Garuda Indonesia
 

Salah satu tokoh penting dalam sejarah operasi jantung di Indonesia adalah Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV. Tetapi, siapa menyangka bahwa ahli bedah jantung RSUD dr Soetomo Surabaya itu juga pernah menjalani operasi jantung Bentall. Nama besarnya membuat banyak center jantung terkemuka di luar negeri menawarkan jasa untuk mengoperasi Prof Puruhito. Namun, yang bersangkutan lebih memilih operasi di Surabaya. Mengapa?

Laporan Dwi Wahyuningsih

Tidak semua yang menjalani operasi jantung adalah orang yang menderita penyakit jantung. Ada juga yang jantungnya perlu dioperasi karena kelainan bawaan yang parah. Di antara mereka yang memerlukan operasi jantung akibat kelainan bawaan itu, ternyata ada Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV. 

Siapa pun pasti tidak percaya bahwa Prof Puruhito yang akrab dipanggil Prof Ito terlahir dengan kelainan bawaan.

’’Sejak lahir nadi saya lebih cepat dari normal. Ini keturunan,’’ jelas Prof Ito kepada Jawa Pos.

Normalnya, denyut nadi manusia saat sedang tidak berolahraga adalah 50–70 kali per menit. Yang terbaik adalah bila denyutnya berkisar 50–60 kali.

Namun, denyut nadi Prof Ito jauh di atas itu. Yakni, 80–90 kali per menit. Itu saat sedang santai. Karena itu, bisa dibayangkan berapa denyut nadinya saat berolahraga atau saat tegang mengingat profesinya sebagai ahli bedah jantung.

Meski begitu, hampir sepanjang hidupnya selama 72 tahun, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya 1967 tersebut tidak pernah punya keluhan apa pun yang terkait dengan jantungnya. Apalagi gaya hidup Prof Ito sangat sehat.

Buktinya, dia pernah lolos seleksi calon astronot pertama Indonesia hingga tahap terakhir pada 1985. Saat itu yang terpilih adalah Dr Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Sayang, misi ke luar angkasa tersebut tidak berlanjut sehingga doktor bidang rekayasa genetika dan bioteknologi itu pun tidak pernah diberangkatkan.

Tetapi, apa pun yang tidak normal pada akhirnya akan menimbulkan suatu gangguan. Begitu juga yang dialami Prof Ito yang meraih gelar doktor (PhD) pada 1972 di Erlangen, Jerman. Betapa pun pandai dia menjaga kesehatan, nadinya yang terlalu cepat ditambah perjalanan usia membuat pembuluh aorta dan katupnya mengalami gangguan.

Meski kasusnya sama-sama pembuluh aorta, kondisi Prof Ito berbeda dengan Ismail yang baru saja menjalani operasi Bentall.

Yang membedakan, aorta ahli bedah dada dan pembuluh darah lulusan Jerman itu tidak robek, tetapi menggembung. Atau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan aneurisma.

Aneurisma juga bukan kondisi yang tidak mematikan. Bila tidak segera ditangani, pembuluh darah yang menggelembung itu akan pecah dan menimbulkan pendarahan hebat yang mematikan. Sebab, dinding pembuluh yang menggelembung tersebut sudah sangat menipis.

Bukan hanya itu akibat kelainan bawaan yang dialami Prof Ito. Selain aortanya menggelembung, katup jantungnya bocor. Secara medis disebut regurgitasi klep.

Masih ada satu kelainan lagi di jantung Prof Ito yang juga merupakan akibat terlalu cepatnya denyut nadi. Yakni, pembesaran jantung (cardiomegali) hingga 15 persen dari ukuran normal.

Hal itu diketahui saat Prof Ito melakukan checkup pada November 2015. Salah satu pemeriksaannya adalah ECG alias echo-cardiography. Dengan metode itu, apa pun kelainan di jantung bisa langsung diketahui.

Karena sudah ketahuan ada yang bocor dan aneurisma, pemeriksaan dipertegas dengan melakukan MRI. Itu merupakan metode pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih detail kelainan jantungnya.

Melihat hasil dua pemeriksaan itu, Puruhito yang meraih gelar profesor di bidang bedah jantung pada 1997 tahu bahwa sebenarnya gangguan jantung dan pembuluh darahnya bisa diatasi dengan obat.

’’Anak saya sempat tanya, kenapa nggak pakai obat saja? Ya saya bilang, kalau pakai obat, paling bisa bertahan dua tiga tahun. Tapi, kalau operasi, aorta dan katupnya diganti, secara teori bisa bertahan hingga 20 tahun. Semoga Tuhan mengizinkan. Amin,’’ ungkapnya.

Meski guru besar FK Unair Surabaya yang selama delapan tahun ini menjabat ketua Majelis Penelitian Dikti Kemendikbud itu sudah menetapkan hati untuk operasi, dia tidak berencana melakukannya pada 2016. 

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Itu pula yang terjadi pada Prof Ito. Saat akan berangkat ke Jerman untuk suatu kepentingan, banyak muridnya yang mencegah dan menyarankan agar tidak terbang sejauh itu sebelum operasi. Mereka rupanya melihat ada yang mencurigakan pada penampilan Prof Ito. 

Karena yang menghalanginya untuk pergi dan mendesak untuk segera operasi cukup banyak, Prof Ito pun mengalah: Batal pergi dan setuju untuk menjalani operasi.

Karena Prof Ito adalah ahli bedah jantung yang tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga di banyak negara, saat kabar tentang operasi beredar, tawaran pun berdatangan dari banyak ahli hebat di negara-negara maju. Antara lain, Jerman yang merupakan tempat Prof Ito meraih PhD di bidang bedah jantung.

Selain itu, ada tawaran dari Malaysia dan Australia. ’’Saya tahu bagaimana hebatnya mereka-mereka itu,’’ kenangnya.

Namun, Prof Ito juga yakin atas kemampuan anak-anak didiknya yang kini sudah menjadi tim bedah jantung kenamaan di Surabaya. Karena itu, dia lantas memilih untuk menjalani operasi di Surabaya.

Karena keputusan untuk operasi di Surabaya itu sudah tidak bisa diubah, Prof Dr Phillip Spratt AM yang ahli bedah jantung ternama dari Sydney, Australia, pun ’’mengalah’’. Dia datang ke Surabaya untuk mendampingi para mantan murid Prof Ito yang akan membedah jantung sang guru besar.

Mengapa Spratt merasa perlu mendampingi tim bedah jantung Surabaya yang Prof Ito sendiri tidak meragukan kemampuannya?

Sebab, jenis operasi yang harus dilakukan terhadap Prof Ito bukan sekadar operasi jantung. Tetapi operasi jantung prosedur Bentall. Operasi jantung paling sulit di dunia dan paling berisiko. Tim Surabaya pun belum berpengalaman sama sekali dalam hal itu.

’’Saya sempat tanya ke Spratt tentang risiko yang saya hadapi kalau saya operasi di Sydney dan di Surabaya. Dia bilang, kalau di sana, risikonya tidak lebih dari 2 persen. Tetapi, kalau di sini, bisa sampai 5 persen. Saya berpikir positif, kan kemungkinan berhasilnya masih 95 persen kalau di sini. Maka saya tetap memilih operasi di sini, di Surabaya,’’ kenangnya.

Meski aorta mantan rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu tidak robek seperti Ismail, karena katup aortanya juga perlu diganti, operasinya harus menggunakan prosedur Bentall.

Dengan prosedur tersebut, penanganan aorta yang sudah menggelembung bisa dilakukan sekaligus dengan penggantian katup aorta yang merupakan akar pembuluh darah terbesar itu. 

Seperti yang sudah disebutkan di bagian satu dan dua tulisan ini, aorta adalah bagian terbesar dari pembuluh arteri. Pembuluh darah itu berfungsi sebagai pengantar darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk mengatasi kelainan jantung dan pembuluh darah guru besar yang kini berusia 73 tahun itu. Satu jam lebih cepat daripada operasi Ismail.

Sebab, Prof Ito tidak membutuhkan penggantian aorta arch seperti halnya Ismail. Namun, karena jenis operasinya sama-sama Bentall, yang dilakukan tim dokter bedahnya sama. Yakni, memperbaiki aorta asendens, lantas mengganti katup aorta, memotong pembuluh darah koroner yang posisinya di dekat pangkal, dan menyambungkannya kembali di akhir prosedur.

Selama operasi dilakukan, fungsi jantung dan paru-paru Prof Ito juga dialihkan ke mesin heart lung. Sama dengan Ismail.

Tetapi, karena tanpa penggantian aorta arch, tim dokter tak perlu menghentikan aliran darah di tubuh profesor kelahiran 1943 itu. Jadi, tidak seperti pada Ismail.

Operasi tersebut dilakukan oleh hampir seluruh anggota tim yang menangani Ismail. Hanya, saat itu mereka didampingi Prof Spratt. Sedangkan dalam kasus Ismail, tim Surabaya melakukannya sendiri. Tanpa bantuan ahli asing mana pun.

Operasi terhadap Prof Ito dimulai sekitar pukul 10.00 dan berakhir pukul 18.00. 

Karena secara umum tubuhnya sehat, meski usianya saat itu sudah mencapai 72 tahun, dalam tempo empat jam setelah operasi, pria kelahiran Kediri tersebut sudah bisa bernapas sendiri. Tanpa bantuan mesin napas lagi. Sungguh kemajuan yang luar biasa.

’’Sekitar jam 10 malam, sudah saya ekstubasi,’’ kata dr Philia Setiawan, ahli anestesi dan konsultan ICU yang juga menangani Ismail.

Beberapa hari di rumah sakit, Prof Ito diizinkan pulang. ’’Saya cuma istirahat enam minggu di rumah,’’ ungkapnya.

Itu juga perkembangan yang luar biasa. Sebab, secara teori, orang yang baru saja menjalani operasi Bentall baru boleh beraktivitas penuh setelah 12 minggu.

’’Begitu keluar dari rumah, saya langsung kerja dan mengerjakan operasi,’’ tambah Prof Ito.

Berangkat kerja pun, dia sudah menyetir mobil sendiri. ’’Kebetulan, sopir saya hari itu sedang tidak masuk karena sakit,’’ ujar bapak empat anak tersebut. (*)


Kategori : Features

Komentar