F1. Dari 10 kali start di Sepang, hanya sekali Hamilton juara. (cak)


Kategori : Sport

Komentar